Sabtu, 17 Mei 2014

Baptisan: Mana yang benar? Percik atau Selam?

Oleh: Calvin Dachi, MAIE, MTh

Pendahuluan
Salah satu permasalahan yang sering diperdebatkan dalam gereja selama bertahun-tahun adalah persoalan baptisan.  Persoalan ini memiliki arti penting dalam kehidupan umat Kristen karena  baptisan adalah salah satu sakramen yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus sehingga kebenaran praktek dan pemahamannya sangat diutamakan oleh umat/jemaat.  Perbedaan praktek dan pemahaman tentang baptisan telah menyebabkan adanya saling tuduh yang pahit di antara umat Kristen dengan saling menuduh orang lain sebagai sesat, bidat dan sebagainya. 
          Dipihak lain, berbagai kepentingan juga mewarnai penjelasan dan perdebatan di kalangan jemaat dan pendeta/gembala.  Salah satu kepentingan yang cukup mencolok adalah kekuatiran bahwa “domba-domba” yang digembalakannya pindah “kandang” orang lain.  Kepentingan lain adalah kepentingan teologis dari para teolog dan pendeta/gembala untuk menghormati para pemimpin rohani gereja di masa lampau dan warisan tradisi/doktrin dan keputusan-keputusan bersejarah dalam gereja.   Penulis berpendapat bahwa alangkah baiknya jika kita berusaha menghindarkan diri dari bias kepentingan denominasi dan mendasarkan pemahaman kita sepenuhnya berdasarkan Alkitab.  Ini jauh lebih konsisten dan sejalan dengan semboyan reformasi Sola Scriptura.

Menginventarisir  Permasalahan
Secara umum, permasalahan baptisan masa kini dapat dirumuskan dalam dua pertanyaan utama:
1.      Cara Baptisan.
Pertanyaan dasar yang sering muncul dalam jemaat adalah cara mana yang benar, dipercik atau selam?  Pertanyaan ini jelas berangkat dari ketidaktahuan atas arti baptisan dan di pihak lain, kata baptisan telah menjadi terminology keagamaan yang dilepaskan dari arti aslinya ketika gereja tidak lagi menggunakan bahasa Yunani.
2.     Siapa yang dibaptis:  Apakah baptisan anak itu sah atau tidak? Berkaitan dengan permasalahan ini, perdebatan yang terjadi umumnya lebih bersifat teologis dan eksegetis.  Argumentasi teologis yang menolak baptisan anak adalah pandangan teologis bahwa yang dibaptis adalah mereka yang percaya, sedangkan argumentasi mereka yang menerima baptisan anak adalah didasarkan pada pandangan bayi juga sudah terhisab dalam perjanjian Allah sebagaimana praktek sunat dalam Perjanjian Lama.


Praktek Baptisan dalam Gereja Purba
Dari penelitiannya atas tulisan-tulisan bapa-bapa gereja, Th van den End mendeskripsikan praktek baptisan di gereja purba pada abad ke 2 M adalah sebagai berikut:

Baptisan dilayankan dalam upacara tersendiri, di luar kebaktian umum.  Sebagai persiapan, calon baptisan harus berpuasa.  Ia menyatakan imannya dengan rumus tertentu (yang kemudian berkembang menjadi pengakuan iman rasuli).  Lalu ia dibaptis, pada umumnya dengan diselamkan (seluruhnya atau sebagian), tetapi kalau air tidak cukup, maka penyiraman juga boleh…. Pada abad ke-2, pembaptisan anak-anak ada, tetapi tidak sering, karena kebanyakan orang Kristen merasa bahwa dengan itu sakramen baptisan dianggap enteng.  Pendapat itu didasari keyakinan bahwa pembaptisan menganugerahkan pengampunan dosa;  kalau setelah dibaptis orang berdosa lagi pengampunan itu harus diperoleh lewat perbuatan penyesalan yang susah, dan dalam hal dosa berat malah sama sekali tidak mungkin memperoleh pengampunan.[1]
Gambaran yang diberikan oleh van den End di atas memberikan beberapa informasi mengenai mengenai praktek baptisan di gereja purba di abad ke 2 M.  Yang pertama, baptisan dilaksanakan dengan cara diselamkan.  Praktek baptisan dengan cara penyiraman hanya dilakukan jika kondisi tidak memungkinkan melakukan penyelaman orang yang dibaptis.  Kedua, pembaptisan anak-anak sudah ada, tetapi tidak sering.  Artinya, sampai abad kedua, umat Kristen pada umumnya melaksanakan baptisan terhadap orang dewasa.  Walaupun sudah ada pembaptisan anak-anak, namun kebanyakan orang Kristen tidak setuju dengan baptisan anak-anak.  Ketidaksetujuan ini mengindikasikan bahwa para rasul kelihatannya tidak pernah melakukan pembaptisan anak-anak sehingga jemaat tidak punya teladan atau pegangan rasuli yang kokoh untuk baptisan anak.  Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, bahwa argumentasi-argumentasi yang membela praktek baptisan anak bukan berasal dari para rasul, melainkan dari bapa-bapa gereja seperti Justinus Martir.

Penggunaan kata Baptis dalam Alkitab
Kata Baptis dalam Alkitab berasal dari kata βάπtω//βάπtιζω yang berarti menyelamkan. 
Dalam penerjemahan Alkitab pada umumnya semua versi terjemahan Alkitab tidak menerjemahkan kata baptis pada ayat-ayat yang mengacu kepada upacara pembabtisan.  Akibatnya terkesan bahwa dalam Alkitab, kata “baptis” hanya dipakai dalam kaitannya dengan upacara baptisan.  Namun anggapan ini keliru.  Sebenarnya dalam Alkitab berbahasa Yunani, kata baptis tidak hanya digunakan untuk menyebut upacara pembaptisan, tetapi juga digunakan dalam menceritakan peristiwa lainnya.  Dalam Alkitab terjemahan, hal ini tidak kelihatan karena kata baptis sudah terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa lainnya ketika Alkitab diterjemahkan.  Marilah kita melihat beberapa contoh penggunaan kata “baptis” dalam Alkitab yang langsung diterjemahkan oleh LAI.

Contoh 1:
Lukas 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Luk 16:24  καὶ αὐτὸς φωνήσας εἶπε· πάτερ ᾿Αβραάμ, ἐλέησόν με καὶ πέμψον Λάζαρον, ἵνα βάψῃ τὸ ἄκρον τοῦ δακτύλου αὐτοῦ ὕδατος καὶ καταψύξῃ τὴν γλῶσσάν μου, ὅτι ὀδυνῶμαι ἐν τῇ φλογὶ ταύτῃ.

Dalam Lukas 16:24, kata mencelupkan adalah terjemahan dari βάψῃ,  yaitu kata kerja subjunctive aorist aktif orang ke 3 tunggal dari βάπtω/.

Contoh 2:
Mark 7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

Mar 7:4  καὶ ἀπὸ ἀγορᾶς, ἐὰν μὴ βαπτίσωνται, οὐκ ἐσθίουσι· καὶ ἄλλα πολλά ἐστιν ἃ παρέλαβον κρατεῖν, βαπτισμοὺς ποτηρίων καὶ ξεστῶν καὶ χαλκίων καὶ κλινῶν·.

Kata "mencuci" dalam Markus 7:4 berasal dari βαπτισμοὺς (kata benda akusatif maskulin jamak dari βαπτισμος), sedangkan “membersihkan dirinya” berasal dari βαπτίσωνται (kata kerja subjunctive aorist middle orang ke3 jamak dari βάπtιζω)


Contoh 3:
Luk 11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.

Luk 11:38  ὁ δὲ Φαρισαῖος ἰδὼν ἐθαύμασεν ὅτι οὐ πρῶτον ἐβαπτίσθη πρὸ τοῦ ἀρίστου.

mencuci tangan adalah terjemahan dari ἐβαπτίσθη adalah kata kerja indikatif aorist pasif orang ke 3 tunggal dari βάπtιζω.

Contoh-contoh yang diberikan di atas memperlihatkan bahwa pada masa Perjanjian Baru, kata baptis (βάptω/, βάπtιζω, βαπτισμοὺς) diterjemahkan dengan arti mencelup, mencuci, membersihkan diri yang kesemuanya merupakan aktifitas dimana seseorang memasukkan benda atau anggota badan atau tubuhnya ke dalam air.  Kata “baptis” pada masa Perjanjian Baru adalah kata yang lazim dipakai dalam percakapan sehari-hari.  Pemakaian kata baptis pada masa Perjanjian Baru dapat dianalogikan dengan cara  kita memakai kata celup atau selam pada zaman sekarang. Sebagai contoh, jika orang Yunani masa Perjanjian Baru bermaksud menerjemahkan kata “teh celup”, mereka akan mengatakan “teh baptis” (tentu dengan tata bahasa yunani).

Disamping itu, dari contoh-contoh di atas, tidak ada kemungkinan sedikitpun bahwa kata “baptis” bisa diartikan dengan percik.  Kata percik dalam bahasa Yunani adalah ραντισμὸς (rantismos, kata benda) atau ραντιζω (rantidso, kata kerja). Di dalam Alkitab kata rantismos atau rantidso ini dipakai di dalam 1 Petrus 1:2; Ibrani 9:13 dan 21.  Bagi pengguna bahasa Yunani pada masa perjanjian baru, tentu sangatlah aneh kalau seseorang mengatakan baptis/selam sedangkan yang dilakukannya adalah memercikkan air (rantidso).

Kesimpulan:
Terlepas dari pro kontra tentang baptisan anak-anak, berdasarkan uraian diatas,penulis berkesimpulan bahwa baptisan yang alkitabiah seharusnya dilakukan dengan cara mencelupkan atau menyelamkan seseorang ke dalam air.  Jika kita mau mempertahankan cara memercikan air kepada seseorang, maka seharusnya namanya bukan “sakramen baptisan”, melainkan” sakramen rantisan”.  Tetapi jika kita mau mempertahankan terminology sakramen baptisan, maka seharusnyalah kita juga mencelupkan/menyelamkan seseorang dalam air sehingga pelaksanaanya sesuai dengan namanya. 

Daftar Pustaka:
End, Th van den, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Klauser, Theodor, Sejarah Singkat Liturgi Barat. Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Moulton, Harold K. (ed.), The Anaytical Greek Lexicon Revised. Grand Rapids: Zondervan Publishing House.

Wenham, J.W., Bahasa Yunani Koine. Diterj. oleh Lynne Newel.  Malang: SAAT, 1987.

Young, Richard A., Intermediate New Testament Greek: A Linguiostic and Exegetical Approach.  Tennessee: Broadman & Holman Publisher, 1994.




[1] Th van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), hal 30.

Selasa, 13 Mei 2014

Memahami Tugas Kerasulan Menurut Paulus: Eksegese atas 1 Kor 9:1-18 Oleh: Calvin Dachi, MAIE., MTh


Memahami Tugas Kerasulan Menurut Paulus:
Eksegese atas 1 Kor 9:1-18
Oleh: Calvin Dachi, MAIE., MTh


Kesadaran Paulus akan kerasulan dirinya tampak dari kata pembukaan empat surat yang ditulisnya dengan menunjuk dirinya sebagai rasul (Rom 1:1; 1 Kor 1:2; 2 Kor 1:1; dan Gal 1:1).  Menarik untuk diamati, bahwa dalam sebagian besar tulisannya Lukas tidak mengidentifikasikan Paulus sebagai salah satu dari para rasul.[1]   Bagi Lukas, yang disebut rasul adalah kedua belas murid (termasuk Matias sebagai pengganti Yudas).   Namun dalam surat 1 Kor 15:5-7  Paulus mengidentifikasikan para rasul lebih luas dari kedua belas rasul, dan pada bagian akhir dari daftar yang dibuatnya, Paulus memasukkan dirinya.[2]
            Gelar rasul itu penting bagi Paulus.  Bagi Paulus, kerasulan mengandung sebuah tugas/amanat “memberitakan  Injil kepada bangsa-bangsa lain” dan mengumpulkan para petobat ke dalam sebuah komunitas—diungkapkan dengan metaphor  “meletakkan dasar”, “membangun” dan “menanam”.[3] Ternyata ada orang dalam gerakan kekristenan pada masa Paulus yang tidak mengakui kerasulan Paulus.  Dalam suasana semacam inilah Paulus Paulus berkata dalam pembukaan surat-suratnya bahwa dirinya “dipanggil menjadi rasul…” (Rom 1:1), “yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus” (1 Kor 1:1; 2 Kor 1:1), seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa … (Gal 1:1). 
Selanjutnya, Paulus memahami otoritas kerasulannya sebagai satu karunia langsung dari Tuhan.  Surat-surat Paulus dengan jelas menunjukkan bahwa dia berbicara kepada jemaat sebagai orang yang memiliki otoritas khusus terhadap iman dan praktek iman mereka.  Pernyataan-pernyataan Paulus tentang kerasulannya menunjukkan pemahamannya bahwa:
  1. Kerasulannya adalah pemenuhan dari panggilan Allah atas dirinya. 
  2. Kerasulannya bukanlah karena manusia.  Artinya, kerasulan Paulus absah bukan karena diangkat oleh jemaat atau atau karena pengakuan rasul lainnya.  Dan sebagai konsekwensinya, tentu ia tidak perlu memberi pertanggungjawaban kepada manusia manapun, melainkan kepada Allah sendiri.
  3. Kerasulannya adalah kehendak Allah.  Ini berarti bahwa kerasulannya bukan karena keinginan hatinya sendiri, juga bukan karena keinginan dari orang lain.


Tafsiran atas 1 Korintus 9

1 Korintus 9:1-18 merupakan bagian dari unit literer yang membahas masalah dagiing persembahan berhala sepanjang 1 Korintus 8:1-11:1.  Dimensi sosial dari masalah ini mengejawantah dalam perbedaan sikap dan perilaku jemaat dalam hal makan daging persembahan berhala.  Paulus melihat bahwa perbedaan sikap dan perilaku tersebut rupanya terkait dengan perbedaan pengetahuan yang dimiliki jemaat.  Pengetahuan dimaksud adalah “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa" (8:4) dan “…hanya ada satu Allah saja … satu Tuhan saja…” (8:6).  Sebagian jemaat memiliki pengetahuan itu, memahami bahwa tidak ada berhala di dunia dan karena itu tidak terikat dengan berhala ketika memakan daging persembahan berhala.  Tetapi sebagian lagi masih terikat dengan berhala sehingga memakannya sebagai daging persembahan berhala (8:4-7).
            Paulus tidak menolak pengetahuan itu.  Namun Paulus melihat bahwa dalam hal kehidupan sosial konkret, mereka yang menyangkal adanya berhala di dunia kemudian memakai hak/εξουσια dan kebebasan/ ελευθερια mereka tanpa mempertimbangkan orang lain yang berbeda pemahaman dengan mereka (8:9; 10:29).  Dalam 8:9 kata kebebasan berasal dari kata εξουσια.  Dalam hal ini LAI kurang konsisten menejemahkan kata εξουσια.  Sedangkan di pasal 9 LAI menerjemahkan εξουσια dengan hak.  Orang lain tidak hanya orang-orang Kristen Korintus (8:11) tetapi juga orang Yahudi, orang Yunani dan Jemaat Allah (10:32).  Dengan demikian Paulus menempatkan masalah ini dalam dimensi sosial yang lebih luas, tidak hanya sebagai masalah internal jemaat.
            Dengan mempertimbangkan konteks pasal 9 dalam teks, bagian ini secara khusus ditujukan kepada mereka yang memiliki pengetahuan tersebut.  Maksud Paulus membicarakan kerasulannya kemungkinan besar terungkap dalam 11:1 “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”  Dalam kerangka inilah ia berbicara tentang kerasulannya.  Tetapi, untuk keperluan itu ia perlu terlebih dahulu meluruskan kemungkinan adanya pandangan yang salah tentang dirinya sebagaimana terlihat dalam pasal 9:1 di bawah ini.
            Pasal 9:1 Paulus mengajukan empat pertanyaan retorik secara berturut-turut

ουκ ειμι ελευθερος
ουκ ειμι αποστολος;
υχι ιησουν χριστον τον κυριον ημων εορακα
ου το εργον μου υμεις εστε εν κυριω;

Kalau diterjemahkan secara harfiah adalah sebagai berikut:
Bukankah aku (sedang) adalah orang bebas?
“Bukankah aku (sedang) adalah rasul?   
Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita?  
Bukankah kalian (sedang) adalah pekerjaanku dalam Tuhan? 

Terj. LAI kurang tepat.  TB LAI membalik urutannya “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan? Kata “buah” pada pertanyaan terakhir tidak terdapat dalam teks aslinya.  TB LAI disini menekankan pada hasil, tetapi ini merupakan penafsiran. 
Pertanyaan-pertanyaan ini semuanya mengharapkan jawaban “ya”.  Dengan cara ini Paulus sedang menegaskan bahwa ia adalah seorang rasul, orang bebas dan orang-orang Kristen Korintus sebagai pekerjaannya dalam Tuhan.  Tetapi dengan cara ini juga paulus menarik hubungan yang erat antara dirinya sebagai orang bebas dengan kerasulannya dan orang-orang Kristen Korintus.
            Penegasan bahwa dirinya adalah orang bebas terkait langsung dengan ayat sebelumnya (8:13) dimana Paulus memutuskan untuk tidak memakan daging.  Dari pasal 9:4 dapat diketahui bahwa hal makan dan minum merupakan salah satu hak yang dimiliki Paulus.  Kemungkinan besar Paulus menegaskan kebebasan dirinya karena keputusannya itu dapat menimbulkan kesalahpahaman  bahwa dirinya bukan orang bebas.  Jadi, Paulus juga bermaksud untuk meluruskan kemungkinan adanya pandangan yang salah terhadap dirinya selama ini.  Dalam teks asli, Paulus menempatkan ελευθερος (orang bebas) pada urutan pertama memperlihatkan bahwa hal ini—sebagaimana akan terlihat dalam ayat-ayat berikutnya—menunjukkan apa yang menjadi fokus utama Paulus.  
            Sedangkan pertanyaan retoris berikutnya diajukan berkaitan dengan kerasulannya.  Ada dua segi penting dari kerasulannya yang disebutkan di sini, yaitu:  Pertama, “Bukankah aku telah melihat Yesus Tuhan Kita?”  dari Pasal 15:5-11 yang dimaksud oleh Paulus adalah “melihat Yesus yang telah bangkit”.  Dalm konteks ini “telah melihat Yesus’ dipahami dalam arti “Kristus telah menampakkan diri kepadanya”.  Rupanya hal ini merupakan segi penting dari kerasulan Paulus sehingga ia merasa perlu untuk menyebutkannya disini.
            Kedua: “Bukankah kalian (sedang) adalah pekerjaanku dalam Tuhan?” (terj. penulis)  Kata το εργον dipakai Paulus untuk menunjukkan apa yang dilakukannya sebagai rasul: memberitakan Injil.  TB-:LAI menafsirkan ini sebagai “buah pekerjaan” dan BIS menerjemahkannya sebagai “hasil pekerjaan”.  Tetapi penulis berpendapat bahwa yang ditekankan Paulus bukanlah segi hasil/buah tetapi lebih kepada segi bukti atau meterai/ σφραγις (lih. ay. 2).  Konsekwensinya, tidak mungkin bagi orang-orang Korintus untuk menyangkal kerasulan Paulus.  Tetapi, Paulus melihat kemungkinan bagi orang lain untuk menyangkal kerasulannya.  Sehingga, fakta bahwa orang-orang Korintus adalah pekerjaannya dalam Tuhan, itulah yang menjadi pembelaan Paulus atas kerasulannya (ay. 3).
            Ayat 3 “berbunyi Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku” (TB-LAI). Ayat ini telah menyebabkan sejumlah ahli berpendapat bahwa pasal 9 ini merupakan pembelaan diri Paulus.  Menurut penulis, pendapat ini mengabaikan konteks dari pasal 9 dalam 8:1-11:1 yang berbicara tentang hak/ εξουσια dan kebebasan/ ελευθερια dalam hal makan daging persembahan berhala.  Memang disini Paulus menyebut secara eksplisit pembelaan atas kritik kepada dirinya.  Namun bukan berarti pembelaan ini merupakan fokus utama dari Paulus sehingga ayat-ayat berikutnya berkembang dalam rangka pembelaan terhadap kritik pada Paulus.  Paulus sudah menyebutkan adanya kritik kepda dirinya pada pasal 4:3, tetapi ia juga mengungkapkan bahwa kritik itu sedikit sekali artinya bagi dirinya sendiri.  Implikasinya, Paulus sendiri tidak memandang pembelaan diri sebagai sesuatu yang penting dan mendesak.
            Di samping itu, pasal 9 ini ditempatkan Paulus dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang Kristen Korintus kepadanya.  Hal ini menunjukkan bahwa Paulus membawa dalam pikirannya kesadaran bahwa orang-orang Kristen Korintus tidak meragukan atau menyangkal kerasulannya.  Artinya, sangat tidak masuk akal jika Paulus membela diri kepada mereka yang justru meminta nasehatnya.  Bukanlah kebetulan jika pada pasal 9:1-3 Paulus memakai kata ganti orang pertama tunggal (aku/saya), kemudian pada ayat 4-12 ia memakai kata ganti orang pertama jamak (kami).  Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa pasal 9 bukanlah dimaksud untuk pembelaan diri Paulus.  Sekalipun Paulus menyinggung hal pembelaan diri (ay 3) namun ia tidak mengembangkan gagasannya dalam rangka pembelaan diri.  Oleh karena itu, tesis berpendapat bahwa ayat 1-3 mungkin dimaksudkan untuk meyakinkan jemaat akan hak, kebebasan dan kerasulan Paulus yang dibicarakannya pada ayat-ayat selanjutnya.
            Mulai 9:4 Paulus membicarakan masalah hak/ εξουσια dengan kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris.  Ada sejumlah hak yang disebutkan dalam ayat 4-6:
a.  hak untuk makan dan minum (ayat 4)
b.  hak untuk membawa seorang istri (ayat 5)
c.  untuk dibebaskan dari pekerjaan (ayat 6)
            Sebagaimana tekah disebutkan di depan, konteks dari pembicaraan ini adalah daging persembahan berhala.  Pada pasal 8:9 Paulus sudah menyinggung hak/εξουσια dari orang-orang yang memiliki “pengetahuan”.  Hal ini kembali disinggung dalam 10:25-33 tetapi dikaitkan dengan kebebasan/ ελευθερια (10:29).  Dalam kehidupan konkret, masalah ini bersangkut paut dengan makan di dalam kuil berhala (8:10), makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging (10:25) dan dalam undangan makan oleh orang yang tidak percaya (10:27).  Patut digarisbawahi di sini bahwa Paulus tidak memandang keterlibatan jemaat Korintus dalam acara ritual makan tersbut sebagai perilaku yang salah.  Paulus justru mengakui bahwa itu adalah hak jemaat Korintus.  Bahwa Paulus memulai pertanyaan-pertsanyaan retoris tersebut dengan menyebutkan hak untuk makan dan Tinum menunjukkan bahwa secara tidak langsung Paulus mengakui memiliki hak yang sama dengan mereka.
            Ungkapan mempunyai hak/ εχομεν εξουσιαν dipakai dalam ayat 4, 5 dan 6.  Tense dari ayat itu menunjukkan bahwa hak itu sekarang sedang dimiliki oleh Paulus.  Sedangkan kata ganti orang pertama jamak dikenakan Paulus bagi dirinya dan Barnabas (ayat 6).  Dari ayat 12b terungkap bahwa Paulus dan Barnabas tidak pernah menggunakan hak-hak itu.  Dalam kondisi seperti ini Paulus ingin mengingatkan jemaat bahwa memiliki hak tidak sama dengan mempergunakan hak. 
            Bersamaan dengan hak untuk makan dan minum, Paulus juga menyebutkan hak untuk membawa seorang istri, dan hak untuk dibebaskan dari pekerjaan.  Hak untuk membawa seorang istri ini dibandingkannya dengan rasul-rasul lain, saudara-saudara Tuhan dan Kefas.  Paulus menyebut saudara-saudara Tuhan dan Kefas bersama-sama dengan rasul-rasul lain menunjukkan bahwa disini tidak ada nada konflik.  Dengan menyebut rasul-rasul lain, saudara-saudara Tuhan dan Kefas, secara tidak langsung menyiratkan bahwa orang-orang Kristen Korintus cukup mengenal mereka.  Sampai sejauh mana jemaat korintus mengenal mereka, tidak dapat dipastikan, namun tersedianya sarana transportasi darat dan Laut memberi kemungkinan bagi jemaat Korintus untuk bertemu dengan mereka.  Namun pertanyaan-pertanyaan retoris itu menunjukkan bahwa jemaat Korintus bahkan mengetahui bahwa rasul-rasul lain, saudara-saudara Tuhan dan Kefas membawa istri mereka dalam perjalanan pelayanan mereka dan sebagainya.  Tetapi Paulus dan Barnabas berbeda dengan kebanyakan rasul-rasul lain.  Paulus memakai hal ini untuk menjelaskan bahwa jika Paulus dan Barnabas tidak membawa seorang istri seperti rasul-rasul lain, saudara-saudara Tuhan dan Kefas, tidak berarti mereka berbeda dalam hal memiliki hak.  Paulus dan Barnabas juga memiliki hak yang sama dengan mereka.. 
            Sedangkan hak untuk dibebaskan dari pekerjaan masih dibahas lebih lanjut oleh Paulus dalam ayat 7 dan seterusnya.  Pada ayat 7 pertanyaan-pertanyaan retoris berubah secara khas: “Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum[4] susu domba itu?” (TB-LAI)  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disini berasal dari realitas sosial seharí-hari: tentara, pertanian, dan peternakan.  Realitas ini sangat dekat dengan kehidupan orang-orang Korintus.[5]  Jawaban yang diharapkan dari semua pertanyaan retoris itu adalah: tidak ada yang berperang atas biaya sendiri, setiap penanam kebun anggor memakan buahnya, dan penggembala domba meminum susu dombanya.  Pertanyaan-pertanyaan ini (kecuali yang pertama) berhubungan dengan hak untuk mendapat hasil material dari pekerjaannya.  Namun pertanyaan pertama lebih menekankan pemberian finansial dari pada hak untuk mendapat hasil.  Paulus menegaskan keabsahan argumentasinya ini dengan mengutip hukum Taurat (ay 8-10), yang juga mengatakan hal yang sama.
            Apa yang dimaksudkan oleh Paulus menjadi jelas dalam ayat 11-12ª, mereka telah menabur benih rohani dan sudah sepantasnya menuai benih duniawi.  Kemungkinan metafora ini mengacu kepada saat pertama kali Paulus memberitakan Injil di Korintus.  Namun itu berarti bahwa bukan hanya Paulus tetapi juga Barnabas adalah pendiri jemaat korintus..  Dari metafora ini dapat dipastikan bahwa Barnabas perhna melayani dan memiliki peran besar di Korintus.  Dengan menyebut menabur benih rohani, yang dimaksud oleh Paulus adalah pemberitaan Injil—tugas kerasulannya, sedangkan menuai benih duniawi menunjuk pada hal mendapat sokongan finansial dari tugas pemberitaan Injil.  Itu Berardi bahwa pekerjaan yang dimaksud dalam ayat 6 adalah pekerjaan mencari nafkah.[6]  Jadi, yang dimaksud oleh Paulus adalah dibebaskan dari pekerjaan mencari nafka dan sepenuhnya hidup dari pemberitaan Injil.  Itu adalah hak yang dimiliki oleh Paulus dan Barnabas.
            Namun dalam ayat 12b disebutkan: “tetapi kami tidak pernah mempergunakan hak ini, tetapi kami (sedang) menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami (sedang) mengadakan rintangan bagi Injil Kristus.” (Terj penulis)  Alasan untuk tidak mempergunakan hak diutarakan disini “supaya jangan kami (sedang) mengadakan rintangan bagi Injil Kristus”.  Mengingat bahwa dalam bagian ini Paulus mengembangkan pembicaraan mengenai hak yang secara khusus berkaitan dengan dukungan finansial, maka kita perlu melihat ini terkait dengan konteks sosial pada masa itu, yaitu: bagaimana para filsuf mencari nafkah.  Menurut Ronald F. Hock, ada empat cara memperoleh nafkah yang dipraktekkan oleh para filsuf pada masa itu.[7] 
Yang pertama praktek memungut bayaran yang dipopulerkan oleh kaum sofis.  Praktek ini dikecam dianggap membahayakan kebebasannya.  Dengan memungut bayaran seorang filsuf dipaksa untuk mengajar setiap orang yang membayar mereka.  Paklsaan adalah cirri perbudakan.  Dengan tidak memungut bayaran para filsuf justru dapat mempertahankan kebebasannya.
            Cara kedua adalah dengan menjadi anggota keluarga seorang raja atau orang-orang kaya dan berkuasa.  Menjadi anggota keluarga ini biasanya mencakup hidup/tingla di rumahnya, mengikuti perjamuan makan yang diadakan oleh tuan rumah dan bepergian dengan tuan rumah.  Mereka juga menerima bayaran dari tuan rumah.  Cara ini dipraktekkan oleh sejumlah besar filsuf pada jaman itu.  Salah satu keberatan terhadap praktyek ini adalah bahwa praktek ini juga dianggap sebagai perbudakan bagi para filsuf.  Para filsuf diperbudak dalam dua pengertia:  pada satu sisi mereka menjadi budak kemewahan, gaya hidup yang boros dan kesenangan hidup.  Di lain sisi, ia mengalami penghinaan terutama dalam perjamuan makan, mislanya: dilayani dengan makanan dan anggur yang buruk.
            Cara ketiga adalah dengan mengemis.  Namun cara ini kurang popular karena dianggap memalukan dan mudah disalahgunakan.  Sedangkan cara keempat adalah mencari nafka dengan bekerja.  Filsuf yang bekerja mencari nafka ini relatif sedikit jumlahnya.
            Konteks di atas memperlihatkan adanya hubungan antara kebebasan dengan hak memperoleh dukungan finansial.  Orang yang menerima bantuan finansial tidak hanya terbatas mobilitasnya, tetapi juga tidak leluasa untuk menyebarkan ajarannya.  Dalam kerangka ini, mungkin yang dimaksud Paulus dengan rintangan adaklah keterbatasan ruang dan gerak pelayanannya dalam memberitakan Injil.  Sekalipun demikian, di dalam surat ini Paulus tidak memberi penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksudnya dengan “rintangan”.  Kemungkinan besar Paulus sengaja tidak mengembangkan gagasan tentang rintangan ini, untuk memberi kesempatan kepada jemaat korintus memahaminya dalam kerangka maslah yang timbal di antara mereka.  Gagasan yang mengandung konotasi rintangan diucapkan Paulus di tempat lain dalam 8:1-11:1, misalnya, tentang “batu sandungan” (8:13).  Dengan cara ini, Paulus secara tidak langsung mendorong mereka untuk tidak menggunakan hak mereka dalam kehidupan sosial mereka.
            Bagi Paulus keputusan untuk tidak memakai hak itu adalah bagian dari prinsip pelayanan yang diembannya.  Dari hak-hak yang disebutkan oleh Paulus, semuanya bersangkut paut langsung dengan kehidupan sosial seharí-hari: hak untuk makan dan minum, perkawinan dan pekerjaan.  Ini mengindikasikan bahwa Paulus memahami pelayanannya mencakup seluruh kehidupan yang secara sosial dijalaninya.  Bagaimana ia hidup dalam lingkungan sosialnya penting karena merupakan satu mata rantai dari pelayanannya.
            Pada ayat 13-14 Paulus kembali menegaskan hak orang yang memberitakan Injil untuk hidup dari pemberitaan Injil.  Dalam teks Yunani: ουκ οιδατε …? (harfiah: tidakkah kalian (sedang) mengetahui…?) menyarankan bahwa Paulus berbicara tentang praktek agamawi yang diketahui langsung oleh orang Korintus di sekitar mereka.  Jadi, Paulus mengambil argumentasi ini dari kehidupan agamis yang dekat dengan realitas orang-orang Kristen Korintus, yaitu yang berlangsung dalam kuil-kuil berhala.  Namun, pengesahan dari argumentasinya bukan berdasarkan realitas itu sendiri melainkan dari ketetapan Tuhan (ayat 14).
            Setelah itu, dalam ayat 15ª Paulus kembali mengulang gagasan dalam ayat 12b perihal tidak mempergunakan hak, namun disini Paulus secara khusus berbicara tentang dirinya sendiri.  Yang menarik disini adalah bahwa Paulus sungguh-sungguh berusaha meyakinkan jemaat Korintus mengenai hak yang dimilikinya, kemudian menyatakan tidak mempergunakan hal itu, tetapi ia segera kembali menegaskan keabsahan haknya itu, dan mengulangi kembali bahwa ia tidak pernah memakai hak itu.  Rupanya dengan cara ini, Paulus ingin agar jemaat dapat membedakan antara memiliki hak dan memkai hak.  Dengan memiliki hak tidak berarti bahwa hak itu harus dipakai.  Paulus mengajak jemaat untuk melihat kemungkinan untuk tidak mempergunakan hak itu sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas.  Fakta bahwa Paulus dan Barnabas tidak memakai hak-hak itu bukan berarti, bahwa mereka tidak memiliki hak-hak itu.  Kemungkinan Paulus melihat bahwa jemaat Korintus melupakan bahwa mereka juga memiliki hak sebagaimana orang-orang Korintus sendiri memiliki hak.  Oleh karena itu Paulus memberikan cukup banyak argumentasi mengenai hak-hak yang ia miliki.  Tetapi untuk menghindari kesalahpahaman, pada ayat 15b ia perlu menyatakan: “Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian”.
            Pada ayat 15c TB-LAI menerjemahkan: “Sebab aku lebih suka mati dari pada...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga!”  Menurut Witherington III, kalimat yang tidak selesai ini menunjukkan bahwa Paulus ingin melebihi dan melampaui panggilan tugasnya dan dengan demikian tidak meniadakan kemegahannya.[8]   Menurut penulis, pendapat ini kurang mempertimbangkan kalimat  berikutnya.  Dalam teks Yunani “tidak … siapapun” adalah ουδειςκενωσει yang juga bisa diterjemahkan “tidak … sesuatupun”.  Kemungkinan besar TB LAI menerjemahkan dengan “tidak … siapapun” karena memahami pasal 9 sebagai pembelaan diri Paulus.  Tetapi jalar pemikiran Paulus bukanlah dalam kerangka pembelaan diri, melainkan dalam kerangka penggunaan hak dan kebebasan.  Oleh karena itu, menurut pendapat penulis kata ουδειςκενωσει lebih tepat diterjemahkan “tidak … sesuatupun” sehingga terjemahannya menjadi: “kemegahanku tidak dapat ditiadakan sesuatupun juga.”  Penulis berpendapat, yang dimaksud dengan “sesuatu” disini adalah sejumlah hak yang telah disebutkan Paulus.  Patut dicatat disini bahwa Paulus berbicara sebagai rasul.  Itu berarti bahwa yang dimaksudkan oleh Paulus adalah bahwa kerasulannya tidak ditentukan apakah ia memakai haknya atau tidak.  Kerasulan Paulus tidak bergantung pada hak yang ia miliki.  Dengan pemahaman ini, kalimat yang terputus itu kemungkinan dimaksudkan oleh Paulus untuk menunjukkan komitmennya pada pelayanannya memberitakan Injil Kristus.
            Salah satu hal yang banyak dipersoalkan dalam tafsiran oleh para ahli ialah makna kemegahan.  Menurut Ronald F. Hock, yang dimaksud di sini adalah bahwa Paulus boleh bermegah karena ia memberitakan Injil tanpa memakai haknya untuk hidup dari Injil.[9]  Ia mencapai pemahaman ini dengan menempatkan ayat 15-18 dalam konteks sosial pada masa itu, yaitu: perdebatan bagaimana seharusnya para filsuf mencari nafkah.  Ia melihat bahwa kebebasan menjadi pertimbangan utama dalam perdebatan itu.  Kemungkinan besar argumentasi Paulus mengikuti jalar ini dimana Paulus memilih untuk mencari nafka sendiri sehingga ia secara ekonomis tidak bergantung pada orang lain.  Dalam hal ini Paulus adalah orang bebas dan boleh bermegah.
            Pendapat yang hampir sama juga diungkapkan oleh Fee.  Ia mengatakan bahwa kemegahan Paulus adalah dalam hal apa yang Allah lakukan, bahkan melalui kelemahan Paulus sendiri.  Pemberitaan Injil tanpa memungut bayaran merupaka keputusaan yang disengaja agar tidak mengadakan rintangan bagi Injil dan sekaligus menjadi kelemahan Paulus.  Dengan demikian, Fee juga memahami bahwa Paulus dalam ayat ini bermaksud mengatakan bahwa dirinya memiliki kemegahan.
            Kedua pendapat di atas berangkat dari asumsi bahwa pasal 9 merupakan pembelaan diri Paulus dimana ουδειςκενωσει diterjemahkan “tidak … siapapun”.  Asumsi ini membawa kedua ahli di atas sampai pada pendapat bahwa Paulus memiliki kemegahan.  Namun demikian, pendapat ini hanya bisa diterima jika pasal 9 memang berisi pembelaan Paulus.  Sebagaimana telah diperlihatkan sebelumnya, konteks pasal 9 dalam teks tidak mengijinkan asumsi semacam itu.  Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kata kemegahan justru berkaitan dengan masalah hak yang sedang dibicarakan oleh Paulus.  Paulus bermaksud mengatakan bahwa hak yang disebutnya itu tidak dapat meniadakan kemegahannya.  Pertanyaan yang lahir dari sini adalah mengana hak itu tidak dapat meniadakan kemegahan Paulus?  Hal inilah yang kemudian dijelaskan Paulus dalam ayat 16.  Dalam teks Yunani, ayat 16 adalah“εαν γαρ ευαγγελιζωμαι, ουκ εστιν μοι καυχημα.  TB LAI menerjemahkan: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri.”  Terjemahan TB LAI merupakan tafsiran.  Secara harfiah ayat 16 seharusnya diterjemahkan: “Karena jika aku sedang memberitakan Injil, kemegahanku sedang tidak ada.” (terj. Penulis)  Disini Paulus mengatakan bahwa pada saat ia memberitakan Injil, tak ada kemegahannya.  Kata penghubung “karena” menunjukkan bahwa kalimat ini merupakan alasan dari kalimat sebelumnya.  Bahwa kemegahannya tidak dapat ditiadakan oleh sesuatupun juga, karena (menurut Paulus) kemegahannya tidak ada.  Kemegahannya tidak dapat ditiadakan bukan berarti ia memiliki kemegahan yang tak dapat ditiadakan.  Karena Paulus berbicara sebagai rasul, maka pernyataan Paulus ini dapat diungkapkan kembali menjadi: “kemegahan Paulus sebagai rasul tidak dapat ditiadakan sesuatupun juga karena kemegahan tersebut memang tidak ada.”  Hak yang telah dikatakan Paulus tidak berpengaruh terhadap dirinya karena ia memang tidak memiliki kemegahan.  Tidak mempergunakan hak (walaupun memiliki hak itu) tidak menyebabkan kerasulan Paulus lebih tinggi atau lebih reñida dari yang lain.  Kerasulan Paulus tidak ditentukan oleh dan tergantung pada hak tersebut.  Tetapi pernyataan “Karena jika aku sedang memberitakan Injil, kemegahanku sedang tidak ada” juga Berardi bahwa menurut Paulus kerasulannya tidak menjadikan dirinya lebih tinggi dari yang lain.
            Alasan Paulus berkata demikian adalah karena itu merupakan kewajibannya (TBLAI: keharusan).  Pemberitaan Injil bukanlah sesuatu yang ia pilih tetapi sesuatu yang harus ia kerjakan.[10]  Menurut Paulus, jika itu karena keinginannya sendiri, ia memiliki upah (ayat 17).  Dari ayat 18, yang dimaksud dengan upah adalah bayaran (αδαπανον: tanpa bayaran).  Tetapi karena bukan pilihannya sendiri, Paulus memandang pemberitaan Injil sebagai pekerjaan yang dipercayakan kepadanya (dari οικονομιαν πεπιστευμαι: aku dipercayakan pekerjaan/stewardship, ayat 17).  Dengan demikian, Paulus membedakan antara pemberitaan Injil karena keinginan sendiri dengan pemberitaan Injil sebagai keharusan atau pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.  Yang pertama memiliki upah sedangkan yang kedua tanpa upah.  Artinya: bahwa pemberitaan Injil dipahami sebagai keharusan atau pekerjaan yang dipercayakan kepadanya berarti pemberitaan Injil dilakukannya karena ia harus memberitakannya bukan karena ia memiliki hak untuk menerima bantuan finansial.  Paulus memberitakan Injil bukan agar ia dapat mempergunakan hak itu sebagaimana dikatakannya dalam ayat 18.  Menurut penulis, pemahaman inilah yang menyebabkan Paulus tidak menerima bayaran dan tidak mempergunakan haknya.  Hal tidak menerima bayaran dan tidak menggunakan hak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan Paulus.
            Namun demikian, penting dicatat disini bahwa tidak berarti bahwa : “sama sekali menolak bantuan financial—terutama dari jemaat Korintus—bagi pelayanannya.  Dalam pasal 16:6, Paulus secara eksplisit mengatakan: “sehingga kamu dapat menolong aku untuk melanjutkan perjalananku.” (TB-LAI).  Kemungkinan besar yang dimaksud oleh Paulus disini adalah dukungan finansial dari jemaat korintus.  Dengan mempertimbangkan hal ini, penulis berpendapat bahwa keputusan untuk tidak memakai hak memperoleh bantuan finansial bukanlah keputusan yang kaku. Keputusan ini dibuat oleh Paulus terutama dalam pelayanannya memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya kepada Yesus.  Dari ayat 12b sudah diperlihatkan bahwa keputusan tidak memakai hak ini didasarkan pada pertimbangan agar tidak mengadakan rintangan bagi Injil Kristus.  Dalam rangka memberitakan Injil Kristus kepada orang-orang yang   percaya, Paulus tidak mau memakai haknya sehingga dia bisa lebih bebas melayani pemberitaan Injil.  Oleh karena itu, tetap terbuka bagi Paulus untuk memakai hak itu sejauh tidak menjadi rintangan bagi Injil Kristus.


Kesimpulan:
1 Korintus 9 memperlihatkan beberapa parameter yang dipakai oleh Paulus berkaitan dengan kerasulannya.
1.       Keabsahan kerasulannya dibuktikan oleh fakta bahwa ia juga sudah melihat Yesus.  Pertemuannya dengan Yesus yang telah bangkit merupakan dasar pengesahan dari kerasulannya karena itu berarti panggilan dan pengutusan Paulus langsung dimandatkan oleh Yesus Kristus.  Dengan cara ini, Paulus secara terbuka menyetarakan kerasulannya dengan keduabelas rasul lainnya yang juga dipanggil dan diutus langsung oleh Yesus.
2.      Parameter kerasulan lainnya adalah jemaat Korintus sendiri yang adalah pekerjaan Paulus.  Jemaat Korintus bukan hanya buah, melainkan juga adalah meterai kerasulan Paulus. 
3.      Sebagai rasul, Paulus adalah orang yang bebas.  Dia bebas menggunakan hak-haknya tetapi juga bebas untuk tidak menggunakan hak-haknya.  Prinsip kebebasan rasuli ini sangat relevan di zaman sekarang yang sangat dikuasai oleh hedonism dan keserakahan.  Seorang Gereja dan hamba-hamba Tuhan haruslah menggunakan kebebasannya bukan sekedar menuntut hak, tapi juga kerelaan untuk melepaskan hak-haknya demi kemajuan dan kemurnian pelayanan.  Spiritualitas yang menekankan kenikmatan dunia sangat bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab. 
4.      Paulus membedakan antara pemberitaan Injil karena keinginan sendiri dengan pemberitaan Injil sebagai keharusan atau pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.  Yang pertama memiliki upah sedangkan yang kedua tanpa upah.  Artinya: bahwa pemberitaan Injil dipahami sebagai keharusan atau pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.  Ini berarti pemberitaan Injil dilakukannya karena ia harus memberitakannya bukan karena ia memiliki hak untuk menerima bantuan finansial.  Paulus memberitakan Injil bukan agar ia dapat mempergunakan hak itu. 




[1] David L. Bartlett, Pelayanan dalam Perjanjian Baru  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hal 36. 
[2] Ibid.
[3] Wayne A. Meeks, The First Urban Christians: The Social World of the Apostle Paul (New Haven, CT: Yale University Press, 1983), hal 130-131.
[4] Teks Yunani: εσθιει, mungkin pada masa itu susu termasuk sebagai makanan.
[5] Lih. bab II
[6] Para ahli sepakat bahwa Paulus mencari nafkah sebagai pembuat kemah.
[7] Ronald F. Hock, The Sosial Context of Paul’s Ministry: Tent Making and Apostleship (Philadelphia: Fortress Press, 1980), hal 52-57.
[8] Witherington, op.cit., hal 210
[9] Hock, op.cit., hal 62
[10] Fee, op.cit., hal 418

ERNST LUDWIG DENNINGER: Misionaris Pionir di Nias

ERNST LUDWIG DENNINGER (1815-1876)
Misionaris Pionir di Nias
Oleh: Calvin Dachi 

Bagi orang Nias, sosok E.L Denninger adalah sosok yang sangat penting karena jasanya dalam pemberitaan Injil di Nias. Penghargaan orang Kristen Nias terhadap Denninger terlihat dari keputusan untuk mengabadikan nama Denninger menjadi nama salah satu jemaat di Nias. Tetapi dimana nilai penting Denninger dalam misi di Nias perlu dilihat lebih lanjut.  Kita bersyukur bahwa dalam kategori misi modern sekarang dikenal sebuah term “pioneering missionaries”.  Istilah ini mengacu kepada misionaris yang perannya adalah perintis atau pembuka jalan bagi kelangsungan pelayanan misi di sebuah daerah yang belum terjangkau sam sekali.  Isitilah ini memungkinkan kita untuk memahami lebih baik peran Denninger dalam sejarah Kekristenan di Nias.


Denninger Tidak Mendirikan sebuah Institusi Gereja
            Untuk memahami peran Denninger dalam kekeristenan Nias, kita perlu menyadari bahwa Denninger tidak pernah mendirikan organisasi gereja apa pun.  Denninger bukan pendiri salah satu organisasi gereja, tetapi dia adalah seorang perintis, pembuka jalan dimana nantinya berbagai gereja dan juga sekolah akan berdiri secara institusional dengan berbasiskan jemaat suku Nias.  Sampai tahun 1936, dapat dikatakan kekristenan Nias masih dipimpin di bawah pelayanan zendeling/misionaris RMG Jerman, dan baru pada November 1936 secara institusional  berdiri gereja BNKP.  Oleh karena itu perlu dicatat juga disini bahwa gerakan pertobatan masal Nias atau “Fangesa dodo sebua” (1915 – 1930) terjadi di bawah pelayanan para misionaris-misionaris RMG Jerman sebelum BNKP lahir.  Pentingnya kenyataan sejarah ini adalah untuk menunjukkan bahwa semua gereja yang berbasiskan jemaat suku Nias sudah sepantasnya menyadari bahwa Denninger adalah milik semua gereja-gereja yang berbasiskan suku Nias.
Saat ini ada banyak gereja yang dapat dikategorikan gereja suku Nias, mis.: BNKP, AMIN, ONKP, AFY dan yang muncul belakangan GNKPI dan BKPN yang kesemuanya berbasiskan jemaat suku Nias.  Di luar itu tentu saja masih ada institusi gereja yang di dalamnya orang Nias berjemaat walaupun bukan kategori gereja suku, mis.: GTDI (Gereja Tuhan di Indonesia), gereja Katolik dan berbagai gereja Kharismatik/pentakosta yang menyusul masuk ke Nias.  Semua ini bisa ada karena seorang yang bernama Denninger.

Denninger sebagai Missionaris Pionir
Missionaris pionir biasanya mengacu kepada pelayanan misionaris dalam rangka mendirikan gereja di tempat di mana sama sekali belum ada orang Kristen atau misionaris.  Seorang pionir memiliki kemampuan yang membuat missionaries lain mengikutinya  Mungkin inilah salah satu yang membedakan Denninger dengan Nomensen.  Ketika Nomensen masuk ke tanah Batak, sebelumnya sudah ada beberapa misionaris yang merintis misi ke tanah Batak.  Sudah ada orang yang meneliti tentang budaya Batak  Sedangkan ketika Denninger masuk ke Nias belum ada seorang pun misionaris yang ke Nias.  Juga belum ada orang yang meneliti tentang Nias yang daripadanya Denninger dapat belajar budaya Nias.  Denninger harus belajar sendiri budaya dan bahasa Nias sehingga memungkinkan dia untuk memberitakan Injil dengan cara yang dimengerti oleh orang Nias.  Kepioniran Denninger inilah yang menarik missionaries-misisonaris berikutnya untuk datang ke Nias dan membuat pelayanan misi mereka menjadi lebih mudah.  Misionaris kedua RMG yaitu J.W Thomas yang datang tujuh tahun kemudian adalah salah satu misionaris yang merasakan manfaat kepioniran Denninger yaitu dengan belajar bahasa Nias langsung dari Denninger.

Pelayanan pionir yang dikerjakan oleh Denninger
            Pada tanggal 27 September 1865, Denninger tiba Pulau Nias, tepatnya di Gunung Sitoli,  Tangal kedatangannya ini sekarang diperingati sebagai hari peringatan masuknya Injil di Nias.  Setelah tiba di Gunung Sitoli, beberapa pekerjaan rintisan dilakukan oleh Denninger yaitu sebagai berikut:
Pada tahun 1866 sekolah pertama didirikan di sebuah rumah di Gunungsitoli dan Denninger mengajar di sana.  Dia mengumpulkan beberapa pemuda dan mengajar mereka membaca dan menulis.  Pemuda-pemuda ini kemudian menjadi pembantu Denninger dalam mengajar anak-anak di sekitar Gunung Sitoli.  Dengan cara ini berarti dia juga yang merintis pelayanan anak di Nias.
Tanggal 30-05-1867, Denninger menuliskan secara resmi, bahwa suku Nias belum memiliki tatanan baku tata bahasa (sebagaimana orang di luar Nias telah kenal baca-tulis yang berlaku di masa itu, red.), yang kemudian dalam salah satu suratnya Denninger mendeskripsikan konsonan dan vokal dalam bunyi bahasa Nias ke huruf latin, dan dengan pelafalan ujaran/dengar menurut orang Jerman saat itu.
1870  Terbit Buku Sekolah (Erste Schoolboekje) ditulis oleh Denninger sebagai bahan pelajaran di sekolah bagi Hulo Niha (Pulau Nias).

Disamping itu, Denninger juga menerjemahkan Injil Yohanes dan Lukas dalam bahsa Nias.  Terjemahannya ini digunakan untuk orang Nias yang sudah bisa membaca dan juga oleh utusan-utusan RMG yang datang kemudian.  Pada tahun 1874 secara resmi terbit terjemahan Injil Lukas dalam bahasa Nias.
Pada tahun 1876, Deninger meninggal dunia dan pelayanannya diteruskan oleh misionaris-misonaris RMG lainnya.

Refleksi teologis
Pentingnya peran Denninger dalam masyarakat Nias bukanlah terutama pada hasil yang diperoleh oleh E.L Denninger dalam misi ke Nias.   Dalam hal keberhasilan pekerjaan misi kita tidak bisa membandingkan Denninger dengan Nomensen di Batak.  Di Batak,  pelayanan misi Nomensen berlanjut hingga berdirinya HKBP bahkan beliau menjadi Ephorus pertama HKBP,  sedangkan Denninger tidak pernah mendirikan organisasi gereja apapun di Nias.  Peran penting Denninger adalah jasanya yang membuat banyak misionaris akhirnya datang ke Nias dengan persiapan yang lebih baik.  Mereka bisa datang dengan persiapan yang lebih baik karena karena informasi yang disediakan oleh Denninger baik tentang budaya maupun bahasa Nias.  Ini kemudian membuat pekerjaan misionaris berikutnya menjadi jauh lebih mudah.  Dan dalam hal inilah Denninger patut mendapat tempat khusus di hati orang-orang Kristen Nias sampai sekarang ini, apapun gerejanya.