Kamis, 29 Januari 2015

MENINJAU ULANG DASAR PEMILIHAN ALLAH:

ANTARA KEDAULATAN DAN KEMAHATAHUAN ALLAH

Oleh: Calvin Dachi

1.  PENDAHULUAN  
Salah satu perdebatan klasik di antara gereja-gereja hasil reformasi adalah tema di seputar predestinasi  (bahasa latin prae-destinatio,  penentuan sebelumnya).  Calvin sendiri mendefinisikan predestinasi sebagai “keputusan Allah yang kekal yang dengannya Ia menetapkan untuk diriNya sendiri, apa yang menurut kehendakNya akan terjadi atas setiap orang” (Inst. III, xxi, 5).  Dalam ajaran tentang predestinasi dijelaskan bahwa orang percaya hanya diselamatkan karena mereka dipilih oleh Allah untuk diberi keselamatan.  Sementara itu dibicarakan juga … bahwa ada orang yang ditolak oleh Allah sehingga mereka tidak diselamatkan.  Jadi predestinasi Calvin mencakup pemilihan (election) maupun penolakan (reprobation).  “Sebab tidak semua orang diciptakan dalam keadaan yang sama; tetapi untuk yang satu ditentukan kehidupan kekal, untuk yang lain hukuman abadi.” (ibid.).[1] 
          Dalam sejarah, kemudian muncul tokoh lain yang bernama Arminius, seorang pendeta gereja Calvinis Belanda yang kemudian menolak doktrin predestinasi versi Calvinism.  Dua aliran besar muncul di sini, yaitu Calvinism dan Arminianism.  Kedua aliran teologi ini sama-sama mengakui adanya penetapan Allah yang memilih orang-orang untuk diselamatkan sebelum dunia dijadikan.    Hal yang membedakan keduanya adalah apakah ketetapan Allah untuk memilih itu berlandaskan semata-mata pada kehendak Allah yang mutlak berdaulat (Calvinisme)  atau juga berlandaskan pada pengetahuanNya sebelumnya mengenai jasa dan iman dalam diri orang yang terpilih (Arminianisme)[2].  Dalam hal ini perlu disadari bahwa Arminianisme tidak menolak kedaulatan Allah, tetapi menyatakan bahwa kedaulatan Allah untuk memilih justru disebabkan oleh pengenalanNya atas orang-orang pilihan.
         
2.  DUA PANDANGAN KLASIK
Untuk mendapat pemahamaan yang lebih baik, berikut penulis membuat deskripsi singkat tentang dua pandangan klasik teologi di seputar permasalahan ini.

A.  Arminianism
Pada abad ke 17, Arminius menentang ajaran Calvin. Para pengikutnya merumuskan Lima Pokok Arminianism (Sinergism)

a. Kehendak Bebas (Free Will)
Sekalipun manusia dipengaruhi secara serius oleh kejatuhan dalam dosa, itu tidak menghilangkan kemampuan rohani manusia secara total.  Masing-masing manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih yang baik atas yang jahat dalam perkara rohani.
b. Pemilihan bersyarat
Pilihan Allah atas pribadi-pribadi tertentu yang diselamatkan adalah terjadi sebelum dunia diciptakan, didasarkan pada pengetahuanNya sebelum respon mereka kepada panggilanNya nanti.  Ia memilih hanya mereka yang Ia tahu akan berespon kepada Injil.
c. Penebusan tidak terbatas
karya penebusan Kristus memungkinkan setiap orang diselamatkan, tetapi tidak menjadi jaminan secara aktual mengenai keselamatan setiap orang.  Sekalipun Kristus mati untuk semua orang dan untuk setiap orang, namun hanya mereka yang percaya kepadaNya akan diselamatkan.
d. Roh Kudus dapat ditolak secara efektif
Roh Kudus memanggil semua orang yang dipanggil oleh undangan Injil. Roh Kudus dapat membawa orang kepada keselamatan.  Tetapi manusia dapat menolak panggilan Roh Kudus. Roh Kudus tidak dapat membuat seseorang lahir baru sampai orang berdosa itu akhirnya percaya. 
e. Murtad
Keselamatan bisa hilang melalui kejatuhan (murtad) karena tidak memelihara iman dan hidup
saleh. 


B.  TULIP versi Calvinisme
Untuk menjawab Arminianisme,  para pengikut merumuskan penolakan mereka atas arminianism dengan pengakuan iman yang tediri dari lima pokok utama  yang secara ringkas disingkat dengan akronim TULIP, yaitu Total Depravity (Ketidakmampuan atau kerusakan total), Unconditional Election (Pemilihan tidak bersyarat), Limited Atonement (Penebusan terbatas), Irresistible Grace or Effacacious Grace (Anugerah yang tidak dapat ditolak), Perseverance of the saints.[3] 
a. Total Deprevity or Inability (Ketidakmampuan atau kerusakan total
Kejatuhan Adam membuat manusia tidak berdaya secara total, bahkan tidak mampu membuat dirinya percaya kepada Injil.  Ia butuh Roh Kudus untuk menolong dirinya untuk datang kepada Kristus.  Dalam hal ini, iman bukanlah sesuatu yang menjadi kontribusi manusia, melainkan iman itu sendiri merupakan bagian dari karunia keselamatan, pemberian Allah atas orang berdosa (Ef 2:8-9)
b. Unconditional Election (Pemilihan Tidak Bersyarat)
Pilihan Allah atas pribadi-pribadi tertentu terjadi sebelum dunia dijadikan dan itu berdasarkan kehendakNya sendiri. Bukan berdasarkan pada tanggapan atau ketaatan yang dilihat jauh sebelumnya, melainkan didasarkan pada Allah.
c.Limited Atonement (Penebusan Terbatas)
Karya penyelamatan Kristu dimaksudkan untuk menyelamatkan orang pilihan saja dan secara aktual merupakan jaminan keselamatan bagi mereka.
d. Irresistible Grace or Efficacious Grace (Anugerah yang tidak dapat Ditolak)
External call, yaitu panggilan Injil, yang dikenal sebagai panggilan umum kepada keselamatan, yang ditujukan kepada semua orang yang mendengar Injil.
Internal call, yaitu panggilan Injil dibuat efektif oleh Roh Kudus kepada orang pilihan Allah sehingga ia dilahirkan baru dan beriman kepada Tuhan Yesus.  Roh Kudus menyebabkan orang pilihan tidak bisa menolak, melainkan past menghasilkan pertobatan.
e. Perseverance of the Saints
Mereka dipelihara oleh Roh Kudus yang memeteraikan mereka sebagai milik sah yang tidak bisa diganggu gugat lagi.  Roh Kudus adalah jaminan keselamatan orang pilihan (Ef 1:12-14; 1 Pet 1:3-6).

ñ Berdasarkan TULIP di atas, maka predestinasi yang dianut oleh Calvinisme adalah predestinasi ganda. Penebusan yang dianut adalah penebusan terbatas.
ñ Keselamatan adalah anugera Allah dan tidak sedikitpun usaha atau peran manusia di dalamnya.
ñ Keselamatan tidak mungkin gagal, karena keselamatan itu dikerjakan dengan sempurna oleh Kristus di kayu salib.  Jadi tidak ada konsep murtad bagi orang pilihan Allah.

          Menurut Millard J. Erikson[4], ada beberapa konsep utama dari teologi Calvinism ini.  Konsep pertama adalah antropologi Calvinism yang berpendapat bahwa manusia telah mengalami ketidakmampuan atau kerusakan toal akibat dosa.  Istilah ketidakmampuan menunjukkan bahwa manusia berdosa tidak mampu berbuat baik atau bertobat dengan kekuatannya sendiri.
          Konsep utama kedua calvinisme adalah kedaulatan Allah.  Allah sebagai pencipta dan Tuhan atas segala sesuatu, dan sebagai akibatnya Allah bebas untuk melakukan apa saja yang dikehendakiNya.  Konsep kedaulatan Allah yang dipadukan dengan ketidakmampuan manusia adalah dasar dari doktrin pemilihan calvinisme. 

C.  Pemilihan Bersyarat (Arminianism) dan Pemilihan Tidak bersyarat (Calvinism)
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa menurut Arminianisme, Pilihan Allah atas pribadi-pribadi tertentu yang diselamatkan adalah terjadi sebelum dunia diciptakan, didasarkan pada pengetahuanNya sebelum respon mereka kepada panggilanNya nanti.  Ia memilih hanya mereka yang Ia tahu akan berespon kepada Injil.  Sedangkan menurut calvinism, pilihan Allah atas pribadi-pribadi tertentu terjadi sebelum dunia dijadikan dan itu berdasarkan kehendakNya sendiri. Bukan berdasarkan pada tanggapan atau ketaatan yang dilihat jauh sebelumnya.  Sehubungan dengan itu, perlu dijernihkan disini bahwa baik calvinism maupun arminianism sama-sama percaya bahwa Allah telah memilih orang-orang tertentu sebelum.  Yang membedakan keduanya adalah dasar pilihan Allah atas orang-orang pilihannya



Calvinism
Arminianism
KESAMAAN
Pilihan Allah terjadi sebelum dunia diciptakan
Pilihan Allah terjadi sebelum dunia diciptakan
PERBEDAAN
Kehendak Allah
Kemahatahuan Allah


D.  Beberapa keberatan reformed/Calvinism terhadap Arminianism

Golongan calvinis berpendapat bahwa pemilihan adalah tindakan Allah yang berdaulat yang dengannya Ia memilih dari antara umat manusia yang berdosa beberapa orang untuk menerima kasih karuniaNya yang  khusus yang mengerjakan keselamatan.  Tindakan ini diambil semata-mata karena Allah senang melakukannya dan sama sekali tidak disebabkan oleh sesuatu jasa  dalam diri orang-orang yang terpilih.[5]  Berdasarkan pendekatan ini, pengetahuan sejak semula itu bukanlah sekedar pengetahuan atas hal-hal yang belum terjadi, tetapi lebih dekat kaitannya dengan tindakan memilih.  Pengetahuannya sejak semula itu adalah sama dengan pilihanNya.  Selanjutnya istilah “tahu” sering kali mengandung pikiran “mengetahui atau mengenal dengan baik sekali”,  “mengenal dan menghargai”,  “mengenal dengan kasih sayang”.  Contohnya:  dalam PL Allah berfirman “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi” (Amos 3:2).  Dalam PB Yohanes menulis “dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya”  (1 Yoh 2:3).
          Argumentasi lain dari Calvinism adalah berdasarkan Roma 9:10-16 yang berkata bahwa Allah telah memilih Yakob  dan bukan Esau, bahkan sebelum mereka lahir dan sebelum mereka berbuat yang baik atau yang jahat.  Menurut Calvinism, nats ini merupakan bukti bahwa pemilihan itu dilakukan sepenuhnya berdasarkan kedaulatan Allah dan bukan kemahatahuan Allah. 


E.  Beberapa keberatan Arminianisme terhadap teologi reformed/calvinism

a.  Keberatan pertama yang kiranya perlu dicatat di sini adalah keberatan dari Arminius sendiri yang mengatakan bahwa pemilihan tak bersyarat dari Calvinism secara tidak langsung menganggap bahwa orang bisa selamat tanpa Kristus.  Hal ini jelas bertentangan dengan pernyataan Alkitab.
b. Thiessen berkata doktrin ini menjadikan pengetahuan sejak semula dan pemilihan benar-benar sama.  Ada yang menegaskan bahwa melihat sesuatu yang belum terjadi hanya berarti mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi sesungguhnya.  Allah sudah tahu sebelumnya bahwa dosa akan memasuki dunia,  tetapi bukan Allah yang menyebabkan dosa masuk, Ia hanya mengizinkannya. 
b.  Lebih lanjut Thiessen mengkritisi calvinisme dengan berkata bahwa bila pemilihan dibatasi oleh Allah, maka pendamaian harus juga dibatasi.  Akan tetapi pandangan ini bertolak belakang dengan banyak ayat Alkitab yang mengajarkan pendamaian tidak terbatas (Yoh 1:29; 3:16;  I Tim 2:6; Ibr 2:9; 1 Yoh 2:2).  Manusia tetap bertanggung jawab bila menolak pendamaian. Keselamatan tersedia bagi semua orang, itu tidak terbatas.  Namun keselamatan tersebut secara efektif dibatasi oleh penolakan manusia.



3.  MENYELIDIKI DASAR BIBLIKA ARMINIANISM

Rumusan permasalahan dalam bagian ini adalah:  Apakah Roma 8:29 bicara tentang Pengetahuan Allah Sebelumnya atau Murni Pemilihan Allah tanpa melibatkan pengetahuan sebelumnya?
Sejak munculnya arminianisme, penganut calvinisme dengan tegas menolak ajaran bahwa pilihan Allah atas orang-orang pilihan didasarkan pada kemahatahuan Allah.  Dengan demikian pertanyaan dasar terhadap keabsahan teologis arminianisme adalah apakah ada dasar Alkitab bahwa pemilihan Allah berdasarkan pengetahuanNya sebelumnya? Umumnya penganut  Arminianism menegaskan bahwa dasar pilihan Allah adalah kemahatahuan Allah dengan mendasarkan diri pada Roma 8:29 dan 1 Petrus 1: 1-2.   Oleh karena itu, pada bagian ini penulis secara khusus membahas tentang Roma 8:29


A.  Memeriksa terjemahan Roma 8:29

Roma 8:29 (TB-LAI)
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia,  Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

Sebelum melanjutkan pembahasan ini, penulis memandang perlu untuk  terlebih dahulu melihat kembali teks aslinya dalam bahasa Yunani.
Roma 8:29
ὅτι οὓς προέγνω, καὶ προώρισε συμμόρφους τῆς εἰκόνος τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ, εἰς τὸ εἶναι αὐτὸν πρωτότοκον ἐν πολλοῖς ἀδελφοῖς

Frasa “semua orang yang dipilihNya dari semula” versi TB-LAI  adalah berasal dari kata προέγνω (proegno).  Kata ini adalah kata kerja indicative aorist active orang ke 3 tunggal dari kata προγινωσκω (proginosko).  Terjemahan harfiahnya seharusnya sebagai berikut
“Sebab orang-orang yang Dia pernah mengenal sebelumnya, juga Dia pernah menentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”  (terj. Penulis)

Salah seorang teolog reform bernama Dave Hagelberg menerjemahkan sbb.:
“Sebab mereka yang dikenal-Nya dari semula,  juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”
Problema penerjemahan yang muncul disini adalah berkaitan dengan kata προέγνω (proegno) (yang berasal dari kata προγινωσκω (proginosko)).  Kata ini sebenarnya dipakai di berbagai ayat dalam PB misalnya dalam 1 Pet 1:20; 2 Pet 3:17 Ro 8:29; 11:2 Ac 26:5.  Namun kata ini telah diterjemahkan dengan tidak konsisten oleh TB-LAI.  Dalam 1 Pet 1:20  TB LAI menerjemahkan προγινωσκω (proginosko) dengan “telah dipilih sebelum”  sedangkan 2 Pet 3:17 telah mengetahui sebelumnya, dan dalam Kis 26:5 diterj. mengenal.  Penulis menyadari bahwa pembaca Alkitab berbahasa Indonesia sudah sangat terbiasa dengan terjemahan TB-LAI.  Sayangnya ada beberapa bagian dari teks Alkitab versi TB-LAI yang kelihatannya sangat dipengaruhi oleh dogma yang dianut oleh para pakar TB-LAI.   Salah satu di antaranya adalah penerjemahan kata προγινωσκω (proginosko) yang akan penulis bahas lebih lanjut di bawah ini.


B.  Penafsiran atas Roma 8:29
Penafsiran Roma 8:29 cukup sengit di kalangan reformed dan arminianism.  Ada perdebatan antara teolog-teolog Calvinism dengan teolog arminianism dan teolog biblika.  Dalam penafsiran mengenai Roma, Dave Hagelberg secara khusus membuat catatan kaki mengenai kata προγινωσκω (proginosko).  Dia mengatakan bahwa secara harfiah proginosko, berarti “mengenal  sebelumnya”.  Perlu dimengerti bahwa dalam bahasa Ibrani dan Yunani istilah “mengenal” dapat mempunyai arti yang jauh lebih dalam.  Lihat, misalnya, Kejadian 18:19, Yeremia 1:5; Amos 3:2, di mana istilah “mengenal” berarti “memilih”  (Cranfield, hal  431).  Itulah sebabnya LAI menerjemahkannya, “dipilih-Nya dari semula …”.  Cranfield mengerti bahwa awalan pro dipakai karena pilihan Allah terjadi sebelum dunia diciptakan, sesuai dengan Efesus 1:4 dan 2 Timotius 1:9.  Kata ini hanya dipakai dalam Kisah Para Rasul 26:5; Roma 8:29; 11:2; 1 Petrus 1:20; 2 Petrus 3:17.  Kata benda prognosis hanya dipakai dalam Kisah Para Rasul 2:23 dan 1 Petrus 1:2.[6]
          Penjelasan Hagelberg ini dengan mengatakan bahwa istilah “mengenal” berarti “memilih” dengan alasan bahwa dalam bahasa Ibrani dan Yunani istilah “mengenal” dapat mempunyai arti yang jauh lebih dalam.  Berdasarkan argumentasi ini kemudian Hagelberg mengatakan dalam tafsirannya:
“Dua ayat ini, Roma 8:29-30, memggambarkan sebuah rantai yang terdiri dari lima mata rantai.  Mata rantai yang pertama menceritakan semua orang yang dikenal dari semula.  Paulus tidak berkata bahwa oleh karena Allah mengetahui segala sesuatu mengenai apa yang akan kita lakukan, maka ia menentukan kita untuk menjadi anak-anak-Nya.  Istilah mengenal dalam Alkitab sering kali berarti “memilih”.  Sebelum kita melakukan apa-apa Ia sudah memilih kita, karena kasih karunia-Nya.[7]
Menanggapi tafsiran Hagelberg, penulis berpendapat bahwa kita perlu menyelidiki sejauhmana argumentasi Hagelberg ini dapat diterima.  Untuk itu ada beberapa pertimbangan:
1.     Baik dalam bahasa Yunani maupun bahasa ibrani ada istilah khusus untuk memilih.  Jika yang dimaksud oleh Paulus adalah memilih tanpa ada kaitannya dengan pengetahuan atau pengenalan Allah sebelumnya,  Paulus bisa memakai kata εκλεγομαι.  Kata ini dipakai misalnya dalam  Mark 13:20; Luk 9:35; 10:42; Yoh 15:16; Kis15:22, 25; Ef 1:4; Yak 2:5.  Tapi ternyata Paulus tidak menggunakan kata εκλεγομαι ini.
2.     Demikian juga dalam PL, bahasa Ibrani memiliki kosa kata yang berbeda antara “mengenal” dan“memilih”.  Kata memilih dalam bahasa Ibrani adalah בחר (bakhar).  Sedangkan kata mengenal atau mengetahui dalam bahasa Ibrani adalah ידע (yada).  Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan untuk Yeremia 1:5 dan Amos 3:2.  Jika kata mengenal berarti memilih tanpa adanya hubungan dengan pengetahuan Allah sebelumnya, mengapa penulis Yeremia dan Amos tidak memakai kata בחר (bakhar)?  
Oleh karena itu penulis akan menelusuri kembali makna kata ini, baik dalam bahasa Yunani maupun dalam bahasa Ibrani.

C.  Pemakaian Yada[8]
Dalam Theological Dictionary of the Old Testament (TDOT)  Vol V dijelaskan bahwa ternyata dalam PL pengenalan Allah berkaitan dengan berbagai aspek.  Dalam Am 3:2 ditemukan bahwa yada (mengenal) merupakan ungkapan untuk hubungan khusus antara Yahweh dengan Israel atau untuk membuat pemilihan.  Berdasarkan penjelasan TDOT, penulis berpendapat bahwa pandangan Hagelberg dan Calvinism pada umumnya bahwa sama sekali tidak ada unsur pengetahuan/penganalan dalam pemilihan Allah sama sekali tidak bisa dipertahankan.  Bunyi Amos 3:2 “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”  Pengenalan Yahweh ditegaskan dengan anak kalimat “sebab itu Aku akan menghukum kamu”.  Jadi  TDOT memperlihatkan Unsur pengetahuan Allah dalam istilah yada/mengenal sama sekali tidak hilang dalam pemilihan yang dilakukan oleh Allah tetapi menyertai tindakan pemilihan tersebut. 
Lebih jauh TDOT juga menjelaskan bahwa Dalam Kel 33:12, 17 Yahweh berkata kepada Musa: “Aku mengenal (yada) namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku.”  Dalam hal ini “mengenal namamu parallel dengan mendapat kasih karunia.”  Berdasarkan penjelasan ini, sekali lagi perlu diingatkan bahwa kata yada (mengenal) tidak lah berubah maknanya menjadi “mendapat kasih karunia”. 
         
          Semua penjelasan di atas membuktikan bahwa memang benar kata yada (mengenal) memiliki makna yang lebih dalam tapi—bukan seperti yang dikatakan penganut Calvinism—kata yada tidak identik dengan pemilihan, melainkan berhubungan dengan pemilihan.


D.  Pemakaian προγινωσκω (proginosko)
         Dalam Theological Dictionary of the New Testament (TDNT) 1, hal  715 dikatakan bahwa kata kerja προγινωσκω (proginosko) beerarti 
"to know in advance," and in the NT it refers to God's foreknowledge as election of his people (Rom 8:29; 11:2) or of Christ (1 Peter 1:20), or to the advance knowledge that believers have by prophecy (2 Peter 3:17). Another possible meaning is "to know before the time of speaking," as in Acts 26:5. The noun is used by the LXX in Jdt 9:6 for God's predeterminative foreknowledge and in Jdt 11:19 for prophetic foreknowledge; Justin uses it similarly in Dialogue with Trypho 92.5 ; 39.2 .[9]
Berdasarkan penjelasan TDNT di atas, terlihat bahwa προγινωσκω (proginosko) secara luas dipergunakan dalam pengertian pengetahuan sebelumnya.  Lebih lanjut TDNT mengatakan bahwa
In the NT προγινωσκέιν ‎is referred to God. His foreknowledge, however, is an election or foreordination of His people (Rom 8:29; 11:2) or Christ (1 Peter 1:20) (γινωσκω ‎, 698; 706).

Walaupun TDNT mengatakan pengetahuan sebelumnya ini adalah sebuah pemilihan atau penentuan sebelumnya,  TDNT sedikitpun tidak menghilangkan adanya unsur pengetahuan Allah sebelumnya dalam pemilihan dan penentuan Allah tersebut.  Sedangkan dalam Exegetical Dictionary of the New Testament dikatakan sbb.:

In the context of the theme “life in the Spirit as a position in hope” (8:18-30), Rom 8:29 emphasizes that the Christian lives in the knowledge that “those whom (God) foreknew he predestined to be conformed to his Son’s image” and that “in everything God works for the good.”  “This ‘knowledge’ includes for Paul a recognition and appropriation …” The same idea occurs in 11:2: God has not rejected Israel forever (v. 2a: his people), since he foreknew them (v. 2b).  That is, he knew Israel from the very beginning and accepted it as his people.[10]

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa dalam konteks tema “hidup dalam Roh sebagai sebuah posisi berpengharapan” (8:18-30), Roma 8:29 menekankan bahwa orang Kristen hidup hidup dalam pengetahuan bahwa “mereka yang Allah kenal sebelumnya dia tetapkan untuk menjadi serupa dengan gambar AnakNya” dan bahwa “dalam segala sesutau Allah bekerja untuk kebaikan.”  Penjelasan ini meneguhkan kembali argumentasi penulis bahwa προγινωσκω (proginosko) tidak dapat diidentikkan dengan pemilihan Allah sebelumnya, tetapi ada keterkaitan yang kuat antara keduanya.  Pemilihan Allah rupanya tetap berhubungan dengan pengetahuan Allah sebelumNya.  Dengan demikian, dalam PB juga kita melihat adanya hubungan antara kemahatahuan Allah dengan pemilihanNya.
          Dengan demikian sampailah penulis pada makna Roma 8:29  “Sebab orang-orang yang Dia pernah mengenal sebelumnya, juga Dia pernah menentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”  (terj. Penulis)  Berdasarkan uraian di atas, tidak ada keraguan sedikitpun bahwa orang-orang yang ditetapkan Allah untuk untuk menjadi serupa dengan gambar Yesus adalah orang-orang yang sudah dikenalNya/diketahuiNya sebelumnya.  Dengan demikian, urut-urutannya adalah sebagai berikut:  Orang-orang yang Allah kenal/ketahui sebelumnya kemudian Allah tetapkan untuk menjadi serupa dengan gambar Yesus.  Sama sekali tidak ada dasar yang kuat untuk menghilangkan unsure pengenalan dan pengetahuan dalam Roma 8:29.


4.  KESIMPULAN
          Dari penyelidikan yang dilakukan di atas, maka tibalah saatnya untuk menjawab pertanyaan Apakah Roma 8:29 bicara tentang pengetahuan Allah sebelumnya atau murni pemilihan Allah tanpa melibatkan pengetahuan sebelumnya?  Dalam penafsiran, alangkah baiknya jika kita mencoba untuk membuka diri kepada teks dan membiarkan teks berbicara kepada kita.  Penulis menyadari bahwa pembaca Alkitab berbahasa Indonesia sudah sangat terbiasa dengan terjemahan TB-LAI tanpa menyadari bahwa penerjemahan juga sering dipengaruhi oleh dogma yang dianut oleh penerjemahnya.  Menelusuri makna sebuah ayat atau kata melalui bahasa aslinya akan sangat membantu kita untuk keluar dari perangkap dogmatis serta memperkaya pemahaman kita akan kebenaran Firman Tuhan.
          Penelusuran arti kata mengenal baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bahasa Yunani di atas memperlihatkan bahwa ternyata ada hubungan antara pengetahuan Allah sebelumnya dengan pemilihan yang dilakukanNya sebelum dunia dijadikan.  Dalam Roma 8:29 kita bisa membaca “Sebab orang-orang yang Dia pernah mengenal sebelumnya, juga Dia pernah menentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya”  memiliki arti bahwa pengetahuan/pengenalan Allah mendahului pemilihan dan ketetapan.  Dalam kekekalan Allah sudah mengetahui manusia ciptaanNya dan memakai pengetahuanNya itu untuk untuk memilih orang-orang pilihanNya.



[1] Christiaan De Jonge, Apa itu Calvinisme?  Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2001, hlm 60.
[2] Millard J. Erickson, Teologi Kristen: Volume Dua.  Malang: Gandum Mas, 2003. Hlm 524.
[3] Stevri I. Lumintang, Theologia dan Misiologia Reformed:  Menuju kepada Pemikiran Reformed & Menjawab Keberatan.  Batu: Departemen Literatur PPII, 2006, hlm 295 - 297
[4] Millard J. Erickson, Teologi Kristen: Volume Tiga.  Malang: Gandum Mas, 2003, hlm. 111-
[5] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 2010,  hal 399-405
[6] Dave Hagelberg, Tafsiran Roma dari Bahasa Yunani, Bandung: Kalam Hidup, 2004. Hlm 163.
[7] Hagelberg, ibid, hlm 164
[8] G. Johannes Botterweck dan Helmer Ringgren, Theological Dictionary of the Old Testament. Vol V.  Grand Rapid, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1986. Hlm 468-469.
[9] Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich (ed.), THEOLOGICAL DICTIONARY of the NEW TESTAMENT.  Translated by Geoffrey W. Bromiley.  Vol I, p 715.
[10]  Horst Balz and Gerhard Schneider (ed.), Exegetical Dictionary of the New Testament, Volume 3. Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1993 Hlm 153

Jumat, 12 September 2014

KELOMPOK SEL

KELOMPOK SEL:  
DASAR TEOLOGI DAN SEJARAH KELOMPOK SEL
Oleh: Calvin Dachi, MAIE., MTh


BAB I
DASAR TEOLOGI PELAYANAN KELOMPOK SEL

Pelayanan kelompok sell sangat erat terkait dengan teologi gereja. Untuk memahami pelayanan yang berdasarkan kelompok sel, kita perlu memahami apa itu gereja dan apa yang gereja lakukan

A. Apa itu Gereja?
Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan jemaatNya (Mat 16:18) Selama berabad-abad Kristus telah memenuhi janji itu. Untuk lebih memahami dengan baik apa itu gereja Kristus, kita akan meninjau gambaran alkitab dan berbagai definisi gereja dalam sejarah.

1. Pandangan Alkitab
Untuk memahami Perjanjian Baru, kita perlu pertama menyelidiki latar belakang PL-nya. Ada dua kata penting dalam bahasa Ibrani: qahal dab edah. Kata edah secara tetap digunakan untuk menunjuk kepada jemaat Israel yang berkumpul secara keseluruhan. Namun demikian, dasar bagi konsep PB tentang gereja adalah qahal. Kata qahal menunjuk kepada panggilan dari sebuah pertemuan/kumpulan maupun tindakan untuk berkumpul/bertemu. Jadi konsep kuncinya adalah perkumpulan. Tetapi eddah adalah istilah umum untuk pertemuan upacara kemasyarakatan secara keseluruhan, sedangkan qahal adalah ungkapan tentang pertemuan/perkumpulan yang dihasilkan dari perjanjian. Hal ini akan semakin jelas jika kita melihat bagaimana Septuaginta menterjemahkan kata Ibrani tersebut.

Kata ekklesia, yang adalah kata yang umum untuk gereja dalam PB, hanya digunakan untuk menerjemahkan qahal dan bukan edah. Ini adalah konsep perkumpulan dari umat perjanjian Allah yang diungkapkan dengan qahal dalam PL. Inilah pengertian dasar dari kata ekklesia dalam PB. Kemudian David Watson memberikan penjelasan tambahan mengenai makna yang terkandung dalam ekklesia dengan menekankan bahwa kata ini berarti sebuah komunitas yang “dipanggil keluar” (kekudusan), sebuah comunitas yang “dipanggil untuk” maksud Allah, sebuah comunitas yang “dipanggil bersama-sama” dalam kesatuan dan sebuah komunitas yang “dipanggil untuk” mewarisi masa depan.

Dalam PB, ekklesia ini dipakai untuk berbagai lingkungan. Misalnya, Paulus, Yohannes dan Lukas menggunakan istilah untuk perkumpulan orang-orang percaya dalam kota tertentu (1 Kor 1:2, Why 1-3; Kis 5:11. Kata ini juga ditujukan untuk semua orang percaya di kota tertentu (Kis 8:1; 31:1). Dan kata ini jug adigunakan untuk menyebut gereja-gereja dalam rumah-rumah (Rom 16:1; 1 Kor 16:19; Kol 4:15).

2. Cara Alkitab menyebut Gereja
a. Umat Allah
 Gereja dibentuk dari umat yang dipilih oleh Allah ( 2 Kor 6:16). KOnsep PB ini berakar secara mendalam dalam PL. Israel sering disebut sebagai umat Allah. Motif Umat Allah ini sangat relevan untuk gereja berbasiskan sel karena ketika pendiri-pendiri gereja mula-mula berbicara tentang gereja, ekklesia, yang mereka maksudkan adalah komunitas kumpulan orang-orang percaya, bukan bangunan-bangunan. Perlu diingat bahwa pada awal berdirinya gereja belum ada gedung-gedung gereja hingga abad kedu atau abad ke tiga. Ini dibuktikan oleh penelitian para ahli arkeologi yang tidak menemukan gedung-gedung gereja pada tahun 150 M.

 Ini bukan berarti bahwa orang pecaya mula-mula tidak berkumpul di Bait Allah (Kis 2:46; 5:20, 25, 42). Namun demikian, harus diperhatikan bahwa gereja purba bertumbuh dalam pemahaman diri sebagai umat Allah yang berkumpul di rumah (Kis 2:46; 5:42).

b. Tubuh Kristus
Gereja digambarkan sebagai Tubuh Kristus (1 Kor 12:27) dimana Kristus adalah kepala dari tubuh ( 1 Kor 1:18; 2:9-10). Dia telah memilih anggota-anggota tubuhnya dan setiap anggota sama pentingnya (1 Kor 12:12-26). Namun yang ditekankan disini bukanlah perbedaan-perbedaannya, melainkan kesatuan dari semua orang percaya.
 Dalam tiga nats utama (Ef 4, Roma 12; 1 Kor 12-14), Paulus menjelaskan bahawa setiap anggota berperan sesuai dengan karunia-karunia terkait. Jadi, ketika Paulus berbicara tentang tubuh Kristus, dia sedang membicarakan tentang bagaimana orang-orang percaya menjalankan karunia-karunia rohani mereka.
 Bagaimana setiap orang dapat berpartisipasi? Dengan sehati (Kis 2:46a), memecah-mecahkan roti di rumah-rumah mereka dan makan bersama dengan gembiran dan tulus hati (Kis 2:46b). Paulus mengajar jemaat tidak hanya di muka umum, tetapi juga dari rumah ke rumah (Kis 20:20). Sehubungan dengan pemahaman ini, para ahli umumnya sepakat bahwa tempat yang memungkinkan untuk menjalankan karunia-karunia rohani adalah dalam kelompok kecil. Sangat sulit terjadi partisipasi penuh anggota dalam gereja yang yang besar. DAlam PB, umat Alah bergerak dari rumah ke rumah dalam kelompok-kelompok kecil.
 Motif Tubuh Kristus dengan demikian menuntut tidak hanya menjalankan karunia-karunia rohani, tetapi juga mengakui setiap anggota tubuh dan peka dengan kebtuhan-kebutuhan mereka.

c. Keluarga Allah
Gereja sebagai umat Allah sangat berkaitan dengan pemahaman bahaw agereja adalah keluarga Allah (Ef 2:14-15). Allah adalah Bapa Surgawi kita dan kita adalah umat pilihan Allah, dimasukkan ke dalam keluargaNya, gereja. Kita seharusnya melihat satu sma lain sebagai anggota keluarga Allah, memanggil satu dengan yang lain sebagai saudara atau saudari. Kenyataannya, idea ini telah masuk ke dalam kekristenan melalui gereja-gereja rumah. Rumahtangga sebagai sebuah komunitas…membentuk unit terkecil dan dasar dari jemaat yang ada. Gereja-gereja rumah disebut dalam PB (Kis 11:14; 16:15, 31, 34; 18:8; 1 Kor. 1:16; Flp. 2; 1 Tim. 1:16; 4:19) dan tidak ada keraguan untuk menggunakan rumah-rumah sebagai tempat ibadah,. Injil dikhotbahkan di rumah-rumah (Kis. 5:42; 20:20), dan Perjamuan Tuhan dirayakan di dalamnya (Kis 2:46)

B. Ciri-ciri Gereja
Secara tradisional gereja dicirikan dengan sifatnya yang satu, kudus, Am dan Gereja yang Rasuli. Tanpa mengabaikan keempat cirri gereja tersebut, tokoh-tokoh reformasi gereja menekankan pentingnya Pembritaan Firman dari Alkitab dan pelayanan sakramen. Melalui pemberitaan firman, diharapkan gereja kembali dimurnikan.
 Kaum injili juga memegang doktrin yang tinggi tentang gereja, mis.: dengan mengatakan bahwa gereja terdiri dari orang-orang yang sungguh-sungguh bertobat, percaya dengan benar, dibaptis dengan benar, dipersatukan dengan Allah di surga, dan disatukan dalam persekutuan orang kudus di bumi.

1. Kelompok-Kelompok sel dan Ciri-ciri Gereja
Dapatkah sebuah kelompok sel diakui sebagai gereja Yesus Kristus? Banyak pendukung model sel menyatakan bahwa gereja yang benar mengambiol tempat dalam sel. Memang benar bahwa Firman Tuhan diperitakan dalam kelompok-kelompok sel, dan ada juga yang melayankan sakramen-sakramen dalam kelompok sel. Tetapi sebagian besar kelompok sel tidak mengijinkan Perjamuan Tuhan dilayankan dalam kelompok sel.
 Di samping itu, hamper semua pemimpin kelompok sel tidak dipanggil atau tidak diperlengkapi menjadi gembala atau pengajar full-time. Mereka tidak diharapkan untuk mengambil tanggung jawab penuh, tetapi berada di bawah gembala. Fokus pemimpin kelompok sell lebih pada memimpin proses komunikasi, mendoakan anggota-anggota sel, kunjungan dan menjangkau yang hilang untuk Kristus.

2. Kelompok Sel sebagai Lengan dari Gereja
 Karena beberapa kekurang dari ciri gereja dalam kelompok sel, maka sebagian ahli melihat kelompok sel sebagai perpanjangan tangan dari gereja yang benar, sebuah instrument di tangan Allah yang memampukan anggota-anggotanya mengalami kepenuhan gereja Kristus.


C. Gereja: Apa yang dilakukannya
Untuk memahami gereja, tidak cukup hanya menyelidiki ciri-cirinya, tetapi kita juga perlu juga memahami fungsinya.
Understanding the church of Jesus Christ requires not only reflection on its nature but also its functions.

1. Ikut serta dalam Pemuridan
Analisis atas Matius 28:18-20 memperlihatkan adanya empat kata kerja dasar, tetapi hanya satu yang merupakan perintah langsung yaitu “mejadikan murid”. Apa artinya jadikan murid? Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kesempurnaan rohani orang-orang Kristen, sedangkan yang lain memahaminya dalam bingkai penginjilan. Kenyataannya, gereja harus melakukan keduanya.

a. Sifat Evangelistis Pemuridan
Ketika murid-murid menerima amanat terakhir Yesus, mereka hanyalah sejumlah kecil orang-orang percaya. Karena itu, sangat perlu untuk menafsirkan perintah Yesus untuk memuridkan sebagai panggilan untuk Pemginjilan. Kita tahu bahwa bagian utama dari penginjilan dalam gereja mula-mula dilaksanakan melalui gereja rumah. Kefektifan dari penginjilan ini berhubungan dengan gaya hidup mereka yang bertemu dalam gereja-gereja rumah maupun penjangkauan yang agresif.

b. Penginjilan Gaya Hidup
 Yesus mengatakan dalam Yoh 17:23 “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Jadi menurut Yesus, gereja akan memenangkan dunia dengan mendemonstrasikan kesatuan (unity) dan kasih satu sama lain. Dengan cara ini, dunia akan percaya (Yoh 17:21). Ini adalah prinsip yang diajarkan Tuhan Yesus.
Penginjilan “gaya hidup” dalam kelompok kecil ini sering terjadi melalui persahabatan. Biasanya, seorang non-Kristen sering enggan untuk langsung masuk ke gereja. Tetapi akan lebih mudah bagi mereka untuk berpartisipasi ter;ebih dahulu dalam senuah kelompok sel dalam sebuah rumah yang penuh kehangatan.

c. Penginjilan yang Proaktif
 Sekalipun orang-orang yang bukan Kristen akan tertarik dengan gaya hidup anggota-anggota sel, Kelompok Sel harus dengan sengaja merencanakan untuk menjangkau mereka. Alkitab mengatakan bahwa dunia ini sudah hilang dan diambang kebinasaan kekal (Yoh. 3:36; 2 Tes 1:7-9; 1:16; Yudas 23). Dalam perumpamaan perjamuan kawin, raja memerintahkan “pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” (Mat 22:9)


2. Penekanan yang sempurna atas pemuridan
Perintah Kristus untuk memuridkan segala bangsa melibatkan juga “kesempurnaan orang-orang kudus”. Kristus melakukan ini dengan menambahkan kata-kata berikut “…dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:20) Allah memberikan pemimpin-pemimpin yang penuh karunia rohani untuk gereja “…untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:12-13).

Sebagai sebuah instrument dari gereja, pelayanan kelompok sel dapat memainkan peranan penting dalam proses pemuridan melalui pemeliharaan atas para petobat, membantu proses pengudusan, dan menyediakan persekutuan bagi orang-orang percaya.

a. Pemeliharaan para Petobat
Pelayanan kelompok sel adalah alat yang penting untuk pemeliharaan rohani perorangan. Gereja-gereja sel di dunia memelihara petobat-petobat baru melalui pelayanan sel. Biasanya pemeliharaan para petobat ini dilaksanakan dengan cara: pertama, memimpin petobat baru ke sebuah kelompok sel sesuai dengan tempat tingla mereka, usia atau status mereka; kedua, menghubungi petobat baru melalui pertemuan dengan seorang anggota sel; dan ketiga, menugaskan seseorang untuk menolong petobat baru itu untuk teguh dala mima kristennya.

b. Proses Pengudusan
Paulus mengatakan bahwa Allah dalam kedaulatanNya telah memanggil kita “…untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya…” (Roma 8:29). Menjadi seperti Yesus harus seumur hidup dan ini secara akurat digambarkan dalm doktrin Alkitab tentang pengudusan. Gereja memfasilitasi pengudusan melalui pemberitaan Firman, keterlibatan dalam sakramen dan pelayanan gereja lainnya. Dalam kelompok kecil, proses pengudusan terlaksana melalui penyembahan, nasihat, melayani satu dengan yang lain. Alkitab mengatakan bahwa kita harus memberi dorongan satu kepada yang lain setiap hari supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.

c. Persekutuan orang-orang percaya

Yang sangat menolong orang-orang percaya untuk bertumbuh dan maju secara rohani adalah persekutuan Kristen. Yohanes mengatakan “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yoh 1:7). Yohanes menggunakan kata koinonia yang secara literal berarti “bersama-sama memiliki segala sesuatu.” Yesus adalah dasar bersama bagi persekutuan Kristen, dan dialah yang mengikat orang-orang Kristen bersama. Dan sama seperti pengudusan, persekutuan orang-orang percaya yang sesungguhnya terjadi dalam konteks kelompok yang kecil.
3. Partisipasi dalam Kegiatan Sosial
Ada banyak fungsi gereje Kristus. Selain fungsi pemuridan, Yesus juga memanggil gereja untuk menjangkau masalah-masalah social praktis.

a. Pola Kepedulian social dalam PB
 Kepedulian sosal dalam PB dapat disimpulkan dari perkataan rasul Yohanes “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yoh 3:17-18) Kepedulian social bukan hanya memberi makan orang yang lapar, tetapi juga menghukum ketidakbenaran dan menemukan kebutuhan-kebutuhan jasmani. Yesus kepala gereja adalah teladan kita. Dia menyembuhkan yang sakit dan terluka (Mat. 9:35-38) dan memberi makan orang yang lapar (Mat. 15:29-39). Pada waktu yang sama, Yesus dengan berani mengecam kemunafikan dan penindasan (Mat. 21:12-16; 23:13-36).

b. Kesempatan untuk mengembangkan kepedulian sosial dalam kelompok sel
Gereja seharusnya tetap peduli dengan maslah-masalah sosial. Banyak gereja yang menyediakan dana untuk membantu anggota-anggotanya yang dalam kesulitan. Sayangnya, pertolongan seperti ini sering sangat terbatas penerapannya karena beberapa hal. Pertama, tidak cukup hanya mengetahui bahwa seorang anggota jemaat butuh pertolongan. Tetapi bantuan itu juga harus dinilai oleh pemegang otoritas. Kedua, banyak orang yang sedang dalam kesulitan tidak mau majelis/penatua gereja atau gembalanya mengetahui apa yang dibutuhkannya dalam kesulitan hidupnya. Ketiga, seorang gembala atau penatua untuk tidak selalu bisa memahami kebutuhan seseorang dari sudut pandang yang bersangkutan. Sering permohonan bantuan dinilai secara dangkal saja oleh gereja.
 Berbeda dengan kelompok sel. Setiap orang “mengenal satu sama lain” dan terbuka “mengungkapkan kebutuhan-kebutuhannya.” Kelompok kecil dapat melaksanakan tugas penting untuk menolong orang yang butuh pertolongan. Bukan hanya menolong anggota-anggota sel, tetapi juga dalam menyatakan belas kasihan dengan menolong orang-orang di sekitar yang belum percaya. Harus diakui banyak kelompok sel yang belum sampai ke tahap ini. Tapi jika pemimpim-pemimpin sel didorong untuk menjangkau lingkungan sekitarnya, maka kelompok sel akan dapat menyatakan potensinya yang tidak terbatas untuk menjangkau masayarakat di sekitarnya dan nama Yesus dimuliakan melalui gereja.
4. Menyaksikan Kerajaan Allah
Fungsi ketiga gereja adalah untuk menyaksikan Kerajaan Allah. Kata-kata pertama yang dikatakan Yesus menurut Markus adalah “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mark 1:15). Matius mengulangi pesan ini dalam Mat 24:14 “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Secara teologis, konsdep injil Kerajaan mengandung sekaligus kebenaran mengenai pemuridan dan aksi social secara sangat jelas.
Namun harus diingat bahwa gereja bukanlah Kerajaan dimaksud. Kerajaan jauh Allah lebih besar dari gereja. Bahkan gereja adalah alat dari Kerajaan untuk menyaksikan Kerajaan Allah melalui pensan Injil.

a. Konsep Kerajaan
Banyak yang percaya bahwa tema yang menyatukan Alkitab adalah Kerajaan Allah. Dalam PL dan PB tema ini berulang kali muncul (mis.: Dan. 2:21; 4:24-25; Mt. 13). Makna utama dari Kerajaan adalah pada fakta bahwa Allah akan memerintah. Kerajaan Allah adalah hasil akhir dari pemulihan pemerintahan Ilahi. Ketika Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, yang dimaksud adalah sedang “terwujud” tapi belum sepenuhnya. Kerajaan Allah telah datang dalam pribadi Yesus Kristus, tapi akan sepenuhnya dialami dimasa depan. Hal ini lebih jelas ketika Yesus berkata dalam Matius 12:28 “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

b. Konsep Kerajaan dan Pelayanan Sel
Sebagai instrument dari gereja Kristus, kelompok-kelompok sel harus menyaksikan Kerajaan Allah. Setiap kelompok sel adalah komunitas dari Raja yang hidup yang secara aktif memerintah disini sekarang. Dengan alasan ini, kelompok-kelompok sel seharusnya berharap intervensi kuasa/pemerintahan Allah dalam setiap pertemuan. Setiap saat seseorang dibebaskan dari dosa, disembuhkan dari penyakit, atau dilepasakan dari belenggu Setan. Inilah perwujudan Kerajaan Allah di bumi.
Perwujudannya bukanlah lewat kekerasan, melainkan dengan mewujud kebebasan rohani dan jasmani dalam kehidupan setiap orang, termasuk kabar baik bagi yang miskin, pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas (Luk 4:18)
Akhirnya pesan tentang Kerajaan memberikan harapan besar untuk kelompok sel. Dengan terwujudnya pemerintahan Allah sekarang ini dalam kelompok sel melalui fellowship yang agung dan penyegaran rohani, kelompok itu juga diingatkan pada keagungan yang jauh lebih besar di masa depan. Ini adalah harapan tentang Kerajaan Kristus di masa datang yang akan mendorong kelompok sel untuk terus menjangkau yang terhilang dan tertindas.


BAB II
SEJARAH GERAKAN SEL

A. Kelompok-Kelompok Kecil dalam Alkitab

1. Perjanjian Lama
Ada berbagai konsep dari PL yang menegaskan nilai-nilai utama dari pelayan kelompok kecil. Beberapa penulis mengangkat tema-tema seperti kominitas, hubungan, dan hubungan yang erat dalam mebicarakan tentang kelompok-kelompok kecil
 Sebenarnya, PL sangat sedikit berbicara tentang pelayanan kelompok kecil. Tetapi satu dari cerita PL yang diterapkan secara luas dalam gerakan sel modern adalah Prinsip oragnisasi yang diusulkan oleh Yitro kepada Musa dalam Keluaran 18,

Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" …"Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja... Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

Walaupun Allah memili Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, dia kurang ahli dalam mendelegasikan tugas. Nasihat ini mendasari struktur organisasi yang meneruskan kepemimpinan atas ribuan hingga puluhan orang


2. Perjanjian Baru
 Perjanjian Baru memberikan kepada kita banyak contoh tentang pelayanan kelompok kecil. Kristus sendiri mengumpulkan sebuah kelompok kecil dari antara murid-murid dan gereja mula-mula terutama bertemu di rumah-rumah.

a. Kristus dan Kelompok Kecil
Contoh pertama dari sebuah kelompok kecil adalah kelompok yang Kristus pilih sendiri. Pasti transformasi yang kuat terjadi saat murid-murid berinteraksi dengan Kristus dalam kelompok kecil

b. Gereja Rumah dalam PB
 Sejak awalnya, orang-orang percaya bertemu di rumah-rumah dan bait Allah. Pola ini pertama-tama muncul di Yerusalem sesudah Pentakosta. Kis 2:46 mengatakan “dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, …” Konsep bertemu di rumah dan di depan umum diperkuat oleh Paulus ketika dia berkata dalam Kis 20:20 “sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu”

c. Pentingnya Kelompok-kelompok Kecil dalam Penganiayaan
Di masa awal gereja mula-mula, pertemuan umum dan sel adalah aktivitas sehari-hari. Namun demikian, dalam kaitannya dengan penganiayaan, pertemuan umum berhenti sebagai pengalaman zaherí-hari. Oleh karena penganiayaan, peran jemaat rumah menjadi normatif. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap berbicara tentang gereja local atau pertemuan, baik untuk ibadah maupun persekutuan, pada dasarnya menunjuk kepada gereja yang bertemu di rumah.

d. Hubungan antara Gereja-gereja Rumah
Dalam surat kepada Korintus, Paulus mennyebutkan pada satu ekklesia yang bertemu di rumah Aquila dan Priskila (1 Kor 16:19), tetapi dia juga mengucapkan salam kepada keseluruhan (1 Kor. 1:2; 2 Kor. 1:1). Hal yang sama juga berlaku pada gereja di Tesalonika dan di Roma (1 Tes. 1:1; 2 Tes. 1:1; Rom. 16:23). Semuanya ini menunjukkan bahwa ada hubungan di antara mereka.
 Ada juga pendapat bahwa kelompok-kelompok di rumah bergabung untuk merayakan peristiwa khusus. Perjamuan Kasih dalam 1 Korintus 11 dan kunjungan Paulus ke Troas dalam Kis 20:6-12 adalah contoh perayaan iabadah gabungan. Gereja-gereja rumah ini rupanya menjadi persekuatuan dalam lingkaran yang lebih kecil di dalam persekutuan yang lebih besar dari ekklesia kota.


B. Kelompok-kelompok Kecil dalam Sejarah Kristen awal

Ada dua perkembangan sejarah yang menghamabt aktivitas kelompok kecil sebelum reformasi. Pertama, munculnya pembedaan antara pendeta/Pastor dan awam yang menghalangi partisipasi kaum awam dan kedua, pengesahan agama Kristen oleh kekaisaran Roma yang menghilangkan kebutuhan pertemuan-pertemuan di rumah.

1. Pemisahan antara Pendeta/Pastor dan Awam
Ada berbagai faktor yang menyebabkan timbulnya pemisahan antara kaum pendeta/pastor dengan awam. Pemisahan ini menjadi semakin penting karena gereja juga menghadapi berbagai ajaran yang menyimpang. Akibatnya, spontanitas yang pernah hadir dalam gereja rumah mulai dikontrol oleh bishop-bishop yang dipilih. Demikianlah, pada abad ke-3 jabatan gerejawi semakin berkembang, dan para bishop semakin berkuasa. Perkataan mereka dihormati dan sebagian besar ditaati.

2. Pengesahan Agama Kristen
Ketika agama Kristen menjadi agama Negara selama masa Konstatinus Agung, tempat-tempat suci semakain lebih dihormati dari pada persekutuan dalam rumah. Orang Kristen sekarang dapat beribadah di tempat-tempat umum. Perubahan ini akhirnya mempengaruhi kelanjutan gereja rumah secara negative. Gedung-gedung gereja kemudian mulai menggantikan rumah.

3. Kelompok-kelompok Kecil di antara Pendeta/Pastor
 Setelah golong rohaniawan dan awam terpisah, dikalangan pastor ada yang menerapkan kelompok-kelompok kecil dalam struktur resmi gereja. Seorang diantaranya adalah Ambrosius, seorang Bishop dari Milan (339-397) yang terlibat dalam kelompok-kelompok kecil bersama pastor-pastor lainnya. Rupanya ini kemudian menjadi pola yang umum dimana kehidupan dan kekuatan rohani gereja ditentukan oleh kelompok-kelompok kecil para rohaniawan yang berkumpul di sebuah Katedral dan bishopnya atau atau dalam kelompok kecil rahib yang berkumpul di sekitar pemimpinnya yang kuat dan berpengaruh. Namun harus diingat bahwa kelompok kecil ini tidak melibatkan kaum awam.

4. Kelompok-kelompok Kecil dan Kehidupan Biara
 Banyak orang-orang percaya merasa bahwa gereja kehilangan visi dan tunduk pada keduaniawian zaman itu. Sebagai reaksi ketidak puasan itu, muncullah kehidupan membiara dengan kelompok-kelompok kecil dari kaum awam yang mengejar kekudusan hidup. Walaupun ini dalam derajad tertentu adalah sebuah pentuk penolakan terhadap gereja Katolik, tetapi mereka ditempatkan di bawah bishop dan pastor. Pada akhir abad ke 5, kelompok-kelompok hidup membiara ini bertumbuh subur di mana-mana dan menjadi salah satu kekuatan utama gereja Katolik.

5. Kelompok-Kelompok Penginjil dalam Biara
 Di Irlandia, kehidupan membiara berkembang dalam semangat penginjilan yang kuat. Di sana gereja diatur disekitar biara. Para rahib sering pindah ke negara lain dan dengan giat menyebarkan iman Kristen dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil yang disebut team penginjilan. Team penginjilan ini mungkin mulai di Kolumbia tahun 563. Sukses yang mereka peroleh kemudian mendorong mereka untuk melanjutkan ke berbagai tempat. Gelombang dari team-team penginjilan ini ke seluruh benua. Komunitas rahib yang terdiri dari 10 hingga 12 orang ditempatkan di daerah non-Kristen Eropa dan mendirikan gereja di sana. Mereka akan berkhotbah sampai sejumlah orang bertobat, dan kemudian mereka akan mengajar para petobat baru. Jika mereka sudah berhasil mendirikan gereja, maka mereka akan pergi ke bagian lain di Eropa karena tujuan mereka adalah membangun komunitas biara di seluruh daratan.

C. Kelompok-Kelompok Kecil di Masa Reformasi

1. Gerakan Anabaptis
Hampir semua ajaran Anabaptis mengikuti ajaran Luther tentang pembenaran oleh iman, kewibawaan Alkitab dan imamat orang-orang percaya. Namun Anabaptis percaya bahwa Luther dan tokoh-tokoh reformasi lainnya belum cukup membaharui gereja. Mereka percaya bahwa hanya baptisan orang yang sudah percaya yang benar dan merekalah yang termasuk dalam gereja lokal.
 Sejak tahun 1522, mereka yang bergabung dengan Anabaptis cenderung berkumpul di rumah-rumah. Pertemuan-pertemuan ini meluas dalam gelombang dari kelompok-kelompok awam membaca Alkitab. Mereka berkumpul untuk memperkuat iman dan menyebarkan semanagat kekristenan. Alasan utama kelompok Anabaptis bertemu di rumah-rumah adalah untuk menegaskan kepercayaan mereka bahwa gereja Kristus adalah kumpulan dari orang-orang percaya yang berkomitmen.


2. Luther dan Kelompok-kelompok Kecil
Sikap Luther terhadap pelayan kelompok kecil berubah berkaitan dengan gerakan Anabaptis.
Pada awalnya, Luther menaruh perhatian atas keimaman semua orang percaya dan menerapkan idea itu dengan menggunakan kelompok-kelompok kecilsebagai bagian dari reformasi gereja. Luther mengatakan “ Mereka yang ingin menjadi orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh mengakui Injil dengan haruslah bertemu di sebuah rumah untuk berdoa, membaca, dan menerima sakramen dan untuk melakukan pelayanan Kristen lainnya… Disini seseorang dapat mempersiapkan pelayanan untuk baptisan dan sakramen dan memusatkan segala sesuatu pada Firman, doa dan kasih …”

Tetapi kemudian Luther mengubah pendapatnya dengan pertimbangan gagasan tentang “orang Kristen yang sejati” akan membawa seseorang kepada kesombongan kurang memahami apa itu Anugerah. Disamping itu, istilah “Kristen yang sungguh-sunguh” akan membuat mereka beranggapan bahwa diri mereka sendirilah gereja yang murni. Luther mentakan jika kita izinan kelompok-kelompok kecil orang Kristen memisahkan diri dari orang Kristen lainnya untuk membaca Firman, membaptis, dan untuk menerima sakramen, maka kita akan mendirikan gereja baru. Luhert percaya bahwa Alkitab tidak mengijinkan untuk memisahkan orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh dari gereja.

D. Kelompok-kelompok Kecil sesudah Reformasi
Ada berbagai gerakan kelompok kecil yang muncul sesudah reformasi. Ada tiga gerakan yang terkenal yaitu Pietism, Moravianisme dan Methdisme.

1. Pietism
Aliran Pietisme (berkeinginan membaharui gereja. Cita-cita mereka dalah agar orang yang menamakan diri orang Kristen benar-benar menghayati imannya dengan cara sbb.:
Pietisme menghendaki orang menyesal karena dosanya dan menghayati pengampunan oleh Allah karena korban Kristus, karena itu mengasihi Kristus dengan hangat.
Mengamalkan imannya dengan rajin membaca Alkitab serta bacaan-bacaan yang bersifat membangun,dengan banyak bergaul dengan orang Kristen sejati.
Memberi kesaksian kepada orang yang belum mengenal Kristus sebagai Juruselamat.
Secara teologi, pietisme/revival pada umumnhya menekankan pada aspek-aspek karya Roh Kudus dalam kehidupan orang Kristen perorangan. Selain itu, dalam kehidupan iman haruslah diperlihatkan bahwa ia sudah bertobat dan menjadi orang Kristen sejati. Corak teologi ini menghasilkan sikap sbb.
Orang Pietis/Revival kurang menghargai lembaga gereja. Terlalu banyak anggota gereja yang “mati”.
Menekankan perasaan hati (kasih yang hangat kepada Kristus, rasa terharu akan dosa, hasrat untuk mengabarkan Injil) sehingga mencurigai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu teologia.
Karena memusatkan perhatian kepada pertobatan perorangan, maka perbaikan masyarakat adalah dengan membangkitkan iman sebanyak mungkin orang, mendekati orang perorang dengan Kabar Keselamatan.

Philip Jacob Spener
Philip Jacob Spener adalah salah seorang tokoh pietism lahir dalam konteks yang kering dan immoral pada tahun 1635. Sebagai seorang pastor Lutheran di Frankfurt, tahun 1666 ia merasa kebutuhan untuk memberi makanan rohani dan meningkatkan kehidupan lebih dalam di tengah-tengah anggota gerejanya. Dia mengumpulkan orang di rumahnya sebuah kelompok untuk memperkuat kehidupan rohani mereka melalui diskusi khotbah minggu, doa, dan pelajaran Alkitab. Gerakan ini menyebar dan kelompok-kelompok itu dikenal dengan sebuatan collegia pietatis.
 Spener percaya bahwa perubahan hanya dapat dilakukan saat orang-orang percay berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk belajar Alkitab, berdoa, menyembah dan bersekutu. Tujuan dari kelompok-kelompok ini adalah pemuridan dan kekudusan.

Ada beberapa ciri utama yang muncul dalam kelompok-kelompok kecil versi Spener, diantaranya adalah sebagai berikut:

Kepemimpinan—Untuk menghindari ajaran yang salah, maka sangat dibutuhkan pemimpin yang memenuhi syarat dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Biasanya yang menjadi pemimpin kelompok adalah seorang pastor atau seorang profesor yang bersedia mengambil tanggung jawab atas kelompok tersbut. Namun demikian, pemimpin tidaklah mendominasi diskusi, melainkan untuk menggerakkan setiap orang yang hadir untuk berpartisipasi.

Partisipasi—sebagai sudah dikatakan di atas, walaupun pemimpin selalu hadir, namun desempatan diberikan kepada setiap orang untuk berpartisipasi. Khotbah minggu dapat dijadikan sebagai titik awal diskusi, tetapi kemudian setiap orang harus mengemukakan pemahamannya. Spener menekankan partisipasi sebagai akibat dari keyakinan teologinya akan keimaman orang-orang percaya.
Keseimbangan antara Sel dan Ibadah Umum—Spener bertujuan untuk menjadikan gereja kebih kudus dan serupa dengan Kristus melalui pelayanan dalam kelompok-kelompok kecil. Pertemuan-pertemuan itu hanya dimaksudkan sebagai tambahan pelayanan ibadah pagi minggu—bukan untuk menggantikannya. Dia juga tidak mengijinkan orang menyebut kelompok-kelompok ini sebagai “gereja yang benar” sehingga terhindarlah konflik doktrin. Spener juga tidak mengijinkan pelaksanaan sakramen pada pertemuan-pertemuan kelompok kecil ini.

Penyebaran Pietism
Walaupun Spener mendapat tantangan, tetapi banyak gereja Lutheran mempraktekkan prinsip kelompok kecil yang diajarkannya. Doktrin Pietisme tersebar luas di seluruh dunia. Nicholas von Zinzendorf, pendiri gereja Moravian, sangat kuat dipengaruhi oleh Pietisme ini. Sedangkan John Wesley dijamah Allah melalui orang-orang Moravia. Bahkan dapat dikatakan bahwa gerakan studi Alkitab berasal dari Pietism ini.


2. Orang-orang Moravia
Gerakan Moravia mulai tahun 1772 ketika sejumlah pengungsi dari Bohemia dan Moravia berlindung kepada Nicholas von Zinzendorf. Zinzendorf adalah seorang yang dididik di Halle yang menganut pietism. Dia sangat mengasihi Yesus dan mempunyai visi untuk menyebarkan Injil sampai ke ujung-ujung bumi. Visinya itu dipenuhi justru oleh para pengungsi yang berlindung kepadanya.
Zinzendorf memahami seluruh dunia sebagai wilayah pelayanannya. Dia sedikitpun tidak tertarik untuk mendirikan sebuah denominasi gereja. Kerinduannya adalh mengirim misionaris ke semua bagian dunia. Tapi karena tidak mungkin memenuhi visinya tanpa sebuah gereja yang terorganisir maka dia menyetujui Gereja Moravia dan menjadi Bishop pertama. Melalui gereja inilah banya misionaris dikirim ke seluruh dunia.
 Saudara-saudara Moravia menawarkan gerakan pembaharuan gereja melalui Toni masyarakat, kelas dan kelompok kecil (band). Sebuah kelompok dibentuk untuk membantu pertumbuhan rohani perseorangan dalam anugerah dan fellowship antara orang yang punya perhatian yang sama dan hubungan yang informal yang menarik satu dengan yang lainnya. Mereka berkumpul untuk berdoa dan diskusi mengenai pengalaman-pengalaman individu.
 Dalam perkembangan lebih lanjut, gereja dibagi dalam kelmpok-kelompok berdasarkan usia, jenis kelamin dan status perkawinan. Setiap kelompok mempunyai pertemuannya sendiri dan kelompok-kelompok dewasa mempunya rumah-rumah dimana anggota-anggotanya tinggal.

3. Metodism dan Kelompok-kelompok Kecil
John Wesley dipimpin kepada kepastian keselamatan dan hubungan pribadi mendalam dengan Allah sebagai hasil hubungannya dengan orang-orang Moravia. Dia mendapatkan konsep-konsep kelompok kecilnya dari mereka.
 Sejak awal, Allah telah mempersiapkan John Wesley. Ibunya tela meprakarsai pertemuan-pertemuan rumah bertahun-tehun sebelumnya. Ini dimulai dengan waktu ibadah dimana ibunya pimpin bagi anak-anaknya. Kemudian sejumlah tetangga meminta untuk hadir, dan lama relaman kelompok ini bertumbuh hingga lebih 200 orang.
 Wesley percaya bahwa kelompok-kelompok kecil adalah alat Tuhan untuk melakukan perubahan. Dia menyadari bahwa perubahan jangka panjang membutuhkan struktur organisasi yang efektif dan karena itu dia bekerja keras membagung jeringan kelompok kecil yang luas.

Organisasi Kelompok Kecil Wesley adalah sebagai berikut:

a. Kelas
Kelas-kelas pada awalnya dibuat untuk mendapatkan dana dimana setiap anggota kelas diwajibkan memberi satu sen/dolar setiap minggu untuk pelayanan Metodis. Kemudian, tahun 1742, kelas juga menjadi tempat untuk memperbaiki orag-orang Kristen yang telah jatuh.

Kepemimpinan
Keberhasilan sebuah kelas tergantung pada kepemimpinannya. Beberapa prinsip kuncu adalah sebagai berikut:
Para pemimpin ditunjuk (berbeda dengan band/group kecil dimana para pemimpin dipilih)
Perempuan diizinkan menjadi pemimpin awam
Pemilihan pemimpin didasarkan pada moral dan carácter rohani, maupun pengetahuan umumnya.
Kepemimpinan adalah jamak, artinya ada lebih dari satu pemimpin sehingga terjadi sharing kepemimpinnan rohani
Kelompok-kelompok tidak dibentuk kecuali kepeimimpinan yang memadai tersedia.
Pemimpin-pemimpin kelas pada dasarnya adalah gembala.
Kepemimpinan kelas bertemu setiap minggu dengan kepemimpinan lembaga yang lebih tinggi. Mereka mempraktekkan model Yitro.

Kegiatan dalam Kelompok
Pertemuan kelas biasanya berlangsung setu jam. Kelas dimulai dengan lagu pembukaan. Kemudian pemimpin menceritakan pengalaman pribadi rohaninya. Sesudah itu dia akan mulai menyelidiki kehidupan rohani anggota dalam Group itu. Setiap anggota memberi kesaksian mengenai keadaan rohaninya. Sebelum ditutup dengan doa, dikumpulkan persembahan untuk mendukun pelayanan.


Disiplin
Pertemuan-pertemuan kelas membuat setiap anggota Metodis di bawah pengawasan ketat. Tujuan utamanya adalkah disiplin. Laporan-laporan sel diberikan secara teratur. Sebelum seseorang bergabung dengan lembaga Metodis, dia harus berpartisipasi secara aktif terlebih dahulu dalam sebuah kelas.


Penginjilan
Salah satu aspek penting dalam kelas adalah penginjilan. Kelompok-kelompok itu memiliki fungsi penginjilan yang jelas sebagaimana orang bertobat selama pertemuan dan anggota yang telah terjatuh dimampukan untuk membaharui komitmen mereka kepada Kristus.

Multiplikasi
Wesley mendorong terjadinya multiplikasi kelas. Wesley akan berkhotbah dan kemudian mengundang orang untuk bergabung dengan sebuah kelas. Wesley tidak akan memulai sebuah kelas jika dia tidak dapat mengelolanya, dan dia tidak akan berkhotbah jika tidak dapat mendaftarkan orang ke dalam kelas-kelas.


b. Group Kecil (Band)
Group kecil dimulai tahun 1738. Beberapa group kecil akan membentuk kelas. Group-group kecil dibentuk menurut jenis kelamin, usia dan status perkawinan dan biasanya mempunyai sekitar enam orang anggota. Dalam pertemuan group kecil, setiap anggota menanyakan dosa-dosa yang telah dilakukan, pencobaan yang mereka hadapi dan bagaimana mereka bebas dari pencobaan itu.

c. Lembaga-lembaga
Lembaga adalah berkenaan dengan level jemaat. Orang yang tetap berkelakuan sesuai hidup baru, hadir secara teratur dalam pertemuan kelas akan otomatis menjadi anggota jemaat setelah tiga bulan.


Disadur dari:
Joel Comiskey, Cell-based Ministry: A Positive Factor For Church Growth in Latin America, Fuller Theological Seminari, 1997