Minggu, 27 Juli 2014

Sejarah Pelayanan Pastoral


SEJARAH PELAYANAN PASTORAL

oleh: Calvin Dachi, SSi., MAIE., MTh


A.     Pendahuluan
           Tulisan ini merupakan sebuah studi terhadap sejarah pelayanan pastoral dari beberapa sumber.  Sumber-sumber utama yang membicarakan sejarah pelayanan pastoral ini adalah buku Pastoral Care in Historical Perspective yang ditulis William A Clebsch dan Charles R. Jaekle dan buku Teologi Penggembalaan: Sebuah Pengantar yang ditulis oleh Derek J. Tidball.  Alasan untuk memilih kedua buku ini adalah karena penulis menilai bahwa kedua buku ini berusaha untuk membahas sejarah pelayanan Pastoral dengan cukup komprehensif dan dengan pendekatan yang cukup berbeda.   Penulis lain yang membicarakan sejarah pelayanan pastoral adalah Seward Hiltner.[1]  Dalam bukunya Pengantar untuk Teologi pastoral Hiltner memberikan bab khusus untuk membicarakan sejarah pastoral itu sendiri.  Namun pembahasan sejarah pelayanan Pastoral oleh Hiltner ini kurang menyeluruh karena hanya melihat sejarah pelayanan Pastoral sejak jaman Reformasi gereja dan lebih focus pada apa yang melatari kelahiran teologi pastoral dan perkembangan studi teologi pastoral selanjutnya. 

           Dalam Pastoral Care in Historical Perspective, Clebsch dan Jaekle membagi periode sejarah pelayanan pastoral dalam 8 periode dengan perhatian khusus fungsi pastoral apa yang dominan dalam setiap periode.  Fungsi-fungsi pastoral yang dimaksud oleh Clebsch dan Jaekle adalah empat fungsi pastoral sebagai berikut:
1.       Healing (Menyembuhkan)
2.      Sustaining (Mendukung/Menopang)
3.      Guiding (Membimbing)
4.      Reconciling (Memulihkan)
           Dapat dipastikan bahwa dalam setiap periode pastoral pelayan-pelayan kekristenan menyembuhkan (healing) dan mendukung (sustaining) dan membimbing (guiding) dan memuihkan (reconciling) orang-orang yang dalam kebingungan/masalah.  Namun setiap periode juga memperlihatkan bahwa salah satu fungsi itu lebih menonjol dari yang lainnya.
           Disamping itu, dalam sejarah, ke empat fungsi pastoral itu juga dioperasikan dengan berbagai modus dan cara.  Mis.: di awal abad pertengahan pelajaran katekisasi dalam dasar etika Kristen bersama dengan penyesalan dosa-dosa dan hukuman yang sesuai adalah cara yang dominan dalam membimbing umat. 
           Berbeda dengan Clebsch dan Jaekle,  dalam buku Teologi Penggembalaan: Sebuah Pengantar, Tidball membagi sejarah pelayanan pastoral dalam 5 periode.   Dalam ke lima periode pelayanan pastoral ini, Tidball lebih memperhatikan perkembangan pelayanan pastoral dari waktu ke waktu berdasarkan apa yang dikerjakan atau yang harus dikerjakan oleh para gembala atau pejabat gerejawi.  Kesamaan Tidball dengan Clebsch adalah bahwa keduanya memperlihatkan bagaimana konteks historis pastoral turut mempengaruhi pelayanan pastoral dalam setiap periode.


B.  Sejarah Pelayanan Pastoral menurut Clebsch dan Jaekle

I.                   Kekristenan Primitif: Mendukung/menopang (sustaining) dalam gereja Primitif.
 Era pertama ini berakhir pada tahun 160 M.  Cirinya pada penekanan sustaining souls (mendukung atau menopang jiwa-jiwa) untuk bisa melalui perubahan hidup di dunia yang dipercayai orang Kristen mula-mula akan berlangsung cepat kepada akhir. 
Pada masa ini sikap orang Kristen sangat dipengaruhi oleh harapan bahwa kedatangan Yesus kedua kali sudah dekat dan kesudahan dari keseluruh dunia.  Karena itu para gembala cenderung menasehatkan para budak untuk bersabar dengan keadaan meraka, para janda tetap menjanda, yang belum nikah tetap tidak menikah dan seterusnya.  Peringatan bahwa waktunya adalah singkat  dan akhir zaman sudah dekat sangat kuat dalam kekristenan primitive.  Karena pengampunan ilahi telah diterima oleh orang-orang percaya yang telah dibaptis, maka mereka diharuskan untuk menjalani hidup yang suci.  Namun dipertengahan abad ke 2, muncul masalah dosa pasca baptisan.  Hermas dalam bukunya The Shepherd  mencatat bahwa pengampunan tersedia bagi mereka yang berdosa sesudah dibaptis, tetapi hanya untuk dosa yang kurang menyedihkan (dosa yang tidak berat).[2]

II.                Di bawah penindasan: Pemulihan selama Penganiayaan.
Dalam era penganiayaan sekitar 180-306 M fungsi pemulihan (reconciling) orang-orang yang bermasalah kepada Allah dan kepada gereja menjadi lebih penting dari pada fungsi mendukung/menopang (sustaining).  Kekaisaran Romawi menuntut kesetiaan orang-orang Kristen terhadap kekaisaran.  Masalah  terjadi ketika kesetiaan orang Kristen itu dituntut dengan cara partisipasi kultus Romawi.  Karena orang kristen sering menolak untuk ikut dalam kultus kekaisaran Romawi, maka mereka dianiaya.  Dalam keadaan ini, banyak orang Kristen yang kompromi.  Karena itu, selama periode ini para gembala bekerja keras untuk menentukan tingkat dan jenis penolakan orang Kristen yang dapat diampuni.  Fungsi utama pastoral dalam keadaan ini adalah memulihkan (reconciling) orang yang mengingkari imannya untuk kembali ke gereja. Kemudian pengampunan pasca baptisan hanya diizinkan jika mereka melakukan dosa yang tidak tergolong dosa berat  (penyembahan berhala, berzinah dan membunuh).

III.             Kebudayaan Kristen:  Pembimbingan (Guidance) dalam Kerajaan Gerejawi.
 Periode ketiga dicirikan oleh pembimbingan (guiding) orang-orang Kristen untuk berperilaku sesuai dengan kebudayaan Kristen yang baru.  Periode ini terjadi ketika kekristen menjadi agama resmi di bawah kekaisaran Constantinus Agung, dan berlanjut di dalam kekristenan Timur melalui budaya Byzantine.  Pada periode ini, kekristenan berfungsi sebagai pemersatu masyarakat dan gereja bertanggung jawab untuk kesatuan dogmatis dan keseragaman gereja.  Oleh karena itu, fungsi pastoral yang ditekankan adalah fungsi membimbing (guiding).  Pada masa ini juga banyak fungsi pastoral menjadi lebih formal.  Pelayanan penyembuhan (healing) terpusat pada pengurapan dengan minyak suci, dan pelayanan pemulihan (reconciling) sebagian besar menjadi persoalan pengaturan dan pemaksaan kebijakan gerejawi yang standar.  Sedangkan pelayanan untuk member dukungan/topangan (sustaining) hanya focus pada masalah khusus pribadi seperti dukacita dan penyakit yang tidak dapat disembuhkan.  Semuanya ini dilakukan dalam rangka memperkuat Pembimbingan.

IV.             Abad-abad Kegelapan.  Pembimbingan orang Eropa secara Induktif.
 Di Barat, di awal abad ke 5 gereja menghadapi tugas raksasa untuk menarik gerombolan-geromnblan masyarakat primitive yang mendiami wilayah eropa Barat.  Fungsi pembimbingan ternyata cocok untuk meyakinkan masyarakat barbar  agar mau menerima penjelasan, diagnose dan perbaikan dari agama Kristen untuk mengatasi masalah-masalah mereka.  Gereja mengembangkan pembimbingan yang bersifat induktif.
            Pemeliharaan jiwa berlangsung di biara-biara menjadi standar penggembalaan.  Gagasan biara menimbulkan skema perkembangan rohani yang dapat mematikan kesombongan dan memunculkan kerendahan hati.

V.                Umat Kristen Medieval  dan Penyembuhan Skaramental.  Era ini membawa pemeliharaan pastoral dalam system sakramen yang dirancang untuk menyembuhkan semua penyakit yang menyerang setiap segmen kehidupan umat.  Hal ini terjadi karena pada akhir abad ke 11, gereja Katolik telah menyebarkan kehidupan masyarakat Eropa.  Peneguhan agama menjadi dasar dibangunnya ikatan social.  Universalitas dan kesatuan gereja disimbolkan dalam Kepausan dan Kekaisaran Romawi.  Pemeliharaan jiwa-jiwa dipusatkan berdasarkan kuasa dari anugerah yang ilahi untuk menyembuhkan gangguan atas eksistensi manusia.  Para pastor menawarkan penyembuhan ini dengan sarana yang opbjektif, wujud skaramental dari anugerah itu.

VI.             Pembaharuan dan Reformasi.  Bangkitnya individualism Renaissance dan Reformasi mendorong timbulnya perhatian atas cure of souls dimana pelayanan pastoral lebih mengutamakan pemulihan seseorang secara individu kepada Allah yang benar.  Sebelumnya, pemulihan mengambil bentuk sebagai perantara bagi umat atau sebagai pertolongan untuk mendapatkan pengampunan ilahi secara mistis lewat sakramen.  Di abad ke 16 ini para gembala dan gereja memanfaatkan fungsi pemulihan dengan cara disicipline.   Tangga rohani yang dipakai di biara sekarang diterapkan juga kepada para pendeta dan awam kelas menengah. 
Fungsi pemulihan diinterpretasikan dengan berbagai cara.  Seorang Kardinal Italia  memahami pemulihan sebagai pembenaran dosa-dosa individu di hadapan Tuhan.  Calvin mengembangkan system disiplin gereja dengan cara dimana pemulihan hubungan dengan Allah melibatkan pemulihan hubungan dengan orang percaya lainnya.  William Tyndale memahami rekonsiliasi (pemulihan) dengan Allah untuk memulai hidup dalam pemulihan horizontal.

VII.          Pemberian dukungan di zaman Pencerahan.  Penggembalaan Kristen focus dengan tajam pada pemberian dukungan/topangan saat mereka melalui pengkhianatan dan perangkap-perangkap dari dunia jahat yang mengancam.
Seorang tokoh zaman ini, yaitu Baxter mendefinisikan penggembalaan jiwa-jiwa mengandung dua hal:
1.      Menyingkapkan kepada manusia bahwa kebahagiaan, atau kebaikan utama haruslah menjadi tujuan akhir mereka.
2.      Memperkenalkan kepada mereka cara-cara yang benar untuk pencapai tujuan ini, dan menolong mereka untuk menggunakannya dan menghalangi mereka melakukan yang sebaliknya.

VIII.       Era Pasca-umat Kristen.  Munculnya lingkungan baru sebagai akibat revolusi di akhir abad 18 dan awal abad 19 yang menentang masyarakat Kristen yang sudah terbentuk sebelumnya.  Peradaban barat modern mendesak agama sebagai urusan pribadi.  Karena agama adalah urusan  pribadi, maka keanggotaan gereja ditempatkan berdasarkan kerelaan dan menimbulkan keragaman dalam hal fungsi pembimbingan gerejawi, keputusan yang beranekaragam terhadap orang-orang yang bermasalah yang kemudian akan member dasar bagi psikologi dan psikologi agama. 

C.  Tinjauan Sejarah Teologi Pastoral menurut Derek J. Tidbal
I.                    Abad-abad permulaan
Tidball mengatakan, bahwa pada abad-abad permulaan ada empat faktor utama yang menentukan bentuk pelayanan pastoral:
-          Proses-proses pelembagaan yang alami
-          Perpecahan dan penjelasan untuk mempertahankan iman yang ortodoks
-          Budaya dan intelektual pada zaman itu
-          Gereja sebagai minoritas yang dianiaya

Periode Pasca Rasuli
Dari surat-surat Ignatius:  pada masa ini terjadi pemisahan antara pejabat gereja dan kaum awam  Bentuk pelayanan pastoral adalah penekanan akan perlunya menaati para pejabat gerejawi.  Motivasi pelayanan untuk melindungi kawanan domba.   Tugas pastoral yang terutama  adalah mengajar. 
Dari tulisan Polikarpus, sktr tahun 110M, kita mengetahui bahwa tugas pejabat gerejawi ialah menemukan kembali orang-orang yangh tersesat, memperhatikan orang yang lemah dan tidak melalaikan janda, yatim piatu dan orang miskin.  Sedangkan Klemens menekankan tugas pejabat gerejawi sebagai pendidik dan penuntun.  Cyprianus dalam pelayanannya sangat menonjolkan tanggung jawaba pemeliharaan pastoral.  Perkembangan selanjutnya, uskup ditempatkan dalam puncak kekuasaan:  Dalam disiplin sebagai hakim, dalam doktrin sebagi pengajar, dalam penggembalaan sebagai pengkhotbah.

Periode Paska Konstantinus
Kaisar Konstantinus bertobat tahun 312 dan iman Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi.  Pada masa ini pelayanan penggembalaan dianggap sebagai panggilan yang tinggi dan kudus.   Tuntutan terhadap gembala cukup tinggi: gembala tidak boleh tercemar,  dalam kesucian dan harus memiliki sifat-sifat seorang malaikaf.  Gembala tidak hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi sejumlah besar orang. 
            Gembala juga digambarkan sebagai pemandu yang dengan terampil mengemudi kapal gereja.  Banyak orang yang mengharapkan pimpinan dari gembala agar mereka dengan selamat melalui badai, arus dan rintangan-rintangan.  Tugas penggembalaan juga dikiaskan dengan istilah medis sebagai tugas mengobati/menyembuhkan.
Agustinus dari Hippo merumuskan tugasnya sebagai gembala sbb.: Memarahi orang yang menimbulkan percekcokan, menghibur orang  kecil hati, membela orang yang lemah, menyanggah para  penentang, waspada terhdapa berbag ai jebakan, mengajar orang yang tidak bnerpengatuan, mengajarkan orang yang tidak berpengathuan, menolong orang yang miskin, membebaskan ornag tertindas dsb.  Ia mengatakan: “Berkhotbah, membantah, menegur, membangun, selalu siap sedia untuk menolong setiap orang, itulah beban berat yang saya pikul”.
Bagi Agustinus, pelayanan bersifat sacramental.  Ia percaya bahwa sakramen-sakramen dapat diadakn di luar gereja yang benar tetapi tidak berhasil guna.  Akibatnya muncul pandangan bahwa sifat-sifat pribadi pelayan sakramen itu kurang penting bagi keabsahan sakramen.  Keabsahan sakramen ditentukan oleh satu-satunya gereja yang benar, bukan oleh pelayan itu. 

II.                Abad Pertengahan
Para pejabat gereja memasuki abad pertengahan dilengkapi dengan karya Gregorius Agung berjudul Pastoral Rule.  Namun kerohanian pejabat gereja telah merosot karena gereja terikat dengan masalah-masalah duniawi.  Usaha perbaikan muncul dan praktek pastoral dirumuskan oleh Innocentius III sebagai memberi makan kepada kawanan domba melalui teladan pribadi, melalui ajaran dan melalui sakramen dengan hikmat ilahi dan kesetiaan yang tinggi kepada iman rasuli.  Innocentius sangat mengerti arti penting penggembalaan para pejabat gereja dengan mengatakan “Sang gembala harus rajin dalam melaksanakan pemeliharaan pastoralnya agar tidak ada domba yang sakit dalam kandang yang dapat menularkan penyakitnya.” 


III.             Refomasi dan Warisannya
Dua persoalan besar reformasi:  Bagaimana aku mendapat Allah yang pemurah? Dan “Dimanakah aku temukan gereja yang sejati?”  Berdasarkan ini, terjadi perubahan pelayanan pastoral dalam Reformasi.
Luther berkata bahwa gereja sejati ditemukan dimana saja firman Allah diberitakan.  Tanda yang pasti untuk mengenalki suatu jemaat Kriosten adalah bahwa disana Injil yang murni diberitakan.  Oleh karena itu, pelayanan menjadi pelayanan Firman dan gembala menjadi pengajar kawanan domba, bukan penyalur  sakramen-sakramen.  Pemeliharaan pastoral mengambil bentuk penerapan firman Allah pada berbagai kebutuhan umat dan dorongan kepada umat untuk percaya pada firman itu.
            Salah satu tema dalam bimbingan pastoral yang menonjol dari Luther  adalh penghiburan.  Manusia membutuhkan penghiburan tidak hanya saat menghadapi penyakit atau kematian tetapi ketika menghadapi kebimbangan, kepoutusasaan, kekacauan dan pencobaan menyerang rohnya .

Martin Bucer
Martin Bucer menulis tentang pelayanan pastoral dalam karyanya  Tentang Pemeliharaan Jiwa-jiwa.   Berdasarkan Yehezkiel 34, Bucer berpendapat bahwa gembala harus:
a.       Membawa kepada Kristus dan ke dalam gereja, orang-orang yang tersesat karena dosa atau kesalahan.
b.      Memulihkan kembali mereka yang telah mundur
c.       Memulihkan kembali mereka yang telah jatuh ke dalam dosa meskipun masih tetap di gereja
d.      Memulihkan orang-orang yang lemah dan sakit dan perlu dikembalikan kesehatan, kekuatan dan kehidupan kristennya sekali lagi
e.       Memelihara serta meneguhkan mereka yang sedang mengikut Kristus.

Yohanes Calvin
Yohanes Calvin lebih dikenal sebagai teolog akademis dan penegak disiplin gereja, tetapi buka sebagai seorang gembala atau pengkhotbah.  Namun, buku-buku tafsirannya penuh dengan ulasan-ulasan pastoral dan surat-suratnya penuh dengan wawasan gembala.  Calvin juga terlibat dalam pekerjaan pastoral karena tahun 1550-1559 ia memimpin 170 upacara pernikahan dan sekitar 50 upacara baptisan. 
            Menurut Calvin, pekerjaan gembala adalah “memberitakan firman Allah, mengajar, menegur, menasehati, mengecam, baik di muka umum maupun secara pribadi, melaksanakan sakramen dan menjatuhkan hukuman terhadap saudara seiman bersama dengan para penatua dan rekan kerja.

Richard Baxter (1615-1691)
Baxter adalah seorang tokoh dalam roformasi yang pernah menjadi kurator di Kidderminster, kemudian pindah menjadi pendeta tentara selama lima tahun di Coventry dan dengan the New Model Army.  Kemudian dia diminta kembali oleh jemaat sebagai vikaris Kidderminster pada tahun 1647.
            Dalam karyanya The Reformed Pastor Baxter menjelaskan falsafah pelayanannya.    Menurut Baxter, pelayanan menuntut “ketrampilan, tekad dan kerajinan yang tidak kendor” dan bukan beban yang ditanggungkan di atas bahu seorang anak.  Sang gembala haruslah seorang yang sudah bertobat.  Kalau tidak, maka pelayanan khotbah tidak akan menyelamatkan dirinya bahkan dapat meninabobokan dia dalam kerohanian palsu dan memberikesan seolah dia sudah selamat.
            Seorang gembala perlu dewasa secara rohani, mengejar kesalehan serta harus bersemangat secara rohani.  Jika kerohaniannya dingin, maka kerohanian kawanan donmba pun akan demikian.  Oleh karena itu, jika kerohaniannya surut, ia dapat membangun dirinya dengan disiplin rohani, dengan membaca buku yang membangkitkan semangat atau bermeditasi tentang sesuatu hal yang besar.  Mengabaikan disiplin-disiplin tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi umatnya.
            Ada tujuh sasaran pelayanan gembala.Yang paling penting adalah berusaha membawa orang yang beklum bertobat kepada pertobatan.  Kedua: member pengarahan kepada orang-orang yangh mencari kebenaran dan menyadari dosanya.  Ketiga, membangun mefreka yang sudah di dalam Kristus.  Keempat, keluarga-keluarga perlu diperhatikan.  Kelima, orang sakit dikunjungi.  Keenam, orang yang bersalah perlu ditegur.  Ketujuh, sang gembala perlu sungguh-sungguh dalam melaksanakan disiplkin gereja.  

George Herbert (Anglikan, 1593-1633)
Akibat reformasi, di kalangan gereja-gereja Anglikan muncul minat baru untuk meningkatkan mutu perawatan rohani dan standar pelayanan.  Salah seorang tokohnya adalah George Herbert yang menulis The Country Pastor.  Herbert mengatakan: “seorang gembala adalah wakil kristus untuk menjadikan manusia taat kepada Allah.”  Oleh karena itu, tingkah lakunya haruslah kudus, adil, bijak, tidak memihak, berani, sungguh-sungguh, sabar, dan menyangkal diri.  Kalau ia sudah menikah, rumah tangganya akan menjadi pola bagi jemaatnya.  Ia harus menjadi pusat kehidupan jemaat, menyenangi adat klebiasaannya yang lama kalau tidak merugikan gereja. Ia harus menunjukkan pengetahuan tentang masalah pedesaan seperti bercocok tanam dan memelihara ternak, tetapi juga bertindak sebagai guru, advokat dan domter bagi umatnya.
            Tugas rohani gembala terutama tiga.
a.       Memimpin ibadah jemaat dan melayankan sakramen-sakramen, baik di gereja maupun kepada orang-orang sakit di rumah karena “ini merupakan penawar yang menenangkan dan ampuh bagi jiwa-jiwa yang sakit karena dosa.”
b.      Ia harus mengajar umat dalam soal-soal iman melalui berkhotbah dan ketekisasi.
c.       Kunjungan.  Pada hari minggu , sesudah melakukan tugas-tugas umum “sisa waktu dipakai untuk mendamaikan tetangga-tetangga yang berselisih atau mengunjungi orang sakit, atau dengan menegur dan menasehati jemaat yang tidak dapat atau tidak dicapai oleh khotbahnya.

Kaum Puritan
Di antara orang-orang  puritan berkembang minat yang luas terhadap konseling rohani yang membicarakan masalah seperti rasa tertekan, ketiadaan keyakinan, penderitaan, pencobaan dan kejatuhan dalam dosa.  Tokoh-tokohnya adalah John Owen, Thomas Brook, Richard Sibbes, Robert Bolton, Thomas Manton, Thomas Goodwin dan William Gurnall menggunakan perspektif pastoral ini dalam tulisan-tulisan mereka mengenai teologi.
Tiga pokok pemikiran mengenai pendekatan mereka.  Pertama, sebelum petunjuk atau nasehat apapun diberikan, perlu untuk mengetahui keadaan rohani orang yang mencari bimbingan.  Ada perbedaan dalam cara menangani seorang anak terang yang berjalan dalam kegelapan dan seorang anak gelap yang berjalan dalam terang.  Penanganan untuk yang pertama adalah dengan memeriksa secara teliti berbagai penyebab persoalannya disusul dengan penerapan alkitab dan petunjuk tentang langkah-langkah praktis yang harus diambil.  Kasus yang kedua tidak dapat diberikan penawar apapun sebelum ia lebih dahulu menerima hidup dalam Kristus. 
Kedua, Orang-orang puritan bekerja berdasarkan apa yang sekarang diseb ut pendekatan studi kasus.  Pendekatan kepada masalah dilakukan dengan cermat.  Masalah dijelaskan dan kemudian semua penyebabnya dicatat dan ditelaah.  Jawaban selalu didasarkan pada Kitab Suci.
Ketiga, penawarannya terdiri atas penerapan kitab suci dan juga atas petunjuk praktis.  Orang yang terbukti memiliki iman yang membenarkan, akan didorong untuk melihat maksud-maksud Allah yang lebih luas dalam mengizinkan pengalamannya, sebelum ia dinasehati untuk percaya janji-janji atau ajaran-ajaran Kitab Suci yang sesuai.  Tetapi diselang seling penelaahan Kitab Suci, juga diberi nasihat praktis.  Mis, kepada orang-orang yang tidak memiliki keyakinan, mereka harus giat menggunakan kasih karunia, taat, merenungkan jangkauan kemurahan Allah, memeriksa perbedaan antara orang percaya dengan yang tidak percaya, berusaha untuk bertumbuh dalam kasih karunia, menemukan apakah yang kurang dalam hal-hal berikut, seperti kasih atau pengetahuan, yang seharusnya menyertai keselamatan.

IV.             Kebangunan Rohani Injili
Kebangunan rohani Injili menghidupkan perhatian kepada sifat dasar dan pekerjaan pelayanan.   Pemahaman tentang perawatan pastoral pada periode ini diungkapkan oleh John Wesley sebagai tugas menyelamatkan jiwa-jiwa.  John Wesley lebih lanjut berkata:  tidak hanya membawa jiwa-jiwa untuk percaya kepada Kristus, tetapi membangun mereka dalam iman yang kudus.  Wesley berpendapat, bahwa setelah orang dibawa kepada Kristus, pada saat itulah perawatan yang utama dimulai.
            Mengingat begitu banyaknya orang yang bertobat dalam kebangunan rohani yang dilayaninya, John Wesley mempersatukan petobat-petobat itu dalam perhimpunan-perhimpunan.  Di dalam perhimpunan-perhimpunan itu mereka mempraktekkan disiplin rohani, mendorong untuk menghadiri ibadah umum dan bertumbuh dalam kesucian.
            Di bawah perhimpunan ini, beroperasi dua kelompok atau sel yang lebih kecil.  Kelompok sel yang pertama adalah pertemuan kelas, yang menyediakan perawatan pastoral bagi semua anggota perhimpunan dan sekaligus sebagai pelaksana disiplin.  Di dalam pertemuan kelas diberikan nasehat, teguran, hiburan dan pengarahan serta persembahan  uang untuk menolong orang miskin.  Kelompok sel yang kedua adalah kumpulan kecil dimana orang dapat saling mencurahkan perasaan dan saling memperbaiki serta mengobati.

V.                Aliran-aliran abad ke-20
Yang terpenting dalam perkembangan teologi pastoral abad ke-20 adalah terjalinnya hubungan antara teologi pastoral dengan psikologi.  Hal ini terjadi sesudah Perang Dunia II dimana pendekatan-pendekatan baru kepada konseling diperkenalkan.  Tokohnya yang sangat berpengaruh adalag Seward Hiltner. 
Menurut Hiltner, teologi pastoral adalah teori teologi yang dihasilkan oleh telaah tentang pekerjaan sang gembala dan gereja ditinjau dari perspektif penggembalaan. Ia menolak pandangan tradisional yang memahami pastoral berhubungan dengan disiplin, penghiburan dan pembangunan jemaat.  Justru isi utama disiplin ini menyangkut penyembuhan, pemeliharaan dan pembimbingan.
            Hiltner tidak hanya mengorganisasikan kembali disiplin dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain teologi, tetapi juga membuat terobosan dalam metode yang dipakainya.  Ia menekankan pentingnya metode studi kasus dimana interpretasi atas kasus harus memperhitungkan bahwa manusia adalah makhluk yang terintegrasi dalam konteks social tertentu. 
            Menurut Hiltner, penyembuhan meliputi pemulihan keutuhan fungsional, suatu kondisi yang karena satu atau lain sebab, telah hilang.  Dalam proses penyembuhan, orang itu harus diperlakukan sebagai manusia utuh dab bahwa jiwa tidak dipisahkan dari dimensi-dimensi hidup lainnya.  Dalam kasus dimana tidak ,mungkin terjadi pemulihan total, maka gembala melaksanakan fungsi pemeliharaan.  Dua situasi dimana pelayanan semacam ini diperlukan, yaitu dalam hal kehilangan anggota keluarga dan ketika menghadapi penyakit yang tidak dapat disembuhkan.   Tujuan pelayanan pemeliharaan adalah menolong orang tersebut menemukan keberanian untuk menghadapi situasinya dan member dia semangat baru.

Teologi penggembalaan Injili
Salah satu tokohnya adalah Eduard Thurneysen.  Dalam bukunya A Theology of Pastoral Care dia berkata bahwa factor eksklusif pemeliharaan pastoral adalah Firman Allah.  Inti teologi pastoral adalah mengkomunikasikan Firman Allah yang terutama dilakukan melalui khotbah.  Dia hanya mengakui satu teknik pemeliharaan pastoral yaitu percakapan.  Walaupun Thurneysen memberi tempat eksklusif padaFirman Allah, ia tidak mengesampingkan psikologi dan psikiatri.  Ia melihat ilmu-ilmu ini sebagai alat bantu yang menolong pemahaman kita tentang manusia. 
            Berbeda dengan Thurnesen, tokoh injili lainnya, Jay Adams menolak bantuan psikologi dan psikiatri dalam konseling Kristen.  Adams berusaha memunculkan kembali apa yang dianggapnya sebagai kerangka alkitabiah bagi pemeliharaan pastoral.  Ia berargumentasi bahwa penyebab utama dari semua persoalan kita adalah dosa.  Semua penderitaan dan duka cita dapat dirunut kembali pada dosa Adam.  Tugas konselor adalah menghadapkan konseli dengan dosanya dan dengan tuntutan-tuntutan Allah dan cara untuk menghasilkan perubahan. 
Metode utama yang ditekankannya adalah metode konfrontasi dalam arti konfrontasi dengan prinsip-prinsip dan praktek alkitabiah.  Metode ini menekankan bahwa manusia harus berani menghadapi tanggung jawabnya atas dosa dan kalau ia berbuat demikian ada harapan bahwa ia dapat berubah karena ia setuju dengan keputusan Allah tentang kehidupannya dan siap untuk mengalami perubahan.  Setelah masalah dikenali dari perspektif alkitab dan tanggung jawab diterima, maka program perubahan dapat dibuat oleh konselor untuk membantu konseli berhenti berkelakuan buruk dan melakukan perilaku yang benar. 
Perubahan yang dihasilkan adalah perubahan yang mendalam,  yang dikerjakan oleh Roh Kudus sebagai pihak utama yang terlibat dalam semua konesling.  Perubahan itu mendalam karena mengubah sikap dan emosi seseorang.






D.  Penutup
            Tinjauan sejarah pelayanan pastoral di atas memperlihatkan bahwa dari waktu ke waktu gereja mengembangkan pelayanan pastoral secara kreatif untuk menolong jemaat agar tetap kudus dan mengalami pertumbuhan secara rohani dalam tantangan dan konteks yang terus berubah.  Clebsch dan Tidball mengingatkan kita bahwa dalam setiap periode, gereja mengalami tantangan yang berbeda yang menuntut gereja untuk mengembangkan pelayanan pastoral yang relevan sesuai dengan jamannya.  Sejarah memperlihatkan bahwa pendekatan penggembalaan yang dilayankan oleh gereja ternyata berbeda-beda dari waktu ke waktu.
Howard Clinebell mengatakan bahwa tujuan dari seluruh penggembalaan dam konseling pastoral adalah untuk membebaskan, memperkuat dan memelihara keutuhan hidup yang berpusat pada Roh.[3]  Untuk mencapai tujuan dalam penggembalaan, maka tugas kita adalah mengenali tantangan dan konteks dimana kita berada sekarang dan memutuskan fungsi pastoral seperti apa yang sebaiknya dijalankan dalam penggembalaan, metode dan bentuk pelayanan seperti apa yang efektif untuk menolong jemaat agar dapat memiliki keutuhan hidup yang berpusat pada Roh yang merupakan tujua dari seluruh penggembalaan.  Sejarah pelayanan pastoral memperlihatkan bahwa kita tidak bisa begitu meneruskan pendekatan-pendekatan yang selama ini telah dilakukan dalam pelayanan pastoral karena mungkin sudah tidak relevan lagi dengan jaman kita. 




Daftar Pustaka
Clebsch, William A dan Charles R., Pastoral Care in Historical Perspective.  New Jersey:  Jason Aronson Inc. 1983

van den End, Th., Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Hiltner, Seward, “Pengantar untuk Teologi Pastoral” dalam Homes, Tjaard G. dan E. Gerrit Singgih, Teologi dan Praksis Pastoral: Antologi Teologi Pastoral. Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Tidball, Derek J.,  Teologi Penggembalaan: Suatu Pengantar. Diterj. oleh: M. Rumkeny.  Malang: Penerbit Gandum Mas, 2002.





[1] Buku ini dijadikan sebagai satu bagian tersendiri dalam buku Teologi dan Praksis Teologi Pastoral: Antologi Teologi Pastoral, ed.: Tjaard G. Homes dan E. Gerrit Singgih yanbg diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dan Penerbit Kanisius Yogyakarta.
[2] Lihat juga Harta dalam Bejana, hal. 30 yang menyatakan bahwa kalau anggota jemaat kedapatan berbuat dosa, ia dikucilkan dari jemaat.  Dan pada abad ke 2 seseorang tidak diberi kesempatan untuk menyesal dan kembali kepangkuan gereja jika melakukan dosa berat (murtad, pembunuhan, berzinah). 
[3] Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral.  Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Yogyakarta: Kanisius, 2002, p. 33.