Selasa, 09 Februari 2016

Meninjau Ibadah dan Peran Gembala/Pendeta dalam Gereja Purba

Meninjau  Ibadah dan Peran Gembala/Pendeta dalam Gereja Purba

Oleh: Calvin Dachi


A.  Latar belakang
Kita perlu menyadari bahwa ada perkembangan terus menerus dalam sistem  pelayanan dan  peribadatan Kristen.  Mula-mula pimpinan gereja berada ditangan rasul-rasul, pengajar-pengajar, nabi-nabi yang kepemimpinannya diakui karena karunia yang kuar  biasa, sedangkan mereka tidak terika pada satu jemaat saja.  Disamping itu, mulailah ditetapkan penatua-penatua dalam tiap-tiap jemaat dan dipilih orang-orang yang diberi tugas mengamat-amati jemaat (uskup=penilik).  Para penilik jemaat juga bertugas mengurus soal keuangan, administrasi dan memimpin kebaktian.  Mereka dibantu oleh diakonos yang bertugas untuk melayani orang miskin, memungut uang derma, dan melayani pada Perjamuan Kudus.

Setelah rasul-rasul meninggal, sampai tahun 100 kita masih menemukan perbedaan antara pemimpin/pelayan yang ditetapkan dan pemimpin/pelayan yang berdasarkan carisma (karunia Roh).  Lama kelamaan golongan berkharisma semakin berkurang, maka peranan para uskup semakin kuat, dan lama kelamaan terbentuk golongan imam yang mengetahui seluk beluk agama Kristen sehingg dapat menguasai orang banyak.  Maka terbentuklah kaum klerrus/pejabat gerejawi yang memimpin kebaktian-kebaktian jemaat dengan kebaktian yang teratur.

Memang pernah ada sebuah usaha untuk memulihkan kharisma-kharisma untuk gereja oleh salah seorang pemimpin gereja bernama Montanus pada periode 185-212 M.  Walaupun pada awalnya mencapai beberapa keberhasilan dimana bahasa roh dan nubuat dipulihkan di antara pengikut Montanus, gerakan tersebut akhirnya dikutuk oleh gereja.   Penyebab utama penolakan ini bukanlah karena adanya kharismata, melainkan klaim Montanus bahwa perkataan-perkataan profetis adalah setara dengan Firman tertulis.   Banyak sarjana pada masa kini merasa bahwa gereja telah bereaksi berlebihan terhadap Montanism dengan mengatakan bahwa kharisma-kharisma telah ditarik sesudah kesempurnaan kanon Kitab Suci diterima.

B.  Ibadah dalam Gereja Purba
Untuk memahami bagaimana pelayanan dan penggembalaan dilakukan di dalam gereja purba, berikut penulis mengajukan beberapa catatan sejarah yang dikumpulkan dari beberapa sumber.

Catatan sejarah pertama:  Sekitar tahun 150 Yustinus Martir menjelaskan jalannya kebaktian bagi pembacanya yang bukan Kristen, ia mengatakan:
 Pada hari yang dinamakan Hari Matahari, ada kumpulan di satu tempat bagi semua anggota di kota atau di distrik tertentu.
Acara kebaktian digambarkan sebagai berikut:
Kenang-kenangan para Rasul (= kitab-kitab Injil) atau tulisan-tulisan para nabi dibacakan selama waktu tersedia.  Setelah pembaca selesai, maka Uskup dalam khotbah menyerukan kepada kami agar meneladani hal-hal yang baik itu.  Lalu kami berdoa sambil berdiri.

Perjamuan Kudus dirayakan setiap hari Minggu, roti dibawa kepada ketua, dan juga anggor yang bercampur dengan air.  Ia mengucapkan doa syukur (Eukharistia) dan jemaat mengatakan Amin.  Kemudian para diaken memberikan roti dan anggur kepada para hadirin dan mengantarnya kepada anggota-angota yang tidak hadir.  Pada akhir kebaktian diadakan kolekte.   Mereka yang berada dan semua yang mau, memberi sumbangan dalam kolekte.  Hasilnya dititipkan kepada ketua (uskup) dan ia memelihara anak-anak yatim piatu, Janda-janda dan orang-orang yang sakit atau yang berkebutuhan karena sebab yang lain, mereka yang dalam penjara, dan orang-orang asing yang tinggal disini.

Sedangkan baptisan dilayankan dalam upacara tersendiri di luar kebaktian umum.  Sebagai persiapan, calon baptisan harus berpuasa.  Ia menyatakan imannya dengan rumusan tertentu, lalu ia dibaptis, pada umumnya dengan diselamkan (seluruhnya atau sebagian), tetapi kalau air tidak cukup maka penyiraman juga boleh.  Pada waktu itu memang sudah mulai ada pembaptisan anak-anak tetapi tidak sering karena kebanyakan orang Kristen merasa bahwa dengan itu sakramen baptisan dianggap enteng.  Pendapat ini didasarkan pada keyakinan bahwa pembaptisan menganugerahkan pengampunan dosa.

Catatan Sejarah kedua,   pada tahun 251 ibadah minggu di Roma digambarkan sebagai berikut:
Seorang Kristen bangun pagi-pagi, mandi dan mengenakan pakaian sederhana.  Lalu ia mengucapkan doa pagi dengan berdiri tegak, mata terbuka menengadah ke langit dan kedua tangan dikembangkan ke atas.  Lalu ia pergi ke gereja.
Di dalam gereja tidak ada bangku-bangku, kecuali beberapa buah saja untuk orang-orang tua dan lemah.  Jemaat berdiri dengan muka ke arah altar (mezbah).  Di belakang altar ada tangga ke atas panggung kecil dimana tedapat kursi uskup.  Orang-orang yang masuk gereja pergi ke depan untuk menaruk persembahan di atas altar.  Ada yang mempersembahkan roti atau anggur yang akan dipergunakan dalam ekaristi (Perjamuan Kudus).

Kebaktian dimulai: ada pembacaan firman dari surat-surat rasuli, lalu dari Perjanjian Lama, yang berlangsung cukup lama.  Lalu dinyanyikan salah satu mazmur.  Alat musik tidak ada sebab dianggap tidak pantas dipakai dalam kebaktian.  Yang ada ialah seorang Cantor (pemimpin biduan).  Dia dan jemaat menyanyikan mazmur bersahut-sahutan.  Setelah itu uskup berkhotbah.  Ia tidak berdiri tetapi duduk di kursi yang cukup tinggi  selama khotbah, jemaat tidak berdiam diri saja, ada orang yang berseru Rahmat Allah besar! sebagai tanda setuju dengan kata-kata sang uskup, ada juga yang bersungut-sungut karena tidak setuju.

Setelah khotbah selesai, semua orang yang belum dibaptiskan atau yang belum  masuk Kristen disuruh keluar.  Yang sudah dibaptis boleh tetap tinggal, kecuali kalau berbuat dosa berat lagi sesudah dibaptis, ia harus menjalani masa penyesalan yang panjang dan berat, ia tidak boleh ikut serta dalam Perjamuan Kudus.  Selama bagian pertama kebaktian, ia harus berdiri di belakang sekali dalam gereja.

Setelah orang-orang yang belum dibaptis keluar, maka pintu dikunci.  Anggota-anggota jemaat saling memberi ciuman damai.  Lalu sang uskup mengucapkan Tuhan menyertai kamu!  Dan jemaat menjawab dengan rohmu pula.
Uskup: Arahkanlah hatimu ke atas!
Jemaat: Terangkatlah kepda Tuhan.
Uskup: MArilah kita mengucapkan syukur kepada Tuhan!
Jemaat: Itu layak dan baik.

Lalu uskup berdoa memohon Roh Allah turun atas korban persembahan jemaat dan dengan doa tersebut orang banyak yakin bahwa peserta Perjamuan Kudus betul-betul menerima tubuh dan darah Kristus.  KArena itu mereka berhati-hati sekali dalam menerimanya: Tidak boleh ada serpihan roti yang jatuh sehingga dimakan tikus.  Tidak boleh setetes pun anggur tertumpah agar setan-setan yang menjilatnya jangan sampai memperoleh kekuatan-kekuatan sorgawi.

Sesudah perayaan ekaristi/Perjamuan Kudus, kebaktian selesai.  Orang keluar dari gereja.  Di rumahnya, sesudah matahari terbenam, mereka memanjatkan doa memohon supaya Kristus yang adalah Matahari Kebenaran itu datang dengan segera membawa terang yang benar.


C.  Beberapa catatan dari data sejarah di atas
Berdasarkan data sejarah yang diungkapkan di atas, penulis mencoba memberikan semacam pandangan mengenai jalannya ibadah dan pelayanan gembala dalam gereja Purba.  Untuk tidak membingungkan, yang dimaksud dengan uskup/penilik atau ketua dalam data sejarah di atas adalah sama dengan pendeta atau gembala dalam gereja sekarang.

1.  Ibadah di gereja Purba

a. Penekanan pada  Pembacaan Firman dan Khotbah
Jika mengamati deskripsi yang diberikan dalam ibadah gereja sekitar tahun 150 M dan tahun 251 M maka penulis melihat bahwa pada ibadah minggu, pembacaan Firman/Kitab suci sangat dominan dan mendominasi seluruh waktu yang digunakan untuk ibadah.

b.  Cukup menarik untuk diperhatikan bahwa ternyata nyanyian jemaat hanya diberi porsi yang tidak terlalu banyak dalam ibadah.  Ibadah tahun 251 M mengatakan nyanyian jemaat sebatas menyanyikan salah satu mazmur.  Kelihatannya ini masih meneruskan tradisi dari Sinagoge dimana Mazmur-mazmur dinyanyikan.

c.  Cukup mengejutkan bahwa khotbah bersifat interaktif.  Jemaat tidak bersikap pasif dalam mendengarkan khotbah, melainkan memberikan tanggapan-tanggapan spontan atas khotbah yang disampaikan oleh gembala.

d. Akhirnya, kita membaca ada dua sakramen yang dijalankan di gereja purba, yaitu:  Perjamuan Kudus dan Baptisan.  Perjamuan Kudus dipercaya memberikan kekuatan rohani dan hanya bisa diikuti oleh orang yang sudah dibaptis.  Hal ini dapat dimengerti karena pada zaman itu, baptisan berhubungan erat dengan pengakuan percaya.  Artinya: hanya yang mengaku percaya yang bisa dibaptis.

2.  Tanggung jawab Pendeta/Gembala

Catatan sejarah di atas juga memberikan informasi kepada kita tentang apa tugas dan tanggung jawab seorang Pendeta/Gembala.  Penulis menggaris bawahi beberapa tugas utama pelayanan seorang Gembala/Pendeta:

a.  Berkhotbah.  Tugas berkhotbah ini dilakukan sesudah pembacaan Firman Tuhan. Menurut pendapat penylis, para pendeta/gembala  di gereja purba berkhotbah setelah membaca tulisan-tulisan dari Kitab Suci (Injil, Surat-surat dan Perjanjian Lama) dan melanjutkannya dengan berkhotbah.  Tidak disebut ada petugas khusus untuk membaca Kitab Suci mengingat ketersediaan Alkitab masih sangat terbatas pada saat itu.

b.  Memimpin doa, khususnya dalam memimpin Perjamuan Kudus.  Sedangkan dalam ibadah minggu dicatat bahwa doa dilakukan bersama-sama.  Tidak disebut bahwa baptisan harus dilayankan oleh gembala atau pendeta.

c.  Hal yang menarik adalah tugas pendeta/gembala untuk memelihara anak-anak yatim piatu, Janda-janda dan orang-orang yang sakit atau yang berkebutuhan karena sebab yang lain, mereka yang dalam penjara, dan orang-orang asing yang tinggal disini.  Kelihatannya tugas itu dilakukan bersama para diaken, karena disebutkan bahwa para diaken juga mengantarkan roti dan anggur perjamuan Kudus kepada jemaat yang tidak hadir.  Tapi pelaksana utama pelayanan tersebut adalah pendeta/gembala.


D. Penutup
Tentu masih ada banyak hal yang bisa dibicarakan dari catatan-catatan sejarah tentang ibadah dan pelayanan para pendeta/gembala di gereja purba.  Namun informasi ini penulis berikan agar kita semua semakin menyadari bahwa ibadah dan tanggung jawab penggemabalaan seharusnya semakin mendekatkan kita kepada orang-orang yang marginal dan membutuhkan pertolongan, bukan menciptakan kesenjangan atau gap.



Daftar Pustaka:
Klauser, Th., Sejarah Singkat Liturgi Barat.  Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Van den End, T., Harta dalam Bejana: Sejarah Gerejs Ringkas.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.