Sabtu, 17 Mei 2014

Baptisan: Mana yang benar? Percik atau Selam?

Oleh: Calvin Dachi, MAIE, MTh

Pendahuluan
Salah satu permasalahan yang sering diperdebatkan dalam gereja selama bertahun-tahun adalah persoalan baptisan.  Persoalan ini memiliki arti penting dalam kehidupan umat Kristen karena  baptisan adalah salah satu sakramen yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus sehingga kebenaran praktek dan pemahamannya sangat diutamakan oleh umat/jemaat.  Perbedaan praktek dan pemahaman tentang baptisan telah menyebabkan adanya saling tuduh yang pahit di antara umat Kristen dengan saling menuduh orang lain sebagai sesat, bidat dan sebagainya. 
          Dipihak lain, berbagai kepentingan juga mewarnai penjelasan dan perdebatan di kalangan jemaat dan pendeta/gembala.  Salah satu kepentingan yang cukup mencolok adalah kekuatiran bahwa “domba-domba” yang digembalakannya pindah “kandang” orang lain.  Kepentingan lain adalah kepentingan teologis dari para teolog dan pendeta/gembala untuk menghormati para pemimpin rohani gereja di masa lampau dan warisan tradisi/doktrin dan keputusan-keputusan bersejarah dalam gereja.   Penulis berpendapat bahwa alangkah baiknya jika kita berusaha menghindarkan diri dari bias kepentingan denominasi dan mendasarkan pemahaman kita sepenuhnya berdasarkan Alkitab.  Ini jauh lebih konsisten dan sejalan dengan semboyan reformasi Sola Scriptura.

Menginventarisir  Permasalahan
Secara umum, permasalahan baptisan masa kini dapat dirumuskan dalam dua pertanyaan utama:
1.      Cara Baptisan.
Pertanyaan dasar yang sering muncul dalam jemaat adalah cara mana yang benar, dipercik atau selam?  Pertanyaan ini jelas berangkat dari ketidaktahuan atas arti baptisan dan di pihak lain, kata baptisan telah menjadi terminology keagamaan yang dilepaskan dari arti aslinya ketika gereja tidak lagi menggunakan bahasa Yunani.
2.     Siapa yang dibaptis:  Apakah baptisan anak itu sah atau tidak? Berkaitan dengan permasalahan ini, perdebatan yang terjadi umumnya lebih bersifat teologis dan eksegetis.  Argumentasi teologis yang menolak baptisan anak adalah pandangan teologis bahwa yang dibaptis adalah mereka yang percaya, sedangkan argumentasi mereka yang menerima baptisan anak adalah didasarkan pada pandangan bayi juga sudah terhisab dalam perjanjian Allah sebagaimana praktek sunat dalam Perjanjian Lama.


Praktek Baptisan dalam Gereja Purba
Dari penelitiannya atas tulisan-tulisan bapa-bapa gereja, Th van den End mendeskripsikan praktek baptisan di gereja purba pada abad ke 2 M adalah sebagai berikut:

Baptisan dilayankan dalam upacara tersendiri, di luar kebaktian umum.  Sebagai persiapan, calon baptisan harus berpuasa.  Ia menyatakan imannya dengan rumus tertentu (yang kemudian berkembang menjadi pengakuan iman rasuli).  Lalu ia dibaptis, pada umumnya dengan diselamkan (seluruhnya atau sebagian), tetapi kalau air tidak cukup, maka penyiraman juga boleh…. Pada abad ke-2, pembaptisan anak-anak ada, tetapi tidak sering, karena kebanyakan orang Kristen merasa bahwa dengan itu sakramen baptisan dianggap enteng.  Pendapat itu didasari keyakinan bahwa pembaptisan menganugerahkan pengampunan dosa;  kalau setelah dibaptis orang berdosa lagi pengampunan itu harus diperoleh lewat perbuatan penyesalan yang susah, dan dalam hal dosa berat malah sama sekali tidak mungkin memperoleh pengampunan.[1]
Gambaran yang diberikan oleh van den End di atas memberikan beberapa informasi mengenai mengenai praktek baptisan di gereja purba di abad ke 2 M.  Yang pertama, baptisan dilaksanakan dengan cara diselamkan.  Praktek baptisan dengan cara penyiraman hanya dilakukan jika kondisi tidak memungkinkan melakukan penyelaman orang yang dibaptis.  Kedua, pembaptisan anak-anak sudah ada, tetapi tidak sering.  Artinya, sampai abad kedua, umat Kristen pada umumnya melaksanakan baptisan terhadap orang dewasa.  Walaupun sudah ada pembaptisan anak-anak, namun kebanyakan orang Kristen tidak setuju dengan baptisan anak-anak.  Ketidaksetujuan ini mengindikasikan bahwa para rasul kelihatannya tidak pernah melakukan pembaptisan anak-anak sehingga jemaat tidak punya teladan atau pegangan rasuli yang kokoh untuk baptisan anak.  Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, bahwa argumentasi-argumentasi yang membela praktek baptisan anak bukan berasal dari para rasul, melainkan dari bapa-bapa gereja seperti Justinus Martir.

Penggunaan kata Baptis dalam Alkitab
Kata Baptis dalam Alkitab berasal dari kata βάπtω//βάπtιζω yang berarti menyelamkan. 
Dalam penerjemahan Alkitab pada umumnya semua versi terjemahan Alkitab tidak menerjemahkan kata baptis pada ayat-ayat yang mengacu kepada upacara pembabtisan.  Akibatnya terkesan bahwa dalam Alkitab, kata “baptis” hanya dipakai dalam kaitannya dengan upacara baptisan.  Namun anggapan ini keliru.  Sebenarnya dalam Alkitab berbahasa Yunani, kata baptis tidak hanya digunakan untuk menyebut upacara pembaptisan, tetapi juga digunakan dalam menceritakan peristiwa lainnya.  Dalam Alkitab terjemahan, hal ini tidak kelihatan karena kata baptis sudah terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa lainnya ketika Alkitab diterjemahkan.  Marilah kita melihat beberapa contoh penggunaan kata “baptis” dalam Alkitab yang langsung diterjemahkan oleh LAI.

Contoh 1:
Lukas 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Luk 16:24  καὶ αὐτὸς φωνήσας εἶπε· πάτερ ᾿Αβραάμ, ἐλέησόν με καὶ πέμψον Λάζαρον, ἵνα βάψῃ τὸ ἄκρον τοῦ δακτύλου αὐτοῦ ὕδατος καὶ καταψύξῃ τὴν γλῶσσάν μου, ὅτι ὀδυνῶμαι ἐν τῇ φλογὶ ταύτῃ.

Dalam Lukas 16:24, kata mencelupkan adalah terjemahan dari βάψῃ,  yaitu kata kerja subjunctive aorist aktif orang ke 3 tunggal dari βάπtω/.

Contoh 2:
Mark 7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

Mar 7:4  καὶ ἀπὸ ἀγορᾶς, ἐὰν μὴ βαπτίσωνται, οὐκ ἐσθίουσι· καὶ ἄλλα πολλά ἐστιν ἃ παρέλαβον κρατεῖν, βαπτισμοὺς ποτηρίων καὶ ξεστῶν καὶ χαλκίων καὶ κλινῶν·.

Kata "mencuci" dalam Markus 7:4 berasal dari βαπτισμοὺς (kata benda akusatif maskulin jamak dari βαπτισμος), sedangkan “membersihkan dirinya” berasal dari βαπτίσωνται (kata kerja subjunctive aorist middle orang ke3 jamak dari βάπtιζω)


Contoh 3:
Luk 11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.

Luk 11:38  ὁ δὲ Φαρισαῖος ἰδὼν ἐθαύμασεν ὅτι οὐ πρῶτον ἐβαπτίσθη πρὸ τοῦ ἀρίστου.

mencuci tangan adalah terjemahan dari ἐβαπτίσθη adalah kata kerja indikatif aorist pasif orang ke 3 tunggal dari βάπtιζω.

Contoh-contoh yang diberikan di atas memperlihatkan bahwa pada masa Perjanjian Baru, kata baptis (βάptω/, βάπtιζω, βαπτισμοὺς) diterjemahkan dengan arti mencelup, mencuci, membersihkan diri yang kesemuanya merupakan aktifitas dimana seseorang memasukkan benda atau anggota badan atau tubuhnya ke dalam air.  Kata “baptis” pada masa Perjanjian Baru adalah kata yang lazim dipakai dalam percakapan sehari-hari.  Pemakaian kata baptis pada masa Perjanjian Baru dapat dianalogikan dengan cara  kita memakai kata celup atau selam pada zaman sekarang. Sebagai contoh, jika orang Yunani masa Perjanjian Baru bermaksud menerjemahkan kata “teh celup”, mereka akan mengatakan “teh baptis” (tentu dengan tata bahasa yunani).

Disamping itu, dari contoh-contoh di atas, tidak ada kemungkinan sedikitpun bahwa kata “baptis” bisa diartikan dengan percik.  Kata percik dalam bahasa Yunani adalah ραντισμὸς (rantismos, kata benda) atau ραντιζω (rantidso, kata kerja). Di dalam Alkitab kata rantismos atau rantidso ini dipakai di dalam 1 Petrus 1:2; Ibrani 9:13 dan 21.  Bagi pengguna bahasa Yunani pada masa perjanjian baru, tentu sangatlah aneh kalau seseorang mengatakan baptis/selam sedangkan yang dilakukannya adalah memercikkan air (rantidso).

Kesimpulan:
Terlepas dari pro kontra tentang baptisan anak-anak, berdasarkan uraian diatas,penulis berkesimpulan bahwa baptisan yang alkitabiah seharusnya dilakukan dengan cara mencelupkan atau menyelamkan seseorang ke dalam air.  Jika kita mau mempertahankan cara memercikan air kepada seseorang, maka seharusnya namanya bukan “sakramen baptisan”, melainkan” sakramen rantisan”.  Tetapi jika kita mau mempertahankan terminology sakramen baptisan, maka seharusnyalah kita juga mencelupkan/menyelamkan seseorang dalam air sehingga pelaksanaanya sesuai dengan namanya. 

Daftar Pustaka:
End, Th van den, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Klauser, Theodor, Sejarah Singkat Liturgi Barat. Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Moulton, Harold K. (ed.), The Anaytical Greek Lexicon Revised. Grand Rapids: Zondervan Publishing House.

Wenham, J.W., Bahasa Yunani Koine. Diterj. oleh Lynne Newel.  Malang: SAAT, 1987.

Young, Richard A., Intermediate New Testament Greek: A Linguiostic and Exegetical Approach.  Tennessee: Broadman & Holman Publisher, 1994.




[1] Th van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), hal 30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar