Selasa, 29 September 2015

MENINJAU PERISTIWA JATUH REBAH DALAM PENTAKOSTA MODERN Oleh: Calvin Dachi

MENINJAU PERISTIWA JATUH REBAH DALAM PENTAKOSTA MODERN 
Oleh: Calvin Dachi



Salah satu fenomena yang menarik dalam kalangan Pentakosta adalah peristiwa orang “jatuh” setelah penumpangan tangan.  Peristiwa orang terjatuh ini kelihatannya belum pernah diselidiki secara serius.  Karena tidak pernah diselidiki, maka tentu saja belum ada penjelasan yang memuaskan tentang peristiwa orang jatuh rebah ini.  Penjelasan yang diberikan lebih bersifat spekulatif bernada “barang kali …”  atau  “mungkin karena …”  Tulisan ini juga tidak bermaksud memberi jawaban yang pasti, tetapi mencoba memberi wawasan dalam memahami fenomena tersebut.


Awal mula peristiwa Jatuh rebah dalam Pentakosta Modern
Vinson Synan dalam bukunya The Century of the Holy Spirit: 100 Years of Pentecostal and Charismatic Renewal, mencatat bahwa peristiwa orang jatuh itu sudah terjadi dalam kebangunan rohani di Welsh tahun 1904 oleh Evan Roberts.  Synan mencatat bahwa dalam minggu-minggu pertama kebangunan rohani ini, banyak orang mengklaim telah dibaptis dalam Roh Kudus.  Pengalaman ini diiringi dengan sorak sorai, tertawa, menari, orang-orang yang jatuh di bawah kuasa, tangisan, berbicara dalam bahasa yang tidak diketahui dsb. 
Catatan berikutnya tentang peristiwa orang jatuh dalam ibadah juga terjadi dalam ibadah di Azussa Street (1906).   Synan menyatakan, pada awalnya “Seymour dan tujuh orang lainnya jatuh ke lantai dalam luapan kegembiraan yang religius, berbicara dengan bahasa yang lain.”  Dan setelah itu,  Synan mengatkan bahwa Orang melaporkan kejatuhan di bawah kuasa Allah dan menerima baptisan Roh Kudus dengan bukti berbahasa roh saat mendengarkan khotbah Seymour dari seberang jalan. 

Kilas Balik Pelayanan
Peristiwa orang jatuh rebah ini mengingatkan penulis kembali pada masa pelayanan di BNKP Tapanuli Selatan sekitar tahun 2005/2006.  Saat itu, penulis menggembalakan sebagai Pendeta Distrik dengan lebih 30 pos pelayanan.  Dalam pelayanan di jemaat cabang (pos pelayanan), biasanya penulis melayankan Perjamuan Kudus.  Kebiasaan di gereja tersebut, Perjamuan Kudus diadakan di altar, dimana jemaat maju secara bergiliran untuk memakan roti dan minum anggur perjamuan.  Saat melayani Perjamuan Kudus, tiba-tiba salah seorang jemaat jatuh rebah setelah minum anggur Perjamuan.  Tentu saja hal ini sangat mengejutkan saya dan menyebabkan saya  bingung karena saya tidak pernah diperlengkapi untuk menghadapi hal seperti ini.  Kemudian saya suruh jemaat membawa orang tersebut pulang setelah mendoakan orang tersebut. 
            Beberapa tahun yang lalu, saya juga mendapat video tentang pelayanan Reinhard Bonke.  Dalam video ini, dia menceritakan pelayanannya di Afrika.  Dia mengatakan bahwa dia melihat secara rohani adanya gelombang Roh dan ketika itu melewati kerumunan orang yang hadir dalam KKRnya, mereka semua berjatuhan dan rebah.

Peristiwa Orang Jatuh Rebah dalam Alkitab
            Kemajuan teknologi memudahkan penulis untuk mencari ayat-ayat yang menunjuk pada peristiwa orang jatuh rebah karena alasan rohani.  Catatan pertama tentang orang yang jatuh rebah karena alasan rohani adalah dalam 1 Sam 19:24.  Dalam ayat itu dikatakan bahwa Saul “menanggalkan pakaiannya, dan iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya orang berkata: "Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?"”  Ayat Ini adalah satu-satunya referensi yang memperlihatkan gejala “kepenuhan Roh Allah” di kalangan nabi-nabi Israel.  Peristiwa kepenuhan Roh itu juga terjadi ketika Tuhan menaruh sebagian Roh yang hinggap pada Musa dan menaruhnya atas tujuh puluh tua-tua Israel.  Dikatakan dalam Bil 11:25b ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi.


Peristiwa kedua yang dicatat dalam Alkitab adalah berkaitan dengan ketika Tuhan Yesus menyatakan diri kepada Paulus dalam perjalanan ke Damaskus.  Dalam Kis 26:13-14 dikatakan bahwa “aku (Paulus) melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku.
KAMI SEMUA REBAH ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.”  Yang menarik dalam peristiwa ini, semua orang yang bersama dengan Paulus rebah,  tetapi dari antara semua yang rebah itu hanya Saulus melihat cahaya  dan mendengar suara Yesus.  


Sebuah Analisa Sederhana
Cukup menarik bahwa sejak awal Pentakosta modern, peristiwa orang jatuh rebah diklaim sebagai adanya kuasa Allah atau lawatan nyata dari Roh Allah.  Di Azussa Street, kita melihat bahwa fenomena orang jatuh terjadi saat ibadah atau saat mendengarkan khotbah.  Cukup menarik disini bahwa tidak disebut mengenai penggunaan minyak urapan atau penumpangan tangan.  Orang-orang yang belum mendapat lawatan dari Roh Allah atau Roh Kudus, akan disuruh untuk naik ke lantai dua geduang Azussa Street dan berdoa di sana sampai mengalami lawatan Roh. 
            Dalam Alkitab, kita hanya mendapat sedikit informasi mengenai peristiwa jatuh rebah ini.  Dalam Perjanjian Lama, rupanya peristiwa orang jatuh rebah seperti itu merupakan gejala yang umum terjadi di kalangan para nabi.  Orang Israel pada umumnya dianggap sudah mengetahui hal ini sehingga penulis Alkitab tidak menyebutkan lagi tentang peristiwa jatuh rebah itu dalam  catatan tentang “kepenuhan Roh Allah” ini.  Namun, fenomena ini terungkap dalam peristiwa yang dialami raja Saul dan secara khusus dicatat karena kepenuhan Roh dengan gejala jatuh rebah ini dialami bukan oleh seorang nabi tetapi oleh seorang raja. 
            Sedangkan dalam Perjanjian Baru, kita tidak mendapatkan informasi bahwa orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus mengalami jatuh rebah.  Justru yang mengalami jatuh dan rebah adalah Saulus (sebelum bertobat) dengan orang-orang beserta dia ketika Tuhan Yesus menyatakan diri kepada Saulus.  Dan yang menarik, dari semua yang rebah, hanya Paulus saja yang dilawat oleh Tuhan sedangkan yang lain tidak.
            Pengalaman pribadi penulis  maupun pengalaman pelayanan orang lain dan juga cerita dalam Alkitab memperlihatkan bahwa peristiwa jatuh rebah itu terjadi bukan karena penumpangan tangan atau pun karena minyak urapan.  Peristiwa itu terjadi lebih karena lawatan Roh Kudus atau Roh Allah.  

Apakah Orang yang Tidak Jatuh Rebah Tidak Dilawat Roh Tuhan?
            Pertanyaan kritis dari sub judul ini bisa diajukan dengan cara yang lain:  Apakah lawatan Roh Allah HARUS DISERTAI dengan peristiwa “jatuh rebah”?   Pertanyaan ini penting karena di kalangan jemaat bisa timbul berbagai praduga, bahkan bukan tidak mungkin akan melemahkan iman jemaat.  Untuk ini penulis berpendapat, bahwa lebih baik untuk tidak bersikap terlalu ekstrim memutlakkan satu gejala dan mengabaikan kenyataan yang lainnya.  Ada banyak peristiwa dalam Alkitab yang menceritakan lawatan Tuhan atau Roh Tuhan tanpa disertai dengan gejala “jatuh rebah”.  Mis,:  Ketika pertama kali Tuhan memanggil Samuel dan berbicara kepadanya, Samuel tidak mengalami jatuhrebah dan sebagainya.  Tetapi itu bukan berarti Samuel tidak dipenuhi oleh Roh Tuhan.  Demikian juga dengan Musa.  Lawatan Tuhan atas Musa tidak disertai dengan jatuh rebah atau tubuh yang bergetar dan sebagainya.  Tetapi Musa tetap dipenuhi oleh Roh Tuhan.  Namun ketika sebagian Roh itu diambil dan diberikan kepada ketujuh puluh tua-tua Israel, mereka mengalami apa yang disebut dengan gejala “kepenuhan Roh” yang bisa dilihat dan dikenal oleh umat Israel.     Bil 11:25 -26  “Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi.  Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka--mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah--maka kepenuhanlah mereka seperti nabi di tempat perkemahan.“

            Selanjutnya, kita juga harus membuka diri bahwa pemberian Roh Kudus bisa terjadi melalui penumpangan tangan.  Dalam Kis 19:6 disebutkan bahwa “ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.”  Walaupun tidak disebutkan bahwa mereka jatuh rebah, namun peristiwa turunnya Roh Kudus terjadi saat penumpangan tangan.  Dan daam hal ini terbuka juga kemungkinan seseorang itu jatuh rebah, walaupun itu bukanlah gejala yang mutlak.


Karunia Roh dan Rupa-rupa Angin Pengajaran

Karunia Roh dan Rupa-Rupa Angin Pengajaran

Oleh: Calvin Dachi



Kilas Balik
Sudah cukup lama hal ini disingkapkan Tuhan kepada saya.   Mungkin sekitar tahun 1992-1993 saat saya masih disebut awam secara teologi.  Saat itu saya bergaul dengan teman-teman dari kalangan Pentakosta di Medan.  Satu hal yang menarik saat itu adalah fenomena ini:  umumnya mereka memutuskan menjadi pelayan karena mendapat pengalaman rohani seperti kesembuhan, penglihatan atau mujizat.   Pengalaman rohani ini rupanya memberi rasa percaya diri yang sangat tinggi sehingga mereka dengan gagah berani bersaksi, berkhotbah dan bahkan mengajar.   Tetapi terkadang saya merasa pengajaran mereka tentang firman Tuhan agak aneh dan tak ada dasar alkitabnya.  Saat itulah Tuhan menyingkapkan kepada saya 1 Korintus 12 tentang karunia-karunia roh.  

Apa yang saya pahami ini kemudian diingatkan Tuhan lagi ketika saya mulai melayani Tuhan di salah satu gereja di Sumatera Utara pada tahun 2001-2002.  Di salah satu suku saya melihat ada orang-orang yang mempunyai karunia-karunia rohani seperti penglihatan, karunia untuk menyembuhkan dan sebagainya.  Tetapi pemahaman mereka tentang Firman Tuhan sangat buruk tetapi mereka ajarkan itu kepada orang.  Umumnya mereka adalah orang-orang yang kurang berpendidikan bahkan ada yang buta huruf.  Tapi karena karunia rohani yang mereka miliki, orang akhirnya percaya saja pada ajaran mereka. Hal ini sering menimbukan ketegangan antara pendeta/gembala dengan orang-orang yang punya karunia tersebut.   Sekali lagi Tuhan ingatkan saya tentang 1 Kor 12.


Apa yang disingkapkan padaku tentang 1 Kor 12

Jika kita membaca Alkitab, khususnya 1 Kor 12, Paulus membahas karunia-karunia rohani dengan panjang lebar.  Disini saya akan mengutip 1Kor 12:10  “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.”
            Dalam ayat itu kita melihat bahwa ada banyak karunia yang diberikan oleh Roh.  Ungkapan “Kepada yang seorang Roh memberikan … dan kepada yang lain Ia memberikan …” menunjukkan bahwa karunia yang berbagai macam itu tidak diberikan kepada satu orang saja.  Seorang yang bisa mengadakan mujizat, belum tentu bisa bernubuat.  Walaupun tetap ada kemungkinan bahwa Roh memberi lebih dari satu karunia kepada orang yang sama, tentu itu akan terlihat dari outputnya.  Artinya, dalam 1 Kor 12:10  seorang yang memiliki karunia mengadakan mujizat, belum tentu bisa bernubuat.   Hal ini semakin lebih jelas jika kita membaca 1Kor 12:29-30 dimana Paulus berkata  “Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?” Pernyataan Paulus ini menegaskan bahwa tidak semua orang menjadi rasul, nabi atau pengajar dan tidak semua bisa adakan mujizat atau menyembuhkan.  Hal ini perlu digarisbawahi karena inilah yang saya temukan ketika sekitar tahun 1992 bertemu dengan teman-teman pentakosta.  Firman Tuhan dalam 1 kor 12 mengingatkan saya bahwa  seorang yang bisa mengadakan mujizat atau kesembuhan belum tentu bisa mengajar atau menggembalakan.  Begitu juga sebaliknya, seorang pengajar atau nabi atau gembala belum tentu punya karunia mengadakan mujizat atau menyembuhkan dan sebagainya.  Tentu saja tidak tertutup kemungkinan bahwa Tuhan mengaruniakan beberapa karunia itu atau bahkan semua karunia itu kepada satu orang. 
           
PERMASALAHAN DALAM GEREJA
Ada banyak orang yang terkesima dengan terjadinya mujizat dan kesembuhan ilahi di dalam pelayanan atau ibadah.  Mujizat dan kesembuhan adalah daya tarik yang hebat untuk menarik orang-orang bergabung dalam pelayanan seseorang.  Bagi banyak orang, mujizat dan kesembuhan adalah bukti bahwa Allah beserta dengan orang tersebut dan dengan demikian mereka adalah hamba Tuhan yang sebenarnya.   Sikap ini, tanpa disadari menempatkan mujizat dan kesembuhan sebagai tolok ukur apakah seorang pendeta/gembala adalah benar-benar hamba Tuhan atau tidak.  DISINILAH PERMASALAHANNYA DIMULAI DAN DISINI JUGA PERMASALAHANNYA BERAKAR.
            Ketika seorang yang tidak punya kapasitas dan karunia untuk mengajar atau menggembalakan tetapi memiliki karunia menyembuhkan atau mengadakan mujizat,  dituntut untuk bisa mengajar atau menggembalakan oleh orang-orang yang mengenal dia maka persoalan pun muncul.  Persoalan pertama, adalah berkaitan dengan panggilan.  Sangat mudah bagi orang tersebut kemudian berkata: “Okelah, Tuhan mempercayakan orang-orang ini kepadaku maka biar aku jadi gembala atau mengajar mereka.”  Di kalangan Pentakosta, menjadi gembala adalah sesuatu yang menggairahkan.  Tapi masalahnya, orang tersebut sekalipun punya karunia menyembuhkan atau mengadakan mujizat tapi karena tidak pernah diperlengkapi dengan ketrampilan penggembalan atau mengajar, akhirnya menyebabkan berbagai keanehan dalam khotbah maupun pengajaran.  Atau mungkin orang tersebut sudah belajar teologi tapi dan tamat dengan kasih karunia sehingga punya sedikit pengetahuan dan ketrampilan,  TETAPI karena bukan panggilannya untuk mengajar atau menggembalakan akhirnya menjadi ngawur.  Bukannya mengajar, malah membodohi.  Bukan menyembuhkan, tetapi melukai jemaat yang ikut dengannya.
Persoalan kedua, adalah sangat serius.  Bergesernya parameter dari Alkitab kepada mujizat, kesembuhan atau karunia-karunia rohani lainnya menjadi alasan untuk membenarkan ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.  Pengalaman-pengalaman  “rohani” ini bisa menyebabkan ajaran Alkitab dianggap tidak laku lagi.  Menyuarakan pesan Alkitab akan disebut “teori”.  Ada seorang gembala pernah berkata padaku:  “Tuhan katakan bahwa dalam pelayananku akan ada orang mati yang dibangkitkan, tapi syaratnya saya akan … (dia gerakkan jarinya ke leher)”.  Saya gak tahu apakah sudah ada orang mati yang bangkit dalam pelayanannya, tapi yang saya tahu dia sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit.  Dan yang lebih berbahaya lagi, ajaran yang tidak sesuai dengan alkitab pun dianggap benar karena “dia bisa sembuhkan orang sakit” merupakan bukti bahwa ajarannya berasal dari Tuhan.  Sebaliknya orang-orang yang punya karunia mengajar atau menggembalakan akhirnya tidak laku walaupun ajarannya benar dan menuntun orang kepada hidup karena tidak punya karunia menyembuhkan orang. 
Persoalan ketiga, adalah munculnya rupa-rupa angin pengajaran.  Penulis pernah mendengar ada gereja yang ajarkan “tujuh elemen”,  gembala/pemimpin yang salah tidak boleh ditegur karena meraka adalah orang yang diurai Tuhan, dan sebagainya.  Beberapa waktu yang lalu muncul fenomena meniup-niup terompet bahkan puluhan atau ratusan orang pergi ke Yerusalem untuk tiup-tiup sangkakala.  Biaya yang sudah dikeluarkan pasti mencapai milyaran rupiah.   Melaksanakan tugas meniup sangkakala dianggap lebih penting dan rohani dari pada menunaikan Amanat Agung.  Dan yang penulis sedang selidiki adalah ajaran (berdasarkan pengalaman) tentang tumpang tangan dan orang tersebut jatuh atau gemetar.  Jika jatuh berarti dilawat Tuhan dan jika tidak jatuh berarti  tidak dilawat oleh Tuhan.  Penulis sedang selidiki apakah ada dasar Alkitabnya atau tidak.  Tapi untuk sementara, penulis menemukan data-data Alkitabiah yang  mencatatkan berbagai peristiwa pengurapan yang dilakukan di PL dan pencurahan Roh Kudus di PB sama sekali tidak disertai dengan fenomena jatuh seperti itu. 

Penutup

Tulisan ini adalah sebuah perenungan dan persiapan diri penulis untuk memenuhi panggilan pelayanan penulis.  Ada tanggung jawab rohani yang harus penulis penuhi dan wujudkan dalam pelayanan konkret.  Ini baru awalnya saja … edisi turun gunung.(

Minggu, 05 Juli 2015

Ku Kan Terbang

Ku Kan Terbang

Lagu "Ku 'Kan Terbang" adalah lagu yang digubah oleh True Worshipper.  Kesulitan lagu ini terletak pada interludenya.  Pada Interlude, semua instrument memainkan melodi dengan frasa dan thema yang sama (monophony).   Berbeda dengan penyanyi, sebuah komposisi musik tidak selalu dapat dilatih dalam waktu singkat.  Apa yang disebut "feeling" dalam musik tentu sangat penting.  Dengan menggunakan "feeling" seorang pemusik dapat memainkan musik "on the spot" tanpa perlu latihan terlalu lama.  Tapi itu hanya untuk komposi.si yang sederhana.  Untuk komposisi yang cukup sulit, pemain musik butuh latihan lebih lama dan musisi tidak selalu bisa mengingat sebuah melodi atau komposisi dalam waktu yang lama.  Notasi musik sangat membantu musisi untuk dapat mengingat dengan cepat komposisi musik tersebut.  

Notasi ini saya buat untuk menolong teman-teman untuk mengatasi kendala-kendala yang dhadapi selama ini.  semoga bermanfaat



Senin, 22 Juni 2015

Tritunggal: dari Logika Melompat ke Mujizat

Tritunggal: dari logika melompat ke mujizat
Oleh: Calvin Dachi

Pendahuluan
Salah satu doktrin agama Kristen yang sering menjadi perdebatan dengan orang-orang non Kristen adalah doktrin Tritunggal atau Trinitas.  Keberatan terhadap doktrin ini utamanya datang dari dua agama yang sangat menekankan monoteheisme seperti agama Yahudi dan Islam.  Dengan kemajuan teknologi internet, berbagai perdebatan itu bahkan sudah direkam dan dipublikasikan di youtube sehingga bisa diakses oleh banyak orang.
          Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa perdebatan itu belum juga selesai sampai sekarang.  Penulis tidak tahu persis sampai sejauh mana penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh pihak Kristen dapat dipahami oleh saudara-saudara dari pihak penganut agama Yahudi dan Islam.  Penulis juga tidak bermaksud untuk mengupas ulang perdebatan-perdebatan tersebut.  Dalam tulisan ini penulis berusaha membahas beberapa unsur yang sering tidak disadari oleh baik pihak Kristen maupun mereka yang menolak doktrin Tritunggal.

Apa itu  Tritunggal?
          Orang yang pertama kali merumuskan ajaran Tritunggal adalah Tertullilanus (120-225).  Ia merumuskan bahwa Allah adalah satu di dalam substansnya atau Zatnya dan tiga di dalam personaNya atau pribadiNya atau OknumNya.[i]    Sejak Tertullianus inilah kemudian gereja berusaha merumuskan ajaran tentang Allah dalam doktrinnya:  Tritunggal.   Secara ringkas doktrin Tritunggal mengajarkan bahwa Allah yang Esa itu disebut “Bapa yang Mahakuasa”.   Sejak kekal FirmanNya diam di dalam Allah dan Firman itu telah menjadi manusia yaitu Yesus dan karena itu disebut Anak Allah karena Firman Itu keluar dari Allah.  Bapa juga memiliki Roh Kudus, yaitu Roh yang “Keluar dari Sang Bapa”.  Dengan demikian Roh ini juga berasal dari Bapa (Allah Yang Esa) itu dan berdiam di dalam Diri Allah Yang Esa itu.  Karena dalam kekekalan Firman Allah dan Roh Kudus sudah bersama-sama dengan Allah maka jelaslah bahwa Firman dan Roh Kudus itu bukan diciptakan.
          Penulis percaya bahwa dengan penjelasan ringkas di atas, tidak sulit bagi penganut agama Yahudi dan Islam untuk memahami bahwa agama Kristen percaya kepada keesaan Allah.  Lalu masalahnya dimana? Apa keberatan fundamental atas ajaran iman Kristen ini?  Berikut penulis akan memaparkan beberapa sumber masalahnya.


Masalahnya adalah angka tiga (3) tidak LOGIS untuk Yang Maha Esa

Istilah "Tritunggal" entah disadari atau tidak, memberi kesan menyangkal keesaan Allah.  Umat Kristen tidak perlu menolak kenyataan bahwa orang non Kristen menangkapnya demikian.   Penggunaan kata Tri/tiga pasti membangkitkan penolakan dari penganut keesaan Allah.  Adalah logis untuk mengatakan bahwa konsep tiga tidak mungkin satu/esa.  Kalau ada tiga yang jadi satu, itu pasti campuran, atau senyawa (kimia) atau larutan (cairan). 
          Kalau kita lebih terbuka mengamati, sebelum Tertullianus gereja tidak pernah menggaunakan angka tiga ini dalam menyebut Allah. Bahkan Yesus sendiri dalam Injil Yohanes berkata  Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30).  Jadi penggunaan atribut angka tiga  untuk Allah barulah dilakukan jauh kemudian.  Menurut Berkhof dan Enklaar, Pemikiran-pemikiran teologi Tertullianus ditulisnya diantara tahun 195-220 M.[ii]  Itu berarti selama lebih dari seratus lima puluh tahun sejak kenaikan Yesus ke Sorga, gereja tidak pernah menggunakan angka tiga sebagai atribut untuk Allah.  Penulis berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena masih kuatnya hubungan agama Kristen dengan Yudaisme yang sangat keras mengajarkan keesaan Allah.  Namus sejak kehancuran Yerusalem tahun 70 M, pengaruh Yudaisme semakin lama semakin melemah dan perlahan-lahan agama Kristen semakin mandiri dalam ajarannya.  Di tengah-tengah konteksnya yaitu kekaisaran Romawi yang menganut politeisme, penggunaan angka tiga sebagai atribut untuk Allah tidak lagi menjadi persoalan pada masa itu walaupun gereja tidak menganut politeisme. 
         

Anak Allah?  Mustahil Allah beranak!
Prasangka lain yang cukup umum diketahui adalah: Apakah Allah beranak?  Dalam agama Islam keyakinan bahwa Allah tidak beranak  pada mulanya muncul   dalam konteks menolak kepercayaan bahwa dewa Arab punya tiga anak (al Lat, al-Uzza dan Manat ) .  Tapi disadari atau tidak, keyakinan  ini juga diterapkan dalam konteks yg lain yaitu, untuk menolak ajaran alkitab bahwa Yesus adalah anak Allah.  Pertanyaanya: apakah agama kristen mengajarkan Allah beranak?  Atau Allah berhubungan dengan perempuan sehingga perempuan itu hamil dan melahirkan?  Tentu tidak!  Persoalannya adalah bahwa apa yg dimaksud dengan anak oleh orang Kristen berbeda dengan pemahaman yg disangkakan kepada orang.

Dalam Alkitab konsep anak dipakai dengan cara yang berbeda-beda.  Sedikitnya ada empat konsep yang berbeda berkaitan dengan anak.

Pertama konsep harfiah
Yang dimaksud disini adalah bahwa anak yang lahir dari hubungan suami-istri.  Mis.  Abraham memperanakkan Ishak dan sebaginya.

Kedua konsep alegoris, mis:
Keluaran 4:22-23  Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung;
sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung."
          Disini anak bukan diartikan sebagai akibat hubungan suami-istri tetapi lebih menunjukkan kepada hubungan khusus antara Allah dengan umat Israel dimana Allah berperan sebagai Bapa yang bertanggungjawab untuk membela dan melepaskan anaknya.

Ketiga, Konsep Anak sebagai status yg diberikan kepada orang percaya
Yoh 1:12  Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
Gal 3:26  Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
1 Yoh  3:1  Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

Keempat, konsep anak yang menunjukkan kesetaraan hakekat dengan bapanya.
Seorang anak dan orang tuanya adalah sama-sama manusia.  Sebagai manusia, anak dan bapa sama nilai kemanusiaannya.  Konsep ini juga yang dipakai alkitab ketika mengatakan Yesus adalah anak Allah. Nats yang sangat eksplisit mengatakan: 
Yohanes 1:1-3, 14  Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.



Firman Allah menjadi manusia?

Salah satu hambatan logis dari doktrin Kristen adalah bahwa secara logika lebih mudah menerima jika Firman Allah itu menjadi buku/kitab dari pada menjadi manusia.  Jika pikiran Allah terungkap dengan perkataan Allah kemudian menjadi kitab, maka hal tidak ada keberatan akal sehat dengan hal itu.  Hal itu juga alkitabiah, karena dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah menyuruh nabi-nabinya menuliskan firmanNya.  Sebagai contoh penulis akan mengutip beberapa ayat alkitab tentang Firman Tuhan yang dituliskan menjadi kitab:

Keluaran 34:27  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel."

Yer 30:1-2  Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:  "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab.

Lalu bagaimana jika muncul pernyataan bahwa Firman itu menjadi manusia (bukan menjadi kitab)?  Bagi orang yang mengandalkan logika tentu sangat sulit untuk menerima pernyataan tersebut.  Bagaimana mungkin hal itu terjadi.  Tetapi justru disinilah Tuhan menunjukkan kemahakuasaanNya:  bahwa Allah tidak bisa dibatasi dengan logika manusia, melainkan melampaui logika itu sendiri.  FIRMAN ALLAH MENJADI KITAB ADALAH LOGIKA, TETAPI FIRMAN ALLAH MENJADI MANUSIA ADALAH MUJIZAT. 

Ketika kita berkata Yesus adalah Firman Allah (Kalimat Allah),  kita kita perlu menyadari bahwa hal itu telah terjadi. Firman itu (Kalimat Allah) telah menjadi manusia. Dan karena itulah Yesus disebut Anak Allah dan memiliki kesetaraan dengan Allah. Dengan sangat jelas Paulus menuliskan peristiwa ini dalam Filipi  2:6-7  “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”


Penutup
          Tulisan ini tidaklah dimaksudkan untuk membahas tuntas tentang doktrin Tritunggal, tetapi merupakan usaha penulis untuk mengungkapkan sisi-sisi yang terabaikan dalam penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh gereja Kristen di seluruh dunia mengenai imannya.          Namun tulisan ini juga merupakan usaha penulis untuk  membawa ke dalam kesadaran pembaca bahwa ada kendala logika dalam memahami dan menerima penyataan Allah yang esa kepada manusia melalui  Firman dan Rohnya. 


Batam, 22 Juni 2015



Daftar Pustaka
Berkhof, H. dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta BPK Gunung Mulia, 1995
Erickson, Millard J.  , Teologi Kristen Vol I. Malang: Gandum Mas, 2004
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009
Lohse, Bernhard, Pengantar Sejarah Dogma Kristen dari Abad Pertama sampai dengan Masa Kini, diterj. oleh  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.
Soedarmo, R. Ikhtisar Dogmatika,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.




[i] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal. 108.
[ii] H. Berkhof dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1995), hal. 41

Senin, 15 Juni 2015

TRANSKRIPSI LAGU DIA RAJA (TRUE WORSHIPPER)

TRANSKRIPSI LAGU DIA RAJA (TRUE WORSHIPPER)

Iseng-iseng saya buat transkripsi lagu dari True Worshipper, untuk melihat lebih jelas gaya komposisi musik pengiringnya.  Cukup menarik melihat penggunaan teknik interlocking dalam komposisinya dengan mengedepankan frasa-frasa musik yang berbeda untuk setiap instrumen.  Analisisnya akan saya berikan kemudian.  Tapi saya bisa katakan secara umum bahwa ada 4 bentuk/form musik yang dipakai.  








Kamis, 21 Mei 2015

Kontekstualisasi Teologi: Barang Baru, Stok Lama

Oleh Calvin Dachi, MAIE, MTh


Kata kontekstualisasi pertama sekali muncul dalam terbitan Theological Education Fund (Dana Pendidikan Teologi, TEF) pada tahun 1972.  Ini bukan berarti kontekstualisasi teologi baru terjadi mulai tahun 1972, melainkan lebih tepat diartikan bahwa ini adalah awal lahirnya kesadaran bahwa teologi pada dasarnya bersifat kontekstual.     Hal ini terbukti dengan pemberian mandat kepada TEF oleh Division of World Mission and Evanggelism pada pertemuan pertama di Mexico City tahun 1963 untuk meningkatkan jenis pendidikan teologi dunia ketiga yang akan menghasilkan suatu perjumpaan yang sesungguhnya antar mahasiswa dan Injil dengan memakai bentuk-bentuk pemikiran dan kebudayaan sendiri dan dialog yang hidup antara jemaat dan lingkungannya”. (TEF 1972, hl. 13)  Dari sinilah kemudian muncul istilah kontestualisasi.
Sebenarnya, kontekstualisasi teologi sudah dilakukan oleh orang percaya sejak dulu kala, namun yang membedakannya dengan jaman sekarang adalah bahwa hal ini sekarang dilakukan dengan kesadaran penuh. Jika teologi dipahami sebagai refleksi iman yang sistematis, maka refleksi iman itu selalu terungkap dalam rangka menjawab konteksnya dan menggunakan ungkapan-ungkapan yang dipahami dan relevan konteks sebuah produk refleksi teologis.  Eka Darmaputra secara tegas menekankan:
“Teologi kontekstualisasi adalah “teologi” itu sendiri.  Artinya, teologi hanya dapat disebut sebagai teologi apabila ia benar-benar kontekstual.  Mengapa demikian? Oleh karena pada hakekatnya, teologi tidak lain tidak bukan adalah upaya untuk mempertemukan secara dialektis, kreatif secara esensial antara “teks” dan “konteks”, antara kerygma yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual.  Secara lebih sederhana dapat dikatakan bahwa teologi adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman kristiani pda konteks, ruang, dan waktu yang tertentu.”
Untuk memahami ini hal ini, berikut penulis berikan contoh dari teologi gereja purba.  Salah satu produk teologis purba yang sangat jelas menjawab konteksnya dan diungkapkan dalam ekspresi yang relevan dengan konteksnya adalah doktrin Tritunggal.  Jika kita melihat konteks lahirnya teologi ini, maka beberapa hal perlu digarisbawahi disini.  Pertama, istilah Tritunggal dicetuskan oleh Tertullianus di tengah-tengah masyarakat yang religio-kulturalnya bercirikan polytheism dan didominasi oleh alam pikiran filosofi Yunani.  Dapat dibayangkan bahwa ungkapan Trinitas tidak sulit untuk diterima oleh orang-orang percaya pada zaman itu.  Tetapi ketika monotheism ekstrim berkembang, doktrin ini justru menjadi hambatan bagi penganut monotheism ekstrim untuk menerima iman Kristen.   Kedua, penjelasan atau penjabaran doktrin ini juga dirumuskan dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak asing dalam pemikiran filosofis Yunani, mis.:  Ousia dan hupotastis.  Penulis percaya banyak di antara pembaca yang bertanya-tanya: apa itu Ousia dan hupostasti?  Oleh karena itu, janganlah heran jika doktrin ini sangat sulit dipahami oleh orang-orang yang hidup dalam konteks yang berbeda dan tidak mengenal dengan baik pemikiran fiosofis Yunani kuno.

Pengertian dan Prinsip Kontekstualisasi
Kontekstualisasi dipahami sebagai “kemampuan untuk menanggapi Injil sesungguhnya di dalam kerangka situasinya sendiri”.  Dalam penerapannya, dalam teologi ternyata muncul dua kutub:  Teologi liberal yang lebih dipengaruhi oleh konteks masa kini, dan teologi yang lebih ortodoks yang kurang dipengaruhi.


a.  Kontekstualisasi Rasuli
Kutub yang lebih ortodoks diwakili oleh Nicholls (1975: hal 647) yang menerangkan kontekstualisasi sebagai: “menerjemahkan Injil kerajaan Allah yang tidak berubah itu ke dalam bentuk-bentuk yang bermakna bagi bangsa-bangsa dalam budaya dan keadaan mereka masing-masing”.  Sedangkan definisi Peters (1977: hal 169) mirip dengan hal itu namun lebih sempit:  “menemukan implikasi-ilmplikasi sah dari Injil dalam keadaan tertentu.  Ini lebih dari sekedar penerapan, yang boleh saja dibuat atau tidak dibuat.  Menemukan implikasi dituntut oleh penafasiran teks secara tepat.
            Nicholls dan Peters mewakili kelompok yang menganjurkan “kontekstualisasi rasuli”.  Mereka ingin menerangkan (menerjemahkan, menafsirkan, mengadaptasi, menerapkan) iman “yang sekali untuk selama-lamanya dipercayakan kepada orang-orang kudus” (Yud 3) kepda orang dari budaya-budaya lain, begitu rupa hingga melestarikan sebanyak mungkin makna dan relevansi aslinya.

b.  Kontekstualisasi profetik
Pendapat anggota-anggota TEF tentang kontekstualisasi tidak sama dengan Nicholls dan Peters.
“Dengan kata kontekstualisasi kami bermaksud …segala sesuatu yang tersirat dalam pempribumian (indigenisasi), namun menambah kosep lebih dinamis yang terbuka terhadap perubahan dan juga berorientasi ke masa depan.
            Kita harus menemukan apa yang membuat suatu konteks benar-benar mempunyai arti dalam terang Missio Dei.  Kita harus melihat dimana Allah bekerja dan memanggil kita untuk ikut serta di dalamnya.  Ini adalah penelaahan misiologis tentang tanda-tanda zaman…Pengertian demikian yang autentik membawa kepada kontekstualisasi… Dialektika antara penelaahan ini dan kontekstualisasi adalah cara baru dalam berteologi, yang tidak hanya terdiri dari kata-kata tetapi juga tindakan” (Coe 1976: hal 21-22).
            Demikianlah, kontekstualisasi mencakup segala sesuatu yang tersirat dalam istilah pempribumian, namun lebih dalam daripada itu kontekstualisasi berkaitan dengan penilaian terhadap konteks  dalam dunia ketiga.  Istilah pempribumian cenderung dipergunakan dalam pengertian menanamkan Injil ke dalam suatu budaya tradisional, sedangkan istilah kontekstualisasi dengan tidak mengabaikan konteks-konteks budaya, memperhitungkan juga proses sekularisasi, teknologi dan perjuangan manusia demi keadilan. 
Yang ditekankan dari definisi ini adalah “wawasan kenabian” dari si pelaku kontekstualisasi dan keadaan-keadaan budaya, politik dan lain-lain yang dialaminya.  Kontekstualisasi berarti memasuki suatu budaya, mencari apa yang sedang Allah lakukan dan katakan dalam konteks tersebut, dan berbicara dan bekerja  demi perubahan yang perlu.  Inilah kontekstualisasi kenabian.  Misi para nabi Perjanjian Lama dan misi kenabian Kristus menjadi model bagi orang-rang yang peka terhadap masa kini.
Oleh karena itu, kontekstualisasi selalu bersifat kenabian yang muncul dari suatu pertemuan antara firman Allah dan dunianya dan bergerak maju menuju tujuan untuk mengubah situasi melalui keberakaran dan komitmen pada suatu saat historis tertentu. Kontekstualisasi selalu bersifat dinamis bukan statis, terbuka secara terus-menerus berubah dari setiap situasi manusia dan kemungkinan akan terjadinya perubahan hingga membuka jalan bagi masa depan.


c.  Prinsip Kontekstualisasi Teologi
Kontekstualisasi yang otentik menantang konteks itu dengan kuasa Injil, tetapi juga mengundang kita masing-masing pada ketaatan penuh kepada Kristus dalam konteks khas kita masing-masing.  Dengan demikian prinsip kotentekstualisasi adalah: SETIA KEPADA TEKS, RELEVAN KEPADA KONTEKS.  Yang dimaksud dengan teks adalah segala yang memberi otoritas dan otentisitas pada berita Kristiani dan kehidupan kristiani.  Sedang yang dimaksud dengan konteks adalah situasi keseluruhan pada tempat dan dalam waktu khas tertentu.


Model-model Pendekatan Kontekstualisasi
  1. Model Akomodasi
Akomodasi adalah sikap menghargai dan terbuka terhadap kebudayaan asli yang dilakukan dalam sikap, kelakuan, dan pendekatan praktis dalam tugas misionaris baik secara teologi maupun secara ilmiah.  Objek akomodasi adalah kehidupan budaya yang menyerluruh dari suatu bangsa baik dari segi fisik, sosial maupun ideal.
            Di sini, dalam komunikasi Injil, terjadi proses penetrasi dan dalam penerapannya terdapat pengambilalihan unsur budaya setempat untuk mengekspresikan dan meningkatkan sambutan atas Injil.  Dalam proses ini terjadi perpaduan nilai hidup kristiani dimana Kristus menjadi penyempurna dan pelengkap aspirasi budaya.  Dengan demikian akan terdapat sikap positif terhadap Injil yang didasarkan atas pandangan bahwa anugerah Allah tidak menghancurkan budaya manusia, tetapi justru melengkapi dan menyempurnakannya.
            Contoh model akomodasi dalam Alkitab:  Kis. 17:28

  1. Model Adaptasi
Perbedaan model akomodasi dengan adaptasi terletak pada cara pendekatannya.  Model asimilasi tidak mengasimilasikan unsur budaya dalam mengekspresikan Injil, tetapi menggunakan bentuk dan ide budaya yang dikenal.  Contoh: Yohanes menggunakan ide logos untuk menjelaskan kebenaran penjelmaan/inkarnasi (Yoh 1) dan Paulus menggunakan konsep rahasia (II Kor 3:18).
            Tujuan adaptasi ialah mengekspresikan dan menerjemahkan Injil dalam istilah setempat (indigenous term) sehingga menjadi relevan dalam situasi budaya tersebut.

  1. Model Prossesio
Prossesio adalah sikap yang menanggapi kebudayaan secara negatif.  Proses prossesio terjadi melalui seleksi, penolakan, reinterpretasi, dan rededikasi.  Kelompok prossesio melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang sudah rusak oleh dosa dan tidak ada kebaikan yang muncul dari dalamnya.
Proses prossesio beroperasi dalam tiga tahap:
3.1    Dalam sejarah pengilhaman Alkitab dan misi Kristen
3.2    Allah menguasai bangsa-bangsa
3.3    Pembangunan masyarakat Kristen untuk tugas penguasaan seluruh bangsa dan budaya.

  1. Model Transformasi
Allah itu di atas budaya, dan melalui budaya itu pula Allah menggunakan elemen-elemen kebudayaan untuk berinteraksi dengan manusia.  Bila seseorang dibaharui Allah, maka Inti kebudayaannya juga dibaharui (II Kor 5:17).

  1. Model Dialektik
Ini adalah interaksi dinamis antara teks dan konteks.  Konsep ini didukung oleh perkiraan yang kuat bahwa perubahan pasti ada dalam kebudayaan.  Untuk setiap kurun waktu perubahan itu terjadi secara dinamis.  Dengan demikian Gereja harus menggunakan peran kenabian untuk menganalisis, menginterpretasi, dan menilai setiap keadaan.

Berbeda dengan model di atas Schreiter  dalam bukunya Rancang Bangun Teologi Lokal mengusul tiga model pendekatan teologi kontekstual (yang disebutnya teologi local), yaitu sbb.:

a.  Model-Model penerjemahan
“Model” menunjukkan bukan saja prosedur keterlibatan dalam refleksi teologis, tetapi juga sejumlah minat atau prinsip khas yang membantu membimbing penggunaan prosedur.
Model penerjemahan melihat tugas teologi local sebagai tugas yang membutuhkan prosedur dua langkah.  Langkah Pertama, orang sedapat mungkin membebaskan pesan Kristen dari kandang budaya sebelumnya.  Dalam melakukan itu, data penyataan dimungkinkan berdiri bebas dan disiapkan untuk Langkah Kedua, yaitu: penerjemahan ke dalam situasi baru.
            Yang mencolok di antara semua model ini adalah metode penerjemahan Alkitab yang “ekuivalen-dinamis”,  yang dengannya gambaran alkitabiah pertama-tama diterjemahkan ked alam konsep-konsep, yang kemudian dicari ekuivalennya dalam bahasa setempat.  Konsep-konsep ini kemudian di terjemahkan ke dalam gambaran yang khas bagi budaya tersebut.  Misalnya, pada budaya-budaya yang tidak mengenal domba atau gembala, dilakukan usaha untuk menemukan konsep-konsep  teologis yang disampaikan oleh gambaran domba itu, agar dapat menemukan bagaimana konsep-konsep yang sama itu dapat disampaikan dalam budaya yang baru, meskipun dengan gambaran yang berbeda.  Charles Kraft telah mengusulkan bahwa pendekatan ekuivalen dinamis ini dapat diperluas melampaui penerjemahan Alkitab untuk menjadi suatu prosedur teologis.


b.  Model Adaptasi
Model ini menyadari sejumlah kesulitan dan kelemahan jangka panjang dari model-model penerjemahan, dan mengusahakan suatu perjumpaan yang lebih dasariah antara kekristenan dan budaya.   Ada tiga model adaptasi yang cukup sering dipakai:
Model yang Pertama, orang-orang asing yang bergaul dengan para pemimpin local akan mencoba mengembangkan suatu filsafat atau gambaran tentang pandangan dunia budaya.  Gambara yang berkembang ini sejajar baik dengan model-model filsafat atau dengan gambaran-gambaran antropologi budaya yang dipergunakan dalam teologi-teologi Barat sebagai dasar untuk mengembangkan suatu teologi.  
Model yang Kedua, yaitu dengan melatih para pemimpin setempat untuk menggunakan kategori-kategori Barat dalam mengungkapkan factor-faktor yang membentuk pandangan dunia masyarakat mereka.  Pada sejumlah contoh, para pemimpin setempat merasa bahwa hal ini telah menolong mereka untuk dapat memahami budayanya secara lebih mendalam.   Pada contoh lain, para pemimpin setempat dilatih di pusat-pusat pendidikan Barat dan mereka sendiri berusaha menciptakan model-model filsafat demikian, dengan mengambil bahan-bahan budaya setempat. 
            Kekuatan pendekatan adaptasi ini cukup jelas karena jika dianut oleh pemimpin setempat, maka pendekatan ini cepat dapat menolong mencapai tujuan ganda yaitu: otentisitas di budaya setempat dan rasa hormat dan penghargaan  di kalangan gereja Barat.  Teologi yang muncul dari model ini penuh dengan kategori, nama dan keprihatinan suatu budaya setempat, namun kelihatan seperti teologi Barat dan relative mudah dipahami oleh orang-orang Barat.  Tetapi kelemahan model ini adalah karena menggunakan model-model filsafat Barat, maka sering terjadi pemaksaan data-data budaya setempat ke dalam kategori-kategori asing. 
Model yang ketiga, adalah adaptasi yang tidak mengandalkan model-model filsafat dari Barat, atau konsep-konsep Reformasi tentang gereja purba.  Paus Paulus VI, tahun 1969  dengan fasih dan tepat mengajukan pendekatan adaptasi jenis ini:
Ungkapan ini, yaitu bahasa dan cara mewujudkan Iman yang satu ini, mungkin beraneka ragam;  karena itu, caranya mungkin orisinil, di, disesuaikan dengan lidah, gaya, kecerdiakn dan budaya dari orang yang mengakui Iman yang satu ini.  Dari sudut pandangan ini, suatu pluralism tertentu bukan hanya sah, tetapi juga dikehendaki.  Suatu adaptasi terhadap kehidupan Kristen di lapangan kegiatan penggembalaan, ritual, pengajaran dan kerohanian bukan hanya mungkin dilakukan, melainkan juga dikehendaki oleh Gereja.  Pembaruan dari liturgy adalah contoh yang hidup dari pendekatan ini

c.  Model-model Kontekstual
Model-model  kontekstual, seperti disiratkan oleh namanya, lebih langsung berkonsentrasi pada konteks budaya tempat Kekristenan berakar dan diungkapkan.  Sementara model-model adaptasi terus menekankan pada iman yang diterima, model-model kontekstual mulai dengan refleksinya dengan konteks budaya.  Ada dua jenis model kontekstual yang dibicarakan disini.  Keduanya berbeda dalam cara membaca dinamika dan kebutuhan-kebutuhan dominan dari konteks sosialnya.  Dalam segi dinamika, kedua model mengakui bahwa hampir semua budaya dunia mengalami perubahan social terus menerus.  Mendasarkan sebuah teologi local sepenuhnya pada pola-pola agama tradisional yang ditemukan di pedesaan Afrika atau di budaya-budaya Pasifik Selatan, misalnya, berarti mengabaikan sejumlah kenyataan dasar: populasi dunia semakin lama semakin terpusat di perkotaan.  Usia rata-rata kebanyakan populasi dunia Ketiga adalah kurang dari dua puluh tahun.  Kedua factor ini—urbanisasi dan populasi usia muda—menunjukkan bahwa banyak dari agama dan budaya tradisional itu yang dilupakan atau bahkan tidak dipelajari.  Budaya tidak hanya terkena perubahan social yang cepat akibat teknologi dan urbanisasi, tetapi juga dipengaruhi oleh penindasan, kemiskinan dan kelaparan.  Kontekstualisasi mengarah kepada dua model, yaitu:
Pertama, Pendekatan yang berkaitan dengan jati diri budaya atau “pendekatan-pendekatan etnografis”.  Keprihatinan ini muncul dalam tahap-tahap akhir kolonialisme atau dalam penegasan kembali suatu jati diri dan martabat yang telah disangkal dari mereka.   Misalnya: Negritude di Afrika Barat atau Black Power  dei Amerika Serikat adalah contoh-contoh tentang kebutuhan untuk membangun kembali suatu jati diri yang telah disangkal atau dianggap lebih rendah.   
Kedua, pendekatan yang memusatkan perhatian pada penindasan dan penyakit-penyakit social, kebutuhan perubahan social, disebut “pendekatan-pendekatan pembebasan”.  Mengingat begitu banyak kebudayaan yang terkena perubahan social, atau yang melalui pola-pola penindasan politik, ekonomi dan social, dihalangi dari perubahan yang perlu, tidaklah mengherankan bahwa pendekatan-pendekatan pembebasan menjadi bentuk model kontekstual yang paling umum di dunia sekarang ini.




Kepustakaan

1.              Hesselgrave, David J. dan Edward Rommen. Kontekstualisasi: Makna, Metode, dan Model. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
2.     Hesselgrave, David G., Communicating Christ Cross-Culturally; Mengkomunikasikan Kristus  secara Lintas Budaya, Malang: Literature Saat, 2005.
3.              Tomatala, Yakob. Teologi Kontekstualisasi: Suatu Pengantar. Malang: Gandum Mas.
4.              Schreiter, Robert J. Rancang bangun Teologi Lokal. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
5.              Elwood, Douglas J. Teologi Kristen Asia: Tema-tema yang Tampil ke Permukaan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.
6.              Singgih, Emanuel Gerrit. Berteologi dalam Konteks: Pemikiran-pemikiran mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius, 2000.
7.      Bosch, David J., Transformasi Misi Kristen. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.